“Pe-Perkenalkan namaku Megpoid Gumi. Kalian boleh memanggilku Gumi. Yoroshiku.”
Begitulah
awal masa SMA-ku dimulai di kelas X-A. Aku hanya siswi dengan model rambut
pendek dan berkaca mata layaknya seorang kutu buku. Dahulu aku tidak memiliki
teman sama sekali, aku hanya duduk di pojok menghindari suasana keramaian yang
sedikit menggangguku.
Aku
mengambil tempat duduk dua baris dari depan dan dekat dengan jendela, tempat
itulah yang paling ku suka di sekolah. Tempat yang bisa menenangkan hatiku saat
aku bosan dan cukup tenang saat ku mendengarkan musik ketika istirahat dimulai.
“Hai,
kenalkan namaku Kagamine Rin. Panggil saja aku Rin. Kau juga boleh memanggilku
Rin-chan,” sapa siswi berpostur tubuh seperti siswi SMP dan berambut pirang
pendek dengan jepit rambutnya yang menyingkap poninya dan pita putih yang
membuatnya seperti kelinci itu dengan ceria di bangku sebelahku.
“Salam
kenal, Rin-chan,” aku mencoba tersenyum padanya, ia membalas senyumku.
“Santai
saja, Gumi-chan,” ucapnya ceria.
Aku
hanya mengangguk. Pelajaran pun dimulai hingga istirahat. Seperti biasanya, aku
mendengarkan musik yang aku suka, “Reboot”, lagu itu menceritakan tentang
persahabatan tiga orang gadis.
Aku
menyenandungkannya sambil menatap langit di sebelah kananku, tampak di jendela seorang
bayangan siswi dengan model rambut twintail panjang mendekatiku, lalu menepuk
bahuku. Aku sontak menoleh dan melepaskan earphone-ku.
“Halo,
aku Hatsune Miku, yoroshiku. Ano, lagu apa yang sedang kau dengarkan? Kebetulan
sekali aku sangat menyukai musik, lho!” serunya dengan suaranya yang manis dan
imut.
“A-Aku
mendengarkan lagu Reboot karya Jimmy-Thumb P,” jawabku gugup.
“Kebetulan sekali aku juga suka karyanya,” kata Miku.
“Wah,
karya Jimmy-Thumb P! Aku juga suka itu!” sambung Rin yang saat itu baru datang
ke kelasnya dengan ceria.
“Ternyata kita memiliki kesamaan, hehe,” ucap Miku.
Lalu,
dimulailah persahabatan kami. Setiap istirahat dimulai, kami selalu
berbincang-bincang tentang musik yang kami sukai sambil memakan makan siang
kami di kelas. Tidak hanya lagu karya Jimmy-Thumb P, tapi juga karya Yukison,
Last Note, Honeyworks, dan lain-lain.
“Gumi-chan, klub apa yang ingin kau masuki?”
tanya Rin.
“Aku
belum tahu pasti,” jawabku.
“Bagaimana denganmu, Miku-chan?” tanya Rin.
“Aku
ikut klub vokal. Kalau kau sendiri, Rin?”
“Aku ikut
klub drama,” jawab Rin. “Gumi, jangan bilang kau tidak mengikuti klub manapun.”
“Aku
akan ikut klub, kok. Hanya saja, aku akan memikirkannya terlebih dahulu,” balasku.
“Baiklah, kami tunggu jawabanmu!” seru Rin.
Selang
beberapa lama pelajaran pun kembali dimulai. Aku kembali memikirkan klub apa
yang ingin aku ikuti. Apakah aku akan mengikuti klub vokal ataukah klub yang
lainnya? Aku tidak tahu. Aku terlalu pusing untuk memikirkannya. Ku lirik jam
dinding di sebelah kiri papan tulis berulang kali, yang aku inginkan hanya
pulang ke rumah dan memikirkan klub apa yang ingin aku ikuti.
Akhirnya
waktu yang sangat kunantikan datang juga, aku melangkah keluar diiringi Miku yang
hendak bersiap menuju ruang musik untuk mengikuti klub vokal dan Rin yang
bersiap untuk mengikuti klub dramanya.
“Sampai
jumpa besok, Rin, Miku,” pamitku.
“Sampai
jumpa besok, Gumi,” balas mereka bersamaan.
Aku
menghela nafas lega sambil berjalan menyusuri koridor sekolahku.
“Brak!”
Tiba-tiba
saja, aku tersandung oleh sesuatu yang berbentuk silinder, sehingga membuat
kacamataku lepas dan aku hanya bisa melihat bayang-bayang yang tidak jelas. Aku
meraba-raba lantai di sekitarku berusaha untuk menemukan kacamataku.
Seseorang memakaikanku kacamataku. Aku mengedipkan kedua mataku berulang
kali. Di hadapanku, seorang siswa laki-laki yang kelihatannya dari kelas XI
dengan postur tubuh yang tinggi matanya yang biru gelap bahkan lebih gelap dari
birunya mata Rin dan Miku menatapku. Aku segera menundukkan wajahku dan kulihat
buku-buku dan kertas tugasku bertebaran.
“Maaf
atas kesalahanku karena membuatmu terjatuh,” ucapnya sambil mengambil penanya
yang membuatku terjatuh.
“Ti-Tidak
apa-apa, kok,” balasku dengan gugup.
Aku
mengambil buku-bukuku yang keluar dari tasku akibat terjatuh tadi, sementara,
siswa tersebut membantuku mengumpulkan kertas-kertas tugasku yang bertebaran.
Setelah semua terkumpul, siswa laki-laki tersebut mengulurkan tangannya padaku.
Aku menggenggamnya dan mulai berdiri.
“Te-Terima
kasih, S-Senpai,” ucapku.
“Apakah
kau sedang sakit? Wajahmu mulai memerah,” ucapnya.
“Ah, eh,
aku ti-tidak apa-apa,” ucapku dengan gugup, lalu segera pergi dari sana.
Aku berjalan menuju ke tempat parkir sekolah
dan mengambil sepeda merahku. Aku mengayuh sepedaku menuju rumahku. Terbayang
wajah siswa tadi dalam pikiranku. Aku menggelengkan kepalaku, berusaha
membuatnya menghilang dari otakku.
Sesampainya ku di rumah, aku meletakkan sepedaku di garasi rumahku.
Segera kumasuki rumahku dan kulepaskan sepatuku, lalu aku berlari menaiki
tangga menuju ke kamarku. Kulepaskan seragamku, kemudian menggantungnya di
lemariku, lalu ku pakai kaus oranye dan rok hijau selututku. Setelah itu, ku baringkan
tubuhku di atas kasurku yang nyaman ini dan kupejamkan mataku untuk sesaat.
Aku
kembali membuka mataku dan bangkit menuju meja belajarku. Kuambil kertas
pengambilan klub di dalam tasku. Untuk sejenak, aku menatap lembaran kertas
itu. Mungkin aku akan mengikuti klub melukis saja. Sudah lama sekali aku tidak
melukis, mungkin Gumiya-nii bisa membantuku. Ku tulis keputusanku di lembaran
itu.
“Brumm!”
terdengar suara truk berhenti, sepertinya ada yang pindah ke rumah kosong di
sebelah rumahku.
Ku buka
jendela kamarku dan ku lihat siapa yang pindah ke rumah itu. Aku terkejut
melihat seorang laki-laki yang berdiri di depan rumah tersebut sambil membawa
barang-barangnya. Laki-laki itu yang baru saja kutemui di sekolah.
