Rabu, 09 Juli 2014

Rainbow Paint


      “Pe-Perkenalkan namaku Megpoid Gumi. Kalian boleh memanggilku Gumi. Yoroshiku.”
      Begitulah awal masa SMA-ku dimulai di kelas X-A. Aku hanya siswi dengan model rambut pendek dan berkaca mata layaknya seorang kutu buku. Dahulu aku tidak memiliki teman sama sekali, aku hanya duduk di pojok menghindari suasana keramaian yang sedikit menggangguku.
      Aku mengambil tempat duduk dua baris dari depan dan dekat dengan jendela, tempat itulah yang paling ku suka di sekolah. Tempat yang bisa menenangkan hatiku saat aku bosan dan cukup tenang saat ku mendengarkan musik ketika istirahat dimulai.
      “Hai, kenalkan namaku Kagamine Rin. Panggil saja aku Rin. Kau juga boleh memanggilku Rin-chan,” sapa siswi berpostur tubuh seperti siswi SMP dan berambut pirang pendek dengan jepit rambutnya yang menyingkap poninya dan pita putih yang membuatnya seperti kelinci itu dengan ceria di bangku sebelahku.
      “Salam kenal, Rin-chan,” aku mencoba tersenyum padanya, ia membalas senyumku.
      “Santai saja, Gumi-chan,” ucapnya ceria.
      Aku hanya mengangguk. Pelajaran pun dimulai hingga istirahat. Seperti biasanya, aku mendengarkan musik yang aku suka, “Reboot”, lagu itu menceritakan tentang persahabatan tiga orang gadis.
      Aku menyenandungkannya sambil menatap langit di sebelah kananku, tampak di jendela seorang bayangan siswi dengan model rambut twintail panjang mendekatiku, lalu menepuk bahuku. Aku sontak menoleh dan melepaskan earphone-ku.
      “Halo, aku Hatsune Miku, yoroshiku. Ano, lagu apa yang sedang kau dengarkan? Kebetulan sekali aku sangat menyukai musik, lho!” serunya dengan suaranya yang manis dan imut.
      “A-Aku mendengarkan lagu Reboot karya Jimmy-Thumb P,” jawabku gugup.
      “Kebetulan sekali aku juga suka karyanya,” kata Miku.
      “Wah, karya Jimmy-Thumb P! Aku juga suka itu!” sambung Rin yang saat itu baru datang ke kelasnya dengan ceria.
      “Ternyata kita memiliki kesamaan, hehe,” ucap Miku.
      Lalu, dimulailah persahabatan kami. Setiap istirahat dimulai, kami selalu berbincang-bincang tentang musik yang kami sukai sambil memakan makan siang kami di kelas. Tidak hanya lagu karya Jimmy-Thumb P, tapi juga karya Yukison, Last Note, Honeyworks, dan lain-lain.
      “Gumi-chan, klub apa yang ingin kau masuki?” tanya Rin.
      “Aku belum tahu pasti,” jawabku.
      “Bagaimana denganmu, Miku-chan?” tanya Rin.
      “Aku ikut klub vokal. Kalau kau sendiri, Rin?”
      “Aku ikut klub drama,” jawab Rin. “Gumi, jangan bilang kau tidak mengikuti klub manapun.”
      “Aku akan ikut klub, kok. Hanya saja, aku akan memikirkannya terlebih dahulu,” balasku.
      “Baiklah, kami tunggu jawabanmu!” seru Rin.
      Selang beberapa lama pelajaran pun kembali dimulai. Aku kembali memikirkan klub apa yang ingin aku ikuti. Apakah aku akan mengikuti klub vokal ataukah klub yang lainnya? Aku tidak tahu. Aku terlalu pusing untuk memikirkannya. Ku lirik jam dinding di sebelah kiri papan tulis berulang kali, yang aku inginkan hanya pulang ke rumah dan memikirkan klub apa yang ingin aku ikuti.
      Akhirnya waktu yang sangat kunantikan datang juga, aku melangkah keluar diiringi Miku yang hendak bersiap menuju ruang musik untuk mengikuti klub vokal dan Rin yang bersiap untuk mengikuti klub dramanya.
      “Sampai jumpa besok, Rin, Miku,” pamitku.