Laki-laki itu tiba-tiba menoleh ke arahku dan tersenyum. Jantung
berdetak dengan cepat melihatnya, lalu sesegera mungkin aku menutup jendela
kamarku. Aku tidak percaya dia akan tinggal tepat di sebelah rumahku. Ku tutupi
wajahku dengan Mayu.
Mayu
adalah boneka kelinci coklat kesukaanku dengan telinga yang besar dan memiliki
lubang berbetntuk hati di bagian ujungnya, matanya berupa kancing berwarna
merah, dan ia memakai topi berwarna perak. Mayu juga memiliki resleting besar
di perutnya dan ia juga memakai brenda hitam di lehernya dan brenda putih yang
menghiasi resletingnya.
“Gumi!” panggil okasan dari bawah.
“Iya.
Ada apa, Okasan?” sahutku dari dalam kamar.
“Tolong
bantu okasan membuat kue untuk tetangga baru kita!” perintah okasan.
Sesegera
mungkin aku keluar dari kamarku dan turun menuju ke dapur untuk membantu
okasan. Aku tidak menyangka akan membuatkan kue untuk laki-laki itu. Entah
kenapa, aku merasa senang sekaligus malu melakukan ini.
“Gumi,
kamu aduk adonannya, sementara okasan yang akan memanggangnya,” ucap okasan
padaku.
Aku
menuruti perkataan okasan. Ku aduk adonan yang sudah disiapkan okasan itu
dengan mixer. Terbesit kembali senyuman laki-laki itu. Mengapa wajahnya terus
terbayang dalam pikiranku? Apakah aku sedang jatuh cinta? Ah, pastinya tidak
mungkin!
“Gumi!”
panggil okasan.
Sontak
aku tersadar dari lamunanku dan mendapati pakaianku dan meja dapur penuh dengan
adonan. Sesegera mungkin aku mematikan mixer-nya.
“Ah,
gomen ne, Okasan!” seruku sambil membersihkan meja dapur yang kotor akibat
ulahku itu.
“Apa
yang sedang kamu pikirkan, Gumi?” tanya okasan.
“Ti-Tidak ada,” jawabku gugup sembari tetap membersihkan.
“Ya
sudah. Okasan saja yang mengaduk, kamu yang mencetaknya saja,” ucap okasan.
Aku
mengangguk, lalu aku duduk menunggu di kursi meja makan. Gumiya-nii datang dan
duduk di sebelahku. Kebetulan sekali aku ingin mengajak kakak laki-lakiku yang
selisih setahun dariku ini melukis bersama sekaligus mengetes kembali kemampuan
melukisku.
“Nee,
Gumiya-nii, mau melukis bersama nanti malam?” ajakku.
“Untuk
apa?” tanyanya dengan dingin, bahkan ia tidak menoleh ke arahku.
“S-Sudah lama ki-kita tidak melakukannya,
bukan? A-Aku juga ingin mengetes kemampuanku kembali,” jawabku dengan tergagap
karena takut membuatnya marah.
“Baiklah, untuk hari ini saja,” jawabnya singkat.
“A-Arigato,
onii-chan,” kataku sembari tersenyum.
Biasanya, onii-chan selalu tidak mempedulikanku. Semua itu berawal saat onii-chan
menginjak usia tiga belas tahun. Ia selalu mengabaikanku bahkan ketika aku
mengajaknya melakukan kegiatan kesukaannya, melukis. Tidak hanya itu, onii-chan
juga selalu mengurung diri di kamarnya dan hanya keluar ketika makan malam atau
berangkat sekolah. Meskipun begitu, okasan dan otosan tidak mempermasalahkannya.
Hanya saja, aku tidak pernah tahu mengapa onii-chan seperti ini.
“Gumi, tolong
cetak kuenya!” perintah okasan dari dapur.
“Iya,”
sahutku.
Aku
mengambil cetakan berbentuk bunga matahari dari lemari dapurku, lalu ku cetak
adonan yang sudah kalis itu dan kuletakkan dalam loyang satu persatu dengan
hati-hati. Kemudian, okasan yang meletakkannya di pemanggang, sedangkan aku
pergi mandi. Setelah selesai mandi, aku memakai baju berlengan panjang berwarna
hijauku di sertai dengan rok hitam selututku.
Aku mengeringkan rambutku dengan handuk
putihku sembari kubuka jendela kamarku. Terlihat okasan pergi ke rumah
laki-laki itu and memberikan kue yang tadi dibuat olehku dan okasan. Ku tutup
kembali jendela kamarku, menjemur handukku kembali, dan mengambil beberapa
peralatan melukis untuk ku bawa ke kamar onii-chan. Kamar onii-chan berada di
sebelah tangga.
“Gumiya-nii,”
panggilku di depan pintu kamarnya sambil mengetuk pintunya. “Boleh aku masuk?”
tanyaku.
“Masuk
saja,” balas onii-chan dari dalam.
Aku pun
masuk ke dalam kamar onii-chan. Kamarnya benar-benar rapi dan penuh dengan
lukisan-lukisan abstrak bernuansa kelam. Aku mulai berpikir kalau onii-chan
benar-benar sedang mengalami masalah besar, tapi aku tidak tahu apa itu.
Aku
meletakkan peralatan melukisku di pangkuanku dan mengambil kanvas kosong
onii-chan. Kutuang warna biru, merah, kuning, hitam dan putih dalam paletku.
Kulirik onii-chan yang sudah mulai melukis dengan warna hitam dan putih saja di
paletnya.
Ku goreskan
kuasku yang warna biru bercampur hitam pada kanvasku. Aku ingin membuat langit
malam dengan bintang bertaburan yang menghiasinya, itu mengingatkanku pada
festival musim panas bersama onii-chan lima tahun yang lalu.
Ku campurkan
warna biru dengan kuning untuk membuat pohon bambu yang biasanya dibuat untuk
tanabata pada musim panas. Ku lirik lagi wajah serius onii-chan yang sedang melukis
itu.
“Onii-chan, boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku.
“Hmm.”
“Apakah
onii-chan membenciku?”
Onii-chan berhenti melukis dan menatap tajam ke arahku. Sontak aku
menundukkan kepalaku. Aku merasa ketakutan melihatnya dan aku tidak sanggup
berkata apapun lagi. Aku akhirnya melanjutkan melukis di atas kanvas yang masih
terisi dengan warna biru kehitaman dan hijaunya tanabata saat musim panas
dengan perasaan takut bercampur sedih. Akhirnya, aku pun menyelesaikannya.
Sesegera mungkin aku merapikan peralatan dan lukisanku, dan kembali ke kamarku.
“Te-Terima
kasih sudah mau me-menemaniku,” ucapku dengan gugup sambil berlalu dari
kamarnya.
Apakah
aku benar-benar membuatnya marah? Tapi, aku tidak tahu apa kesalahanku pada
onii-chan. Tiba-tiba, sebuah pelukan datang dari belakang. Aku terkejut.
“Gumiya-nii?” ucapku.
Tak ada
satupun kata yang terucap. Aku hanya memegang tangan Gumiya-nii yang memelukku.
Aku menoleh ke arah wajahnya yang tertunduk sedih di belakangku.
“Jangan
pernah mengatakan itu lagi!” ucapnya dengan lirih, namun tegas.
Aku
mengangguk, lalu melepaskan pelukan onii-chan. Terlihat jelas wajah suramnya
itu. Aku sudah tidak tahan melihatnya seperti itu. Ingin rasanya aku meneriakinya,
tapi aku tidak ingin membuat keributan, jadi ku putuskan untuk pergi
meninggalkannya saja.
Aku
memasuki kamarku dan meletakkan lukisanku itu. Ku baringkan tubuhku dan ku tatap
lukisan yang ku buat itu. Dalam lukisanku itu sudah terdapat dua anak dari
posisi belakang sedang menunjuk langit yang gemerlap dengan tanabata di sisi
kanannya. Ku lepaskan kacamata merahku dan ku tutup wajahku dengan Mayu. Ingin
rasanya aku melupakan hal tadi, tapi terus saja aku mengingat tatapan tajam
dari hijaunya mata Gumiya-nii.
Hijau…yang
sudah dipenuhi kegelapan…
***
Esoknya,
kami sekeluarga sarapan bersama seperti biasanya. Gumiya-nii juga bertingkah
seperti tidak terjadi apapun tadi malam, sedangkan aku masih memikirkannya
sambil menghabiskan sarapanku.
“Aku
berangkat!” ucapku sambil memakai sepatuku.
“Hati-hati di jalan!” seru okasan.
Aku
menutup pintu, lalu menuju ke garasi rumahku untuk mengambil sepedaku. Setelah
aku keluar rumah, aku terkejut melihat laki-laki itu yang baru keluar dari
rumahnya dengan sepedanya sama sepertiku.
“Eh,
kamu yang kemarin itu, ohayou,” sapanya.
“O-Ohayou,” balasku dengan gugup. Aku tidak menyangka dia akan
mengingatku bahkan sekarang ia ada di hadapanku dan menyapaku.
“Kita
sekarang adalah tetangga, bukan? Kenalkan aku Shion Kaito. Siapa namamu?”
tanyanya.
“M-Megpoid Gu-Gumi,” jawabku.
“Megpoid-chan, santai saja. Anggap saja aku temanmu. Mau berangkat ke
sekolah bersama?” tawarnya.
Aku
mengangguk setuju. Kami pun bersepeda ke sekolah bersama. Aku tidak menyangka
akan berangkat sekolah bersamanya. Ku lirik wajahnya, terlintas kesedihan di
wajahnya. Ia mulai terlihat seperti onii-chan.
“Kau ini
sepertinya sangat pendiam, yah,” ucapnya.
Aku
hanya terdiam.
“Kamu mau jadi temanku?” tanyanya.
“Tentu,”
jawabku.
“Kalau
begitu boleh aku memanggilmu Gumi? Kau juga boleh memanggilku Kaito.”
“Boleh.”
Aku tersenyum ke arahnya begitu juga dengannya.
Sesampainya kami di sekolah, kami memarkirkan sepeda kami, lalu pergi ke
kelas kami masing-masing. Dengan perasaan senang, aku duduk di bangkuku sambil
menatap langit. Perasaan kecewaku terhadap onii-chan seketika sirna tergantikan
oleh kebahagiaan pagi ini.
“Ohayou,
Gumi-chan!” seru Rin yang sudah datang terlebih dahulu.
“Ohayou,
Rin,” balasku sambil tersenyum padanya.
“Kau
terlihat senang sekali, Gumi. Ada apa?”
“Ti-Tidak
ada apa-apa, kok.”
Rin mengerutkan
dahinya. Biasanya ia akan melakukan itu jika sedang menyelidiki sesuatu.
“Ohayou,” sapa Miku yang baru datang.
“Ohayou,” balasku dan Rin bersamaan.
“Nee,
Miku-chan, Gumi tampaknya sedang…” ucap Rin,
lalu berbisik pada Miku. Aku tidak tahu apa yang ia bisakkan pada Miku.
“Ah,
ternyata itu… Pantas saja ada yang berbeda dari Gumi,” kata Miku.
“Maksudnya apa, nih? Tidak yang aneh denganku, kok,” sanggahku.
“Semakin
kamu menyangkalnya, semakin terlihat,” ucap Rin.
“Gumi
sedang ja-tuh-cin-ta,” goda Miku.
“Ah,
ti-tidak, kok!” sanggahku.
“Jangan
disembunyikan, Gumi-chan,” goda Rin.
“Beneran, kok,”
Akhirnya, pembicaraan ini berakhir ketika bel pelajar pertama berbunyi.
Saat pelajaran berlangsung, Rin dan Miku terkikik secara diam-diam, sementara
aku sendiri hanya menghela nafas. Well, memang mungkin sebenarnya aku sedang
jatuh cinta, tapi aku merasa tidak yakin akan hal itu. Mungkin aku hanya merasa
kagum.
Beberapa
lama kemudian, bel tanda istirahat pun berbunyi. Aku merapikan buku-bukuku dan
di saat itu juga Rin dan Miku kembali menghampiriku.
“Eh,
Gumi, lihat pertunjukan drama di acara festival sekolah lusa, ya! Miku juga
diikutkan dalam drama, lho!” seru Rin.
Eh,
bukankah Miku mengikuti klub vokal? Mengapa ia bisa ikut dalam pertunjukkan
drama? pikirku
“Wah,
pasti pertunjukkannya akan menarik! Tentu saja aku akan melihatnya,” ucapku.
Aku
turut senang melihat wajah ceria Rin yang memberitahuku tentang berita
tersebut. Namun di sisi lain, aku merasa tertinggal oleh kedua temanku ini.
Tapi, tidak masalah buatku.
“Oh iya!
Kamu ingin melihat kami latihan pada saat pulang sekolah nanti?” tanya Miku.
“Tentu.”
Saat
pulang sekolah tiba, aku menuju ke ruang drama tempat Miku dan Rin berlatih.
Saat aku baru sampai di depan pintu ruangan, aku melihat Rin yang memakai gaun,
mungkin itu adalah kostum yang akan ia gunakan untuk menampilkan dramanya,
sedang berlari menjauh dari seseorang yang mengejarnya dari ruang drama.
“Rin-chan!” panggilku.
Ia tidak
merespon panggilanku sama sekali. Aku mulai mengejarnya sambil
memanggil-manggil namanya.
“Len-kun, kumohon berhentilah! Aku lelah,” teriak orang yang mengejarnya.
Len-kun?
Bukankah itu Rin? pikirku.
Aku
tetap mengejar Rin yang sempat disebut Len itu. Sampai akhirnya, ia berhenti di
belakang kamar mandi sekolah.
“K-Kamu
Rin, kan?” tanyaku.
“Rin?
Tentu saja bukan. Apa Rin-nee tidak pernah memberitahumu?” katanya dengan suara
yang sedikit berbeda dengan suara Rin.
“Memberitahu apa?”
“Plak!!”
Tiba-tiba, Rin dengan pakaian yang sama dengan Len datang dari belakang
Len dan memukul kepalanya dengan lembaran skenario tebal yang ia gulung.
“Kamu
ngapain pake kabur segala! Malu-maluin!” bentak Rin pada Len.
“Lagian
kenapa aku harus jadi putrinya sedangkan kau jadi pelayannya di bagian akhir?
Lebih baik ganti cerita saja!” balas Len.
“Eh,
kalian ini kembar, ya?” selaku.
“Eh,
Gumi, aku lupa memberitahumu kalau aku ini punya kembaran, hehe... kenalkan ini
adikku, Len. Dia dari kelas X-C,” ucap Rin.
“Aku
Gumi, yoroshiku. Umm, boleh aku memanggilmu Len?” tanyaku sambil tersenyum pada
Len.
“Silahkan
saja,” ucap Len singkat.