      “Sampai jumpa besok, Gumi,” balas mereka bersamaan.
      Aku menghela nafas lega sambil berjalan menyusuri koridor sekolahku.
      “Brak!”
      Tiba-tiba saja, aku tersandung oleh sesuatu yang berbentuk silinder, sehingga membuat kacamataku lepas dan aku hanya bisa melihat bayang-bayang yang tidak jelas. Aku meraba-raba lantai di sekitarku berusaha untuk menemukan kacamataku.
      Seseorang memakaikanku kacamataku. Aku mengedipkan kedua mataku berulang kali. Di hadapanku, seorang siswa laki-laki yang kelihatannya dari kelas XI dengan postur tubuh yang tinggi matanya yang biru gelap bahkan lebih gelap dari birunya mata Rin dan Miku menatapku. Aku segera menundukkan wajahku dan kulihat buku-buku dan kertas tugasku bertebaran.
      “Maaf atas kesalahanku karena membuatmu terjatuh,” ucapnya sambil mengambil penanya yang membuatku terjatuh.
      “Ti-Tidak apa-apa, kok,” balasku dengan gugup.  
      Aku mengambil buku-bukuku yang keluar dari tasku akibat terjatuh tadi, sementara, siswa tersebut membantuku mengumpulkan kertas-kertas tugasku yang bertebaran. Setelah semua terkumpul, siswa laki-laki tersebut mengulurkan tangannya padaku. Aku menggenggamnya dan mulai berdiri.
       “Te-Terima kasih, S-Senpai,” ucapku.
      “Apakah kau sedang sakit? Wajahmu mulai memerah,” ucapnya.
      “Ah, eh, aku ti-tidak apa-apa,” ucapku dengan gugup, lalu segera pergi dari sana.
      Aku berjalan menuju ke tempat parkir sekolah dan mengambil sepeda merahku. Aku mengayuh sepedaku menuju rumahku. Terbayang wajah siswa tadi dalam pikiranku. Aku menggelengkan kepalaku, berusaha membuatnya menghilang dari otakku.
       Sesampainya ku di rumah, aku meletakkan sepedaku di garasi rumahku. Segera kumasuki rumahku dan kulepaskan sepatuku, lalu aku berlari menaiki tangga menuju ke kamarku. Kulepaskan seragamku, kemudian menggantungnya di lemariku, lalu ku pakai kaus oranye dan rok hijau selututku. Setelah itu, ku baringkan tubuhku di atas kasurku yang nyaman ini dan kupejamkan mataku untuk sesaat.
      Aku kembali membuka mataku dan bangkit menuju meja belajarku. Kuambil kertas pengambilan klub di dalam tasku. Untuk sejenak, aku menatap lembaran kertas itu. Mungkin aku akan mengikuti klub melukis saja. Sudah lama sekali aku tidak melukis, mungkin Gumiya-nii bisa membantuku. Ku tulis keputusanku di lembaran itu.
      “Brumm!” terdengar suara truk berhenti, sepertinya ada yang pindah ke rumah kosong di sebelah rumahku.
      Ku buka jendela kamarku dan ku lihat siapa yang pindah ke rumah itu. Aku terkejut melihat seorang laki-laki yang berdiri di depan rumah tersebut sambil membawa barang-barangnya. Laki-laki itu yang baru saja kutemui di sekolah.
      Laki-laki itu tiba-tiba menoleh ke arahku dan tersenyum. Jantung berdetak dengan cepat melihatnya, lalu sesegera mungkin aku menutup jendela kamarku. Aku tidak percaya dia akan tinggal tepat di sebelah rumahku. Ku tutupi wajahku dengan Mayu.
      Mayu adalah boneka kelinci coklat kesukaanku dengan telinga yang besar dan memiliki lubang berbetntuk hati di bagian ujungnya, matanya berupa kancing berwarna merah, dan ia memakai topi berwarna perak. Mayu juga memiliki resleting besar di perutnya dan ia juga memakai brenda hitam di lehernya dan brenda putih yang menghiasi resletingnya.
      “Gumi!” panggil okasan dari bawah.
      “Iya. Ada apa, Okasan?” sahutku dari dalam kamar.