Aku beralih pada Rin. “Jadi, bisa ceritakan
jalan cerita dari drama yang akan ditampilkan, Rin?” pintaku pada Rin.
Lalu,
Rin memberikan lembaran skenario tebal yang ia gunakan untuk memukul Len tadi.
Aku membacanya. Skenario tersebut berjudul Servant of Evil, skenario itu
menceritakan tentang seorang pelayan yang rela mengorbankan dirinya demi
menyelamatkan seorang putri yang sekaligus merupakan kembarannya dari kemarahan
Red Swordswoman dan Prince of Blue, serta para rakyat karena perintah Sang
Putri untuk membunuh Daughter of Green atas rasa cemburu yang dialami oleh Sang
Putri.
“Len-kun, apakah kamu tidak membaca skenarionya?” tanyaku.
Len
memalingkan wajahnya. “Umm… sudah kok.”
“Ceritanya bagus, kok. Kenapa harus diganti?”
“Duk!”
Rin
memukul bahu Len. “Len bohong!” bentaknya.
“Aduh!
Bisakah kamu berhenti memukulku?”
Sementara mereka berdua bertengkar, aku membaca peran-peran dalam cerita
tersebut. Rupanya Rin memerankan Sang Putri dengan nama Daughter of Evil,
sedangkan Len memerankan Servant of Evil. Ah, Miku memerankan Daughter of
Green. Yang memerankan Red Swordswoman adalah Meiko-sensei, guru yang membina
klub drama. Lalu, yang memerankan Prince of Blue adalah Kaito-senpai. Eh,
tunggu, Kaito-senpai? Wah, dia ternyata mengikuti klub drama juga! Aku
penasaran bagaimana penampilannya lusa.
“Gumi,
maaf sudah membuang-buang waktumu dengan pertengkaran kami. Ayo, kita ke ruang
drama!” ajak Rin ceria seperti biasanya sambil pergi dengan menarik Len dengan
paksa.
“Ah, ya!”
kataku mengiyakan sambil mengikuti Rin dari belakang.
“Rin-nee,
berhentilah menarikku seperti ini!” keluh Len.
“Sudahlah, jangan banyak mengeluh!” bentak Rin.
Aku
hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua yang lucu itu. Tak lama kemudian,
kami tiba di ruang drama. Di depan pintu sudah ada Miku dan Kaito-senpai yang
terlihat menunggu.
“Kalian
ini kemana saja? Kami sudah menunggu lama sekali,” ucap Miku pada Rin dan Len.
“Gomen…
gomen… ini semua gara-gara Len,” kata Rin sambil menunjuk Len yang cemberut
akibat perlakuan Rin padanya.
“Eh,
Gumi, mau melihat kami berlatih drama?” tanya Kaito-senpai.
“I-iya, Senpai,”
jawabku sembari tersenyum ke arahnya.
Kaito-senpai membalas senyumku. Seperti biasanya, jantungku berdetak
dengan kencang melihatnya. Aku melirik ke arah Miku yang melihat ke arahku,
wajahnya terlihat pucat. Aku merasa agak curiga padanya.
“Ano,
Miku-chan, kamu tidak apa-apa?” tanyaku.
“Ah, aku
tidak apa-apa, kok, hehe,” jawab Miku sembari menggaruk kepalanya.
Aku
melihat ke arah Kaito-senpai kembali.
Wajah sedihnya kembali terlihat. Entah kenapa aku merasa bersalah.
“Ya
sudah. Ayo, kita lanjutkan latihannya!” ajak Rin.
Kami
berlima pun memasuki ruang drama yang memiliki satu cermin dan sebuah panggung
kecil. Mereka menghafal naskah mereka sembari berlatih menghayati peran mereka,
sedangkan aku hanya menonton dari depan panggung. Mereka tampak
bersenang-senang, terkadang diiringi sedikit candaan, aku tersenyum melihat
mereka dari sisi lain mereka. Namun, sekilas aku melihat wajah sedih
Kaito-senpai saat menatap Miku.
Beberapa
lama kemudian, mereka berempat selesai latihan dan bersiap untuk pulang begitu
juga denganku.
“Sampai
jumpa besok, semuanya!” seru Rin.
“Sampai
jumpa besok,” serempak semuanya.
Aku
pergi menuju ke tempat aku parkir memarkirkan sepedaku dan mengambil sepedaku.
Di sebelahku, Kaito-senpai juga mengambil sepedanya.
“Jadi,
Senpai, ikut klub drama?” tanyaku.
“Ah,
tidak. Aku ikut klub vokal, tapi karena ini drama musical, jadi beberapa
anggota dari klub vokal ikut serta dalam drama ini,” jawabnya.
“Oh
begitu,”
Ketika
kami sampai di depan gerbang, kami mengayuh sepeda kami bersama-sama. Ingin
rasanya aku menanyakan apa yang membuatnya tampak murung. Aku tahu ini terlalu
mendadak, tapi aku ingin sekali mempertahankan senyumannya.
“Umm,
mengapa kamu tampak murung?” tanyaku.
“Murung?
Aku tidak apa-apa, kok,” jawabnya.
“Aku
selalu melihatmu murung, meskipun itu hanya sekilas. Aku harap aku dapat
membantumu menyelesaikan masalahmu, tapi jika kau tidak mau, tidak apa-apa,”
kataku.
Kaito-senpai tersenyum padaku. Aku hanya
menundukkan wajahku dengan malu.
“Kau ini
ternyata sangat perhatian sekali. Baiklah, aku akan memberitahumu, tapi pada
jam empat nanti di rumahku. Tidak apa-apa, kan?” tawar Kaito-senpai.
Aku
mengangguk dan tersenyum padanya.
Setelah
kami sampai di depan rumah kami masing-masing, kami melambaikan tangan. Aku
tidak pernah merasa sesenang ini. Aku memasukkan sepedaku ke dalam garasi
rumahku, kemudian memasuki rumahku.
“Tadaima!” ucapku sambil melepaskan sepatuku.
“Okaeri!”
balas okasan. “Mengapa kamu pulang terlambat, Gumi?” tanya okasan.
“Aku
menonton teman-temanku berlatih drama,” jawabku.
Aku
memasuki kamarku dan ku letakkan tas sekolahku. Kemudian, aku mengganti pakaianku
dengan kaus hijau dengan dengan gambar bunga matahari dipadukan dengan jaket
kuningku dan celana panjangku. Lalu, ku pakai jepit rambut merahku di poni
kananku. Ku tatap jam dindingku yang masih menunjukkan jam setengah empat itu.
Aku
duduk di tempat tidur dan memeluk Mayu. Aku memikirkan jawaban apa yang akan
Kaito-senpai beritahu padaku. Aku benar-benar penasaran, bahkan aku tidak dapat
memikirkan kemungkinan yang ada. Untuk sesaat, ku lirik jam dindingku yang baru
menunjukkan pukul empat. Sesegera mungkin aku, bangkit dari tempat tidurku dan
menuju ke rumah Kaito-senpai.
“Ting-tong!” ku tekan bel rumah Kaito-senpai.
“Sumimasen!” ucapku.
Seorang
perempuan dengan mata sebiru Kaito-senpai membukakan pintu untukku. Sepertinya
ia adiknya Kaito-senpai.
“Silahkan
masuk,” katanya ramah sambil mempersilahkanku masuk.
Aku pun
masuk ke dalam rumahnya. “Terima kasih,” ucapku sembari tersenyum. “Umm, aku
kemari untuk bertemu Kaito-san,” kataku.
“Oh,
begitu. Tunggu sebentar, ya, akan ku panggilkan,” katanya sembari masuk ke
ruangan lain.
Beberapa saat kemudian, perempuan itu
kembali dengan membawa dua gelas minuman dingin dan sepiring kue kering
berbentuk es krim.
“Kaito-nii sedang ada urusan sebentar, jadi bisa menunggu dulu?”
tanyanya dengan sopan.
“Uh,”
jawabku sembari menganggukkan kepala.
“Kamu
ini tetangga sebelah, ya? Kenalkan namaku Kaiko, adik Kaito-nii. Siapa namamu?”
“Na-namaku Megpoid Gumi,”
“Ah,
Gumi, kau sudah datang rupanya. Ayo masuklah!” ajak Kaito-senpai yang baru
keluar.
Aku pun
mengikuti Kaito-senpai menuju ruangannya. Sesampainya di depan ruangannya,
seseorang yang sedang memakan cemilan pedas bersandar di sebelah pintu ruangannya
menatapku dan Kaito-senpai keheranan.
“Tidak
biasanya kau membawa seseorang ke ruanganmu,” ucapnya.
Kaito-senpai tidak menghiraukannya dan tetap memasuki ruangannya,
sementara aku sendiri tetap mengikuti Kaito-senpai masuk ke dalam ruangannya.
“Ta-tadi, kakaknya senpai, ya?” tanyaku.
“Ya
begitulah,” jawabnya.
“Jadi, Kaito-senpai,
bisa tolong ceritakan me-mengapa Kaito-senpai selalu murung?”
“Kita
ini sekarang teman, bukan? Jadi, bisa tidak memanggilku senpai?”
“Umm, baiklah.”
“Nah,
tentang masalahku, aku murung karena…”
“Karena?”
“Persediaan
es krimku dimakan oleh kakakku belakangan ini.”
“Hee?”
Aku
tidak menyangka jawabannya akan seperti ini. Aku benar-benar terkejut sekaligus
meragukan jawabannya itu.
“Hanya
itu saja, Sen− maksudku Kaito-kun?” tanyaku memastikan.
“Ya
begitulah, pasti sia-sia buatmu datang ke sini hanya untuk mendengarkan
alasanku yang sepele ini,”
“Ti-tidak kok. Ngomong-ngomong, apakah Kaito-kun merasa lebih baik
sekarang?”
“Um, ya.
Terima kasih, Gumi-chan. Ternyata kau ini seorang pendengar yang baik.”
“Hehe,
aku ini biasa saja kok,” ucapku sembari menggaruk kepalaku.
Aku
senang, tapi ada yang ganjil di sini. Ini terasa berbeda dari yang ada, berbeda
dari apa yang aku rasakan ketika aku melihat wajah sedihnya. Aku tahu kalau dia
sudah berbohong padaku. Tapi, tidak apalah, aku tidak ingin membebaninya.
Aku melihat
sekeliling, berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan saat itu juga aku
melihat bingkai foto anak-anak sekitar umur tujuh tahunan.
“Kaito-kun, ini foto siapa?” tanyaku sembari mengambil bingkai foto
tersebut.
“Ah, itu
fotoku dan teman-temanku ketika aku masih berada di kampong halamanku,” jawab
Kaito-senpai.
Aku
melihat ke arah foto tersebut. Di dalam foto tersebut, Kaito-senpai tampak lucu
dengan syal birunya. Di sebelahnya ada seorang anak perempuan dengan model
rambut kepang satu yang hampir mirip dengan Miku, kemudian dua anak yang
kelihatannya adalah kakak dan adik Kaito-senpai.
“Kaito-kun,
yang ini siapa? Ini sepertinya mirip dengan Miku,” kataku sambil menunjuk foto
anak perempuan yang mirip dengan Miku.
“Itu hanya
teman masa kecilku,” jawabnya muram.
“Oh
begitu,”
Dengan
begitu, aku menyimpulkan kalau ada sesuatu diantara Kaito-senpai dan anak
perempuan ini. Aku melihat foto ini baik-baik, Kaito-senpai terlihat
berpegangan tangan dengan anak perempuan itu. Entah kenapa, aku merasakan
perasaan yang mendalam mengenai apa yang ada di dalam foto tersebut. Sesuatu
yang aku pikir tidak akan aku dapatkan.
Aku
bangkit dan meletakkan foto tersebut ke tempatnya semula. Aku ingin sekali
manatap lebih jauh ke dalam matanya yang biru itu, tapi itu semua sudah cukup
bagiku. Sepertinya aku hanya beban di sini. Mungkin sebaiknya aku pergi saja
dari sini. Tapi, rasanya aku ingin melukiskan pelangi di dunia Kaito-senpai
yang saat ini sedang penuh dengan rintik-rintik hujan.
“Kaito-kun, sebaiknya Kaito-kun hanya memberi peringatan saja pada kakak
Kaito-kun supaya es krim Kaito-kun tidak dihabiskan lagi olehnya. Satu hal
lagi, aku ingin melihat Kaito-kun tersenyum dengan tulus. Aku pamit pulang,”
ucapku sembari keluar dari ruangannya.
“Cepat
sekali kau keluar, tidak betah?” tanya kakak Kaito-senpai.
“Bukan
begitu. Ah, iya sebaiknya Kakak tidak memakan es krim Kaito-kun lagi. Kakak
tidak mau membuat dia sedih, kan?” ucapku.
Dia
tertawa, tapi aku tidak menghiraukannya.
“Dia
bilang begitu padamu? Hahaha, lucu sekali,” tawanya.
“Aku
sudah tahu kalau itu hanya kebohongannya,” gumamku sembari pergi
meninggalkannya.
“Kaiko-san, aku pamit pulang,” kataku sembari tersenyum pada Kaiko.
“Ah,
ya,” balasnya ramah.
Aku
keluar dari rumah tersebut. Aku harap esok akan berubah kembali seprti semula
seperti halnya aku dan Gumiya-nii.
“Tadaima!” ucapku.
“Okaeri!”
balas Gumiya-nii.
Suatu
hal yang tidak biasa buatku karena Gumiya-nii membaalasku, tapi aku tidak
peduli. Saat ini, hatiku seperti lukisan abstrak yang bercampur dengan warna
hitam, jadi aku hanya melewati kakakku
itu dengan tenang seperti hal yang sangat biasa untukku.
“Jangan
bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, Gumi,” ucapnya.
“Kaulah
yang bertingkah seperti itu,” balasku dengan tenang dan dingin sembari menaiki
tangga menuju kamarku.
Di
dalam kamar, aku ingin melukiskan apa yang ada di hatiku. Bagiku melukis adalah
tempat untuk menampung beban yang aku rasakan.
Aku mengambil buku gambarku, kuas, palet dan cat airku. Ku tuangkan
warna hitam dan merah. Warna-warna itu yang sekarang berada di hatiku dan
pikiranku. Ku goreskan kuas ini sesuai apa yang ada di hatiku.
Harapanku
saat ini hanya satu, yaitu aku ingin semuanya kembali seperti semula besok. Dan
aku ingin menghilangkan noda hitam dalam warna merahku. Warna merahku yang
mulai ternodai.
Ya,
merah yang sudah ternodai…
***
Esoknya,
harapanku terkabul. Semuanya kembali normal sesuai apa yang aku harapkan. Aku
kembali berangkat sekolah bersama Kaito-senpai dan mengobrol tanpa ada masalah
apapun. Di sekolah pun seperti biasanya. Aku, Miku, dan Rin mengobrol tentang
hal-hal yang menyenangkan, seperti biasanya.