      “Tolong bantu okasan membuat kue untuk tetangga baru kita!” perintah okasan.
      Sesegera mungkin aku keluar dari kamarku dan turun menuju ke dapur untuk membantu okasan. Aku tidak menyangka akan membuatkan kue untuk laki-laki itu. Entah kenapa, aku merasa senang sekaligus malu melakukan ini.
      “Gumi, kamu aduk adonannya, sementara okasan yang akan memanggangnya,” ucap okasan padaku.
      Aku menuruti perkataan okasan. Ku aduk adonan yang sudah disiapkan okasan itu dengan mixer. Terbesit kembali senyuman laki-laki itu. Mengapa wajahnya terus terbayang dalam pikiranku? Apakah aku sedang jatuh cinta? Ah, pastinya tidak mungkin!
      “Gumi!” panggil okasan.
      Sontak aku tersadar dari lamunanku dan mendapati pakaianku dan meja dapur penuh dengan adonan. Sesegera mungkin aku mematikan mixer-nya.
      “Ah, gomen ne, Okasan!” seruku sambil membersihkan meja dapur yang kotor akibat ulahku itu.
      “Apa yang sedang kamu pikirkan, Gumi?” tanya okasan.
      “Ti-Tidak ada,” jawabku gugup sembari tetap membersihkan.
      “Ya sudah. Okasan saja yang mengaduk, kamu yang mencetaknya saja,” ucap okasan.
      Aku mengangguk, lalu aku duduk menunggu di kursi meja makan. Gumiya-nii datang dan duduk di sebelahku. Kebetulan sekali aku ingin mengajak kakak laki-lakiku yang selisih setahun dariku ini melukis bersama sekaligus mengetes kembali kemampuan melukisku.
      “Nee, Gumiya-nii, mau melukis bersama nanti malam?” ajakku.
      “Untuk apa?” tanyanya dengan dingin, bahkan ia tidak menoleh ke arahku.
      “S-Sudah lama ki-kita tidak melakukannya, bukan? A-Aku juga ingin mengetes kemampuanku kembali,” jawabku dengan tergagap karena takut membuatnya marah.
      “Baiklah, untuk hari ini saja,” jawabnya singkat.
      “A-Arigato, onii-chan,” kataku sembari  tersenyum.
      Biasanya, onii-chan selalu tidak mempedulikanku. Semua itu berawal saat onii-chan menginjak usia tiga belas tahun. Ia selalu mengabaikanku bahkan ketika aku mengajaknya melakukan kegiatan kesukaannya, melukis. Tidak hanya itu, onii-chan juga selalu mengurung diri di kamarnya dan hanya keluar ketika makan malam atau berangkat sekolah. Meskipun begitu, okasan dan otosan tidak mempermasalahkannya. Hanya saja, aku tidak pernah tahu mengapa onii-chan seperti ini.
      “Gumi, tolong cetak kuenya!” perintah okasan dari dapur.
      “Iya,” sahutku.
      Aku mengambil cetakan berbentuk bunga matahari dari lemari dapurku, lalu ku cetak adonan yang sudah kalis itu dan kuletakkan dalam loyang satu persatu dengan hati-hati. Kemudian, okasan yang meletakkannya di pemanggang, sedangkan aku pergi mandi. Setelah selesai mandi, aku memakai baju berlengan panjang berwarna hijauku di sertai dengan rok hitam selututku.
      Aku mengeringkan rambutku dengan handuk putihku sembari kubuka jendela kamarku. Terlihat okasan pergi ke rumah laki-laki itu and memberikan kue yang tadi dibuat olehku dan okasan. Ku tutup kembali jendela kamarku, menjemur handukku kembali, dan mengambil beberapa peralatan melukis untuk ku bawa ke kamar onii-chan. Kamar onii-chan berada di sebelah tangga.
      “Gumiya-nii,” panggilku di depan pintu kamarnya sambil mengetuk pintunya. “Boleh aku masuk?” tanyaku.
      “Masuk saja,” balas onii-chan dari dalam.
      Aku pun masuk ke dalam kamar onii-chan. Kamarnya benar-benar rapi dan penuh dengan lukisan-lukisan abstrak bernuansa kelam. Aku mulai berpikir kalau onii-chan benar-benar sedang mengalami masalah besar, tapi aku tidak tahu apa itu.