Meskipun
normal, semua itu tetaplah kebohongan. Meskipun aku melihat senyuman
Kaito-senpai di pagi hari, meskipun aku mendapat perlakuan normal dari onii-san,
meskipun aku sendiri bertingkah seolah tidak mengetahui apapun dan tidak ingin
mengetahui apapun, tapi semua itu bohong. Aku berfikir, apakah aku harus hidup
di dalam kebohongan orang-orang di sekitarku atau aku ini orang yang tidak
penting yang tidak seharusnya ada di antara mereka?
Aku
meneguk jus wortel kesukaanku sembari menatap jendela di sebelahku. Di bawah
sana, Kaito-senpai tersenyum dan mengobrol dengan teman-temannya seolah tidak
terjadi apa-apa. Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Memang tidak terjadi
apa-apa, kan? Arggh, semua ini memusingkan!
“Gumi, kamu tidak seperti biasanya, ada
apa?” tanya Miku.
“Aku
hanya bingung, tapi itu semua tidak masalah. Ngomong-ngomong, boleh aku tanya
sesuatu padamu?”
“Tentu
saja.”
“Apa
hubunganmu yang sebenarnya dengan Shion-senpai? Aku tahu kau akan terkejut
mendengarnya, tapi bisakah kau menjawabnya dengan jujur?”
Wajah
Miku tampak terkejut mendengar pertanyaanku. “Kok tiba-tiba kamu bicara seperti
itu, Gumi?”
“Ya
sudah. Lupakan saja, Miku-chan,” ucapku dengan ramah sembari beranjak dari
bangkuku untuk membuang kotak jus wortelku yang telah habis.
Aku
sedikit merasa bersalah padanya. Apakah aku membuatnya tersinggung? Aku hanya
ingin tahu tentang wajah sedih Kaito-senpai dan wajah Miku di bingkai foto itu.
Aku kembali ke bangkuku. Di belakangku, Miku
menatapku serius, sedangkan aku sendiri hanya berusaha agar tidak bertatapan
dengannya.
“Kau
menyukai Shion-senpai, ya?” ucap Miku dengan nada menggoda.
Aku
hanya menundukkan kepalaku. “Tidak, aku hanya menganggapnya teman antar
tetangga.”
Aku
sebenarnya menyukai Kaito-senpai, tapi aku takut Kaito-senpai tidak menyukaiku
sebagai lebih dari sekedar teman karena aku tahu Kaito-senpai menyukai Miku,
teman masa kecilnya. Aku takut dengan rasa sakit yang aku rasakan nantinya.
Tapi, sebagai gantinya, aku akan membuat Kaito-senpai tersenyum. Akan ku lukis
pelangi di hati Kaito-senpai.
“Miku-chan
sendiri bagaimana? Kamu ini teman masa kecilnya, kan? Aku melihat fotomu di
kamarnya, saat aku berkunjung ke rumahnya.”
“Aku…”
“Nee,
kalian sedang membicarakan apa? Kelihatannya serius,” tanya Rin yang datang
dengan tiba-tiba.
“Hanya
membicarakan soal kimia, kok, Rin,” jawabku berbohong.
“Oh
begitu. Nee, Miku, nanti latihan drama lagi, lho!” ucap Rin pada Miku.
Mereka
mulai mengobrol heboh tentang latihan drama mereka di belakangku, sedangkan aku
sendiri hanya diam dan menatap keluar jendela. Mungkin memang benar, seharusnya
aku tidak ada di antara mereka.
Sepulang
sekolah, aku langsung mengambil sepedaku dan pulang ke rumah. Aku benar-benar
merasa lelah untuk apa yang terjadi hari ini, meskipun hampir seluruh siswa
disibukkan dengan perayaan festival sekolah yang akan di selenggarakan besok. Sesampainya
di rumah, aku langsung menuju ke kamarku dan memeluk Mayu. Aku mencurahkan
semua isi hatiku pada Mayu.
“Nee,
Mayu, apakah aku ini orang yang harus melihat kebohongan orang-orang di
dekatku? Aku tahu, kebohongan itu memang manis dan aku tahu, tidak seharusnya
aku mencampuri urusan orang lain. Tapi, setidaknya aku ingin berguna. Aku ingin
bisa membahagiakan mereka. Apakah aku salah, Mayu?”
“Nee,
Mayu, tiba-tiba saja aku ingat perkataan onii-chan padaku saat itu, ketika aku
berusaha membantu onii-chan yang sedang diganggu oleh teman-temannya. Ia
mengatakan aku ini hanya menjadi beban untuknya dan aku ini tidak berguna.
Mungkin yang dikatakan onii-chan saat itu memang benar.”
“Hahaha,
lucu, ya? Mengapa aku memikirkan hal yang tidak berguna ini?”
Aku tertawa
sekaligus meneteskan air mata. Sesegera mungkin ku hapus air mata ini. Untuk
apa aku menangis? Untuk apa aku memikirkannya? Untuk apa aku…
Untuk
sejenak aku terdiam dan pikiranku kosong. Untuk saat ini, aku hanya lukisan
abstrak yang penuh dengan coretan warna hitam. Aku menghela nafas dan membuka
jendela kamarku. Ku tatap langit yang berwarna biru, tapi sedikit tertutup awan.
Biru… seperti warna iris mata Kaito-senpai, Kaiko-san, Miku, Rin, dan Len-kun.
Biru…yang
bercampur dengan warna kelabu.
***
Hari ini
adalah perayaan festival sekolah yang diadakan setahun sekali. Seperti
biasanya, aku ini hanya terlihat seperti siswa biasa yang berjalan-jalan
sendirian di tengah keramaian. Anehnya, aku tidak merasa kesepian sama sekali
dan teman-teman sekelasku tidak mencariku sama sekali. Ah, aku tidak peduli.
Aku
berencana untuk membeli crepes coklat, lalu pergi menuju pertunjukan drama Rin,
Miku, Kaito-senpai, dan Len-kun yang diadakan pada jam dua siang. Tapi, sebelum
itu, aku sedikit bermain-main ke acara yang sudah di siapkan oleh kakak kelas. Semua
itu hanya ku lakukan sendirian. Ya, sendirian…
Tiga menit
sebelum pertunjukkan drama Rin, Miku, Kaito-senpai, dan Len-kun dimulai, aku
sudah berada di sana dan duduk di barisan depan. Aku memakan crepes coklatku,
sembari menunggu pertunjukkannya dimulai.
Akhirnya, Rin yang berperan sebagai Daughter of Evil pun sudah berada di
atas panggung dengan Len-kun yang berada di sebelahnya sebagai Servant of Evil.
Pertunjukkan pun dimulai. Aku kagum, mereka dapat memerankan peran mereka
masing-masing dengan penuh penghayatan.
Saat
Miku dan Kaito-senpai naik ke atas panggung sebagai Daughter of Green dan
Prince of Blue yang saat itu dalam adegan berjalan bersama-sama, aku merasa…
bagaikan sebuah warna yang tidak cocok jika berdekatan dengan warna lain, warna
yang menjadi sebuah pembatas antar warna-warna lain.
Setelah
pertunjukkan selesai, aku berusaha melambaikan tanganku ke arah mereka, tapi
tidak ada satu pun dari mereka yang memperhatikanku. Jadi, aku memutuskan untuk
pulang karena aku merasa tidak memiliki warna lagi.
“Apakah
kau tidak memiliki warna yang tersisa?” ucap seseorang sembari memegang bahuku.
Aku
menoleh ke arahnya dengan lemah dan seketika itu aku terkejut, karena orang itu
adalah Gumiya-nii.
“Aku
hanya beban untuk onii-chan, jadi onii-chan pulang saja dan melukis sesuka hati
onii-chan!” usirku sembari melepaskan tangan itu dengan kasar dan berlalu
darinya.
Aku
tidak berjalan menuju ke rumah, melainkan ke sebuah taman bermain. Di sana, aku
menduduki ayunan sembari menatap kuning yang bercampur jingganya langit yang
lama-kelamaan tertutup oleh awan kelabu yang menurunkan setetes demi setetes
air hujan yang mulai membasahi wajahku dan tubuhku.
Warna
jingga dan kuning itu… sudah tidak cerah lagi…
“Ayo,
kita pulang!” ajak Gumiya-nii sembari memberikan payung ungunya padaku.
Aku yang
masih frustasi menepis tangan Gumiya-nii dengan keras sehingga membuat
payungnya terjatuh dan kotor. Payung ungu itu kotor. Ungu itu…ternodai.
“Jika
kau ingin melukis pelangi pada hati orang lain, jangan pernah nodai warnamu
sendiri!” ucap Gumiya-nii.
“Apa
pedulimu? Pulang sendiri saja sana!” usirku.
“Dengar,
aku minta maaf atas perkataanku dulu. Aku benar-benar menyesal sudah mengatakan
itu. Saat itu, aku hanya malu pada diriku sendiri karena aku tidak bisa berani
sepertimu. Gomen ne, Gumi,”
Gumiya-nii
mengelus kepalaku dengan lembut. Aku menatap ke arah matanya. Mata hijau itu
sudah tidak terasa kosong lagi dan pada akhirnya aku melihat senyum Gumiya-nii.
Tanpa sadar, aku pun ikut tersenyum.
“Aku
juga minta maaf karena kasar padamu.”
Aku
bangkit dari ayunan yang aku duduki dan menggenggam tangan Gumiya-nii.
Tangannya terasa hangat dan nyaman, sehingga membuatku merasa aman.
“Terima
kasih, Onii-chan,” ucapku sembari melepaskan tangan Gumiya-nii.
“Ya.
Sekarang, ayo pulang!” ajaknya.
Aku pun
berjalan kembali menuju sekolah untuk mengambil sepedaku. Lalu, kami pulang
menaiki sepeda bersama-sama dengan perasaan yang lebih baik. Sejak saat itu,
aku dan Gumiya-nii menjadi lebih dekat.
Hijau
yang gelap itu sekarang sudah terisi dengan kecerahan…
***
Hari ini
berjalan sesuai hari-hari biasanya. Hanya saja… aku masih kehilangan warnaku,
sehingga membuatku menyendiri seperti dulu. Miku dan Rin mengobrol dengan
cerianya, seperti biasanya.
“Nee,
Gumi, mengapa kemarin tidak datang ke festival sekolah?” tanya Rin.
Tidak
datang? Mereka benar-benar tidak memperhatikanku saat itu. Ya sudahlah, pasti
mereka terlalu senang sampai tidak memperhatikanku.
“Aku
datang. Aku juga melihat pertunjukkan drama kalian,” jawabku.
“Jadi,
bagaimana pertunjukannya?”
“Bagus.
Kalian terlihat kompak dan sangat menghayati peran masing-masing saat itu.”
“Oh
begitukah?”
“Ya.
Tapi, mengapa kamu merasa tidak puas?”
“Bukan
begitu, hanya saja aku merasa… entahlah.”
Rin yang
biasanya terlihat ceria seperti pirangnya rambut pendeknya, tapi sekarang ia
terlihat suram seperti warna kelabu.
“Rin…”
“Ah,
sudahlah lupakan!” seru Rin ceria sembari pergi menuju bangkunya.
Karena
sekarang masih jam istirahat, aku ingin menemui Kaito-senpai yang berada di
kelas XI-A. Sesampainya aku di tembok yang akan berbelok menuju kelasnya, aku
melihat Miku yang sedang berbicara pada Kaito-senpai di sebelah pintu kelasnya.
“Jadi, aku
ingin kamu tidak mendekatiku lagi!” ucap Miku dengan tegas sembari pergi
meninggalkan Kaito-senpai yang hanya terkejut memandanginya dan terlihat lagi
mata biru sedih itu.
Aku
hanya bisa diam dan kembali ke kelasku. Di sisi lain, aku menyadari bahwa
Kaito-senpai menyukai Miku. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana perasaan Miku
pada Kaito-senpai. Untuk saat ini, aku mungkin akan men-support-nya nanti.
Sepulang
sekolah, aku menemui Kaito-senpai yang berada di parkiran sepeda sekolah. Aku
berpikir untuk membicarakan tentang festival sekolah kemarin.
“Kaito-senpai, kemarin pertunjukkan kalian
hebat, lho! Menurutmu bagaimana?” tanyaku.
“Gumi,
bisakah kamu menjauh dariku? Aku merasa kehadiranmu adalah beban bagiku. Aku
juga benci melihatmu, mendengar suaramu, dan aku muak jika bersamamu. Aku sudah
muak denganmu!” bentaknya sembari berlalu dengan sepedanya dariku.
Aku
hanya terdiam. Masih terngiang kata-kata Kaito-senpai di dalam pikiranku. Jadi,
kehadiranku adalah beban baginya. Mengapa? Apa salahku? Aku hanya ingin melihat
Kaito-senpai tersenyum. Sudah cukup! Aku mengepalkan tanganku dan berlari
menuju ruang vokal, tempat Miku berada.
“Miku,
bisa aku bicara denganmu?”
Miku
yang memegang lembaran lagu itu menatapku dengan pasrah dan mengangguk. Aku mengajaknya
ke tempat pojok ruangan. Aku benar-benar ingin membicarakannya dengannya secara
langsung sekarang.
“Nee, Miku, sebelumnya maafkan aku. Aku
sebenarnya memang punya perasaan terhadap Shion-senpai, tapi Shion-senpai tidak
akan pernah membalas perasaanku karena aku tahu Shion-senpai hanya memiliki
perasaan padamu. Kamu pun begitu, bukan?”
Miku tidak menjawab apa pun, jadi akan aku
lanjutkan pembicaraan ini.
“Aku hanya ingin melihat senyum tulus dari
Shion-senpai. Jadi, mengapa kau mengatakan hal itu pada Shion-senpai?”
“Aku
tahu kalau dia memilki perasaan padaku, tapi aku tidak ingin membuatnya
khawatir tentang penyakitku ini. Maaf aku tidak mengatakannya pada kalian.”
“Aku
mengerti. Tapi tidak seharusnya kamu bertindak seperti itu. Itu akan sama saja.
Seharusnya kau mengatakan yang sebenarnya. Hanya ini saja yang ingin aku
katakan padamu. Terima kasih sudah mendengarnya.”
Aku
tersenyum pada Miku dan pergi menuju ke parkiran sepeda sekolah, lalu pulang ke
rumah. Aku harap Miku dan Kaito-senpai dapat menemukan celah untuk mengerti
satu sama lain. Dan aku sudah tidak peduli lagi dengan perkataan Kaito-senpai
padaku, tapi aku juga merasa sedih karena sudah tidak bisa bersama Kaito-senpai
lagi.