      Aku meletakkan peralatan melukisku di pangkuanku dan mengambil kanvas kosong onii-chan. Kutuang warna biru, merah, kuning, hitam dan putih dalam paletku. Kulirik onii-chan yang sudah mulai melukis dengan warna hitam dan putih saja di paletnya.
      Ku goreskan kuasku yang warna biru bercampur hitam pada kanvasku. Aku ingin membuat langit malam dengan bintang bertaburan yang menghiasinya, itu mengingatkanku pada festival musim panas bersama onii-chan lima tahun yang lalu.
      Ku campurkan warna biru dengan kuning untuk membuat pohon bambu yang biasanya dibuat untuk tanabata pada musim panas. Ku lirik lagi wajah serius onii-chan yang sedang melukis itu.
      “Onii-chan, boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku.
      “Hmm.”
      “Apakah onii-chan membenciku?”
      Onii-chan berhenti melukis dan menatap tajam ke arahku. Sontak aku menundukkan kepalaku. Aku merasa ketakutan melihatnya dan aku tidak sanggup berkata apapun lagi. Aku akhirnya melanjutkan melukis di atas kanvas yang masih terisi dengan warna biru kehitaman dan hijaunya tanabata saat musim panas dengan perasaan takut bercampur sedih. Akhirnya, aku pun menyelesaikannya. Sesegera mungkin aku merapikan peralatan dan lukisanku, dan kembali ke kamarku.
      “Te-Terima kasih sudah mau me-menemaniku,” ucapku dengan gugup sambil berlalu dari kamarnya.
      Apakah aku benar-benar membuatnya marah? Tapi, aku tidak tahu apa kesalahanku pada onii-chan. Tiba-tiba, sebuah pelukan datang dari belakang. Aku terkejut.
      “Gumiya-nii?” ucapku.
      Tak ada satupun kata yang terucap. Aku hanya memegang tangan Gumiya-nii yang memelukku. Aku menoleh ke arah wajahnya yang tertunduk sedih di belakangku.
      “Jangan pernah mengatakan itu lagi!” ucapnya dengan lirih, namun tegas.
      Aku mengangguk, lalu melepaskan pelukan onii-chan. Terlihat jelas wajah suramnya itu. Aku sudah tidak tahan melihatnya seperti itu. Ingin rasanya aku meneriakinya, tapi aku tidak ingin membuat keributan, jadi ku putuskan untuk pergi meninggalkannya saja.
      Aku memasuki kamarku dan meletakkan lukisanku itu. Ku baringkan tubuhku dan ku tatap lukisan yang ku buat itu. Dalam lukisanku itu sudah terdapat dua anak dari posisi belakang sedang menunjuk langit yang gemerlap dengan tanabata di sisi kanannya. Ku lepaskan kacamata merahku dan ku tutup wajahku dengan Mayu. Ingin rasanya aku melupakan hal tadi, tapi terus saja aku mengingat tatapan tajam dari hijaunya mata Gumiya-nii.
      Hijau…yang sudah dipenuhi kegelapan…
***
      Esoknya, kami sekeluarga sarapan bersama seperti biasanya. Gumiya-nii juga bertingkah seperti tidak terjadi apapun tadi malam, sedangkan aku masih memikirkannya sambil menghabiskan sarapanku.
      “Aku berangkat!” ucapku sambil memakai sepatuku.
      “Hati-hati di jalan!” seru okasan.
      Aku menutup pintu, lalu menuju ke garasi rumahku untuk mengambil sepedaku. Setelah aku keluar rumah, aku terkejut melihat laki-laki itu yang baru keluar dari rumahnya dengan sepedanya sama sepertiku.
      “Eh, kamu yang kemarin itu, ohayou,” sapanya.
      “O-Ohayou,” balasku dengan gugup. Aku tidak menyangka dia akan mengingatku bahkan sekarang ia ada di hadapanku dan menyapaku.
      “Kita sekarang adalah tetangga, bukan? Kenalkan aku Shion Kaito. Siapa namamu?” tanyanya.
      “M-Megpoid Gu-Gumi,” jawabku.
      “Megpoid-chan, santai saja. Anggap saja aku temanmu. Mau berangkat ke sekolah bersama?” tawarnya.
      Aku mengangguk setuju. Kami pun bersepeda ke sekolah bersama. Aku tidak menyangka akan berangkat sekolah bersamanya. Ku lirik wajahnya, terlintas kesedihan di wajahnya. Ia mulai terlihat seperti onii-chan.
      “Kau ini sepertinya sangat pendiam, yah,” ucapnya.
      Aku hanya terdiam.
      “Kamu mau jadi temanku?” tanyanya.
      “Tentu,” jawabku.
      “Kalau begitu boleh aku memanggilmu Gumi? Kau juga boleh memanggilku Kaito.”
      “Boleh.” Aku tersenyum ke arahnya begitu juga dengannya.
      Sesampainya kami di sekolah, kami memarkirkan sepeda kami, lalu pergi ke kelas kami masing-masing. Dengan perasaan senang, aku duduk di bangkuku sambil menatap langit. Perasaan kecewaku terhadap onii-chan seketika sirna tergantikan oleh kebahagiaan pagi ini.
      “Ohayou, Gumi-chan!” seru Rin yang sudah datang terlebih dahulu.
      “Ohayou, Rin,” balasku sambil tersenyum padanya.
      “Kau terlihat senang sekali, Gumi. Ada apa?”
      “Ti-Tidak ada apa-apa, kok.”
      Rin mengerutkan dahinya. Biasanya ia akan melakukan itu jika sedang menyelidiki sesuatu.
      “Ohayou,” sapa Miku yang baru datang.
      “Ohayou,” balasku dan Rin bersamaan.
      “Nee, Miku-chan, Gumi tampaknya sedang…” ucap Rin,  lalu berbisik pada Miku. Aku tidak tahu apa yang ia bisakkan pada Miku.
      “Ah, ternyata itu… Pantas saja ada yang berbeda dari Gumi,” kata Miku.
      “Maksudnya apa, nih? Tidak yang aneh denganku, kok,” sanggahku.
      “Semakin kamu menyangkalnya, semakin terlihat,” ucap Rin.
      “Gumi sedang ja-tuh-cin-ta,” goda Miku.
      “Ah, ti-tidak, kok!” sanggahku.
      “Jangan disembunyikan, Gumi-chan,” goda Rin.
      “Beneran, kok,”
      Akhirnya, pembicaraan ini berakhir ketika bel pelajar pertama berbunyi. Saat pelajaran berlangsung, Rin dan Miku terkikik secara diam-diam, sementara aku sendiri hanya menghela nafas. Well, memang mungkin sebenarnya aku sedang jatuh cinta, tapi aku merasa tidak yakin akan hal itu. Mungkin aku hanya merasa kagum.
      Beberapa lama kemudian, bel tanda istirahat pun berbunyi. Aku merapikan buku-bukuku dan di saat itu juga Rin dan Miku kembali menghampiriku.
      “Eh, Gumi, lihat pertunjukan drama di acara festival sekolah lusa, ya! Miku juga diikutkan dalam drama, lho!” seru Rin.
      Eh, bukankah Miku mengikuti klub vokal? Mengapa ia bisa ikut dalam pertunjukkan drama? pikirku
      “Wah, pasti pertunjukkannya akan menarik! Tentu saja aku akan melihatnya,” ucapku.
      Aku turut senang melihat wajah ceria Rin yang memberitahuku tentang berita tersebut. Namun di sisi lain, aku merasa tertinggal oleh kedua temanku ini. Tapi, tidak masalah buatku.
      “Oh iya! Kamu ingin melihat kami latihan pada saat pulang sekolah nanti?” tanya Miku.
      “Tentu.”
      Saat pulang sekolah tiba, aku menuju ke ruang drama tempat Miku dan Rin berlatih. Saat aku baru sampai di depan pintu ruangan, aku melihat Rin yang memakai gaun, mungkin itu adalah kostum yang akan ia gunakan untuk menampilkan dramanya, sedang berlari menjauh dari seseorang yang mengejarnya dari ruang drama.
      “Rin-chan!” panggilku.
      Ia tidak merespon panggilanku sama sekali. Aku mulai mengejarnya sambil memanggil-manggil namanya.
      “Len-kun, kumohon berhentilah! Aku lelah,” teriak orang yang mengejarnya.
      Len-kun? Bukankah itu Rin? pikirku.
      Aku tetap mengejar Rin yang sempat disebut Len itu. Sampai akhirnya, ia berhenti di belakang kamar mandi sekolah.
      “K-Kamu Rin, kan?” tanyaku.
      “Rin? Tentu saja bukan. Apa Rin-nee tidak pernah memberitahumu?” katanya dengan suara yang sedikit berbeda dengan suara Rin.
      “Memberitahu apa?”
      “Plak!!”
      Tiba-tiba, Rin dengan pakaian yang sama dengan Len datang dari belakang Len dan memukul kepalanya dengan lembaran skenario tebal yang ia gulung.
      “Kamu ngapain pake kabur segala! Malu-maluin!” bentak Rin pada Len.
      “Lagian kenapa aku harus jadi putrinya sedangkan kau jadi pelayannya di bagian akhir? Lebih baik ganti cerita saja!” balas Len.
      “Eh, kalian ini kembar, ya?” selaku.
      “Eh, Gumi, aku lupa memberitahumu kalau aku ini punya kembaran, hehe... kenalkan ini adikku, Len. Dia dari kelas X-C,” ucap Rin.
      “Aku Gumi, yoroshiku. Umm, boleh aku memanggilmu Len?” tanyaku sambil tersenyum pada Len.
      “Silahkan saja,” ucap Len singkat.
      Aku beralih pada Rin. “Jadi, bisa ceritakan jalan cerita dari drama yang akan ditampilkan, Rin?” pintaku pada Rin.
      Lalu, Rin memberikan lembaran skenario tebal yang ia gunakan untuk memukul Len tadi. Aku membacanya. Skenario tersebut berjudul Servant of Evil, skenario itu menceritakan tentang seorang pelayan yang rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan seorang putri yang sekaligus merupakan kembarannya dari kemarahan Red Swordswoman dan Prince of Blue, serta para rakyat karena perintah Sang Putri untuk membunuh Daughter of Green atas rasa cemburu yang dialami oleh Sang Putri.
      “Len-kun, apakah kamu tidak membaca skenarionya?” tanyaku.
      Len memalingkan wajahnya. “Umm… sudah kok.”
      “Ceritanya bagus, kok. Kenapa harus diganti?”
      “Duk!”
      Rin memukul bahu Len. “Len bohong!” bentaknya.
      “Aduh! Bisakah kamu berhenti memukulku?”
      Sementara mereka berdua bertengkar, aku membaca peran-peran dalam cerita tersebut. Rupanya Rin memerankan Sang Putri dengan nama Daughter of Evil, sedangkan Len memerankan Servant of Evil. Ah, Miku memerankan Daughter of Green. Yang memerankan Red Swordswoman adalah Meiko-sensei, guru yang membina klub drama. Lalu, yang memerankan Prince of Blue adalah Kaito-senpai. Eh, tunggu, Kaito-senpai? Wah, dia ternyata mengikuti klub drama juga! Aku penasaran bagaimana penampilannya lusa.
      “Gumi, maaf sudah membuang-buang waktumu dengan pertengkaran kami. Ayo, kita ke ruang drama!” ajak Rin ceria seperti biasanya sambil pergi dengan menarik Len dengan paksa.
      “Ah, ya!” kataku mengiyakan sambil mengikuti Rin dari belakang.
      “Rin-nee, berhentilah menarikku seperti ini!” keluh Len.
      “Sudahlah, jangan banyak mengeluh!” bentak Rin.
      Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua yang lucu itu. Tak lama kemudian, kami tiba di ruang drama. Di depan pintu sudah ada Miku dan Kaito-senpai yang terlihat menunggu.
      “Kalian ini kemana saja? Kami sudah menunggu lama sekali,” ucap Miku pada Rin dan Len.
      “Gomen… gomen… ini semua gara-gara Len,” kata Rin sambil menunjuk Len yang cemberut akibat perlakuan Rin padanya.
      “Eh, Gumi, mau melihat kami berlatih drama?” tanya