***
Hari ini aku berangkat sekolah tanpa
Kaito-senpai. Sepertinya Kaito-senpai benar-benar muak dengan adanya diriku. Ya
sudahlah, tidak apa-apa jika itu membuatnya senang.
Miku dan
Rin yang sudah datang, sedang mengobrol ria seperti biasanya, sementar aku
hanya berdiam diri. Aku berpikir kalau Miku pasti akan mengatakannya.
Sepulang
sekolah, aku mengikuti Miku ke lapangan olah raga. Di sana, sudah ada
Kaito-senpai yang menunggunya. Aku bersembunyi di semak-semak untuk melihat apa
yang terjadi, meskipun aku tidak mendengar apa yang mereka berdua katakan. Kaito-senpai
memeluk Miku dengan erat sembari menangis, tapi ia tidak terlihat sedih sama
sekali.
Di sisi
lain, aku melihat bayangan yang terlihat mengawasi di balik pohon yang berada
di sebrangku. Saat bayangan itu mulai sedikit menampakkan diri, aku tahu kalau
itu Rin yang sedang membawa sebuah pisau. Sedang apa dia di sini? Dan mengapa
ia membawa pisau?
Rin
mendekati mereka berdua dan berteriak ke arah mereka.
“Shion-senpai, apakah rasa cintaku ini tidak cukup? Mengapa kau lebih
memilihnya daripada aku? Karena suaranya yang manis itu, ya, Senpai? Kalau
begitu apa yang terjadi jika aku mengambil suara Miku? Apakah Senpai akan
membalas cintaku? Jawab aku, Senpai!” teriak Rin sembari menusuk bahu
Kaito-senpai dengan cepat.
Untuk
sejenak, aku teringat kata-kata Rin yang pernah diucapkannya padaku saat ia
terlihat tidak puas. Di saat itulah aku tahu apa yang sedang Rin lakukan, Rin
mencoba membunuh Miku karena rasa cemburunya. Aku segera berlari ke arah Rin
yang sudah siap menusukkan pisaunya pada Miku.
“Slap!”
Perutku
tertusuk oleh pisau Rin. Darahku menetes dan membuat seragamku yang putih
berwarna merah. Aku hanya memegangi pisau yang menancap di perutku. Miku
berdiri ketakukan sembari memegang telepon genggamnya, sedangkan Rin hanya
tertawa keras.
“Nee,
Gumi, mengapa kau selalu ikut campur? Kamu ini hanya membebankan orang lain.
Kamu ini sudah sepantasnya MATI!!” ucap Rin sembari menarik pisaunya dari
perutku, kemudian ia tusukkan lagi pisau itu ke jantungku berkali-kali,
sedangkan aku sendiri yang sudah tidak sanggup bergerak, hanya pasrah
menerimanya.
Tiba-tiba
saja, semuanya mulai lenyap secara perlahan. Aku memandangi tanganku yang
berlumuran warna merah dan ku lihat Miku yang ketakutan dan Kaito-senpai yang
kesakitan. Aku tidak menyangka kalau Rin akan seperti ini. Mengapa semuanya
menjadi seperti ini?
Aku
sudah merasa tidak kuat lagi. Pada akhirnya, semuanya berwarna hitam. Semua
menjadi hitam dan aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak tahu…
***
Aku
terbangun. Di hadapanku, Gumiya-nii, Okasan, Otosan, Miku, dan Kaito-senpai
Gumiya-nii, Okasan, Otosan, Miku, Keluarga Shion, dan yang lainnya tertunduk
sedih di depan makam seseorang. Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan di
benakku. Apa yang terjadi? Siapa yang dimakamkan di sana?
“Okasan,
apa yang terjadi?” tanyaku sembari menyentuh bahu okasan.
Okasan
tetap menangis dan sepertinya ia tidak mendengarkanku, bahkan tidak melihatku.
Aku melihat ke arah tanganku yang masih berlumuran darah, begitu juga dengan
tubuhku. Apakah aku sudah mati?
Aku
mendekati makam tersebut. Setelah ku baca batu nisan makam tersebut, aku
menyadari kalau itu adalah makamku. Aku hanya bisa menerima hal itu. Hanya
saja, aku belum mewujudkan apa yang aku inginkan. Aku belum melukiskan sebuah
pelangi di hati Kaito-senpai dan justru merusaknya. Apakah aku ini hanya sebuah
beban?
Aku
melangkah keluar dari pemakaman itu dan pergi menuju tempat yang aku inginkan,
sebuah taman tempat aku mendapatkan senyuman Gumiya-nii. Sendiri ku menatap jingganya
matahari terbenam yang mulai berpadu dengan gelapnya malam. Ingin sekali aku
melukis untuk terakhir kalinya. Lukisan terakhirku.
Ya,
lukisan terakhirku! Aku berlari menuju ke rumahku. Sesampainya ku di sana, ada
Len duduk dengan wajah menyesal dan di hadapannya okasan dan otosan menatapnya
serius.
“Saya
sebagai adiknya, meminta maaf atas perlakuan kakakku yang telah membunuh putri
anda. Saya turut menyesal atas kejadian ini,” ucap Len dengan sopan.
“Sudahlah tidak apa-apa. Kami juga sebagai orang tuanya, sudah merelakan
kepergiannya,” kata okasan.
Aku
melanjutkan langkahku menuju kamarku. Di sana, ku ambil kanvasku, tapi aku
tidak bisa memegangnya. Aku tidak tahu harus bagaimana. Tanpa sengaja, aku
menggunakan telekinesis pada Mayu, sehingga membuat Mayu terjatuh. Di saat itu
juga aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Dengan
telekinesis, aku berusaha membuat pelangi di dinding kamarku sebisa mungkin,
tapi hasilnya tidak terlalu mirip dengan pelangi, namun semua itu tidak
masalah. Inilah lukisan terakhirku. Aku senang bisa melakukannya, meskipun aku
belum melihat senyum Kaito-senpai. Ku anggap lukisan ini sebagai penggantinya.
Pada
akhirnya, aku menyadari sesuatu. Aku tidak bisa melukiskan pelangi di hati
orang lain, hanya mereka sendirilah yang bisa melakukannya. Aku hanya bisa
memberikan beberapa warna pada mereka, tapi, untuk saat ini ku pikir aku telah
gagal. Namun, aku masih punya harapan untuk mereka. Aku harap mereka dapat
menemukan cara melukis pelangi di hati mereka. Aku ingin harapan itu terwujud
meski aku akan pergi nantinya.
Ku
sentuh lukisan terakhirku ini. Dan untuk terakhir kalinya aku siap untuk pergi.
Sayonara… Okasan, Otosan, Gumiya-nii, Miku, dan Kaito-senpai.
***
Gumiya membuka
pintu kamar Gumi dan dilihatnya lukisan terakhir Gumi. Setetes air mata turun
perlahan melalui pipinya. Orang tuanya juga menangis melihat lukisan terakhir
Gumi. Sementara itu, Miku menjalani pengobatannya didampingi oleh Kaito. Saat
itulah, Kaito mulai mendapatkan kebahagiaannya lagi bersama Miku. Di sisi lain,
Rin berada di rumah sakit jiwa karena tindakannya saat itu. Len selalu setia
mendampingi saudara kembarnya itu.
Kemudian, semuanya berjalan normal ketika Rin sudah kembali dari rumah
sakit jiwa. Kesedihan saat kejadian itu seakan-akan berganti dengan pelangi,
seperti yang dilukiskan dan diharapkan Gumi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar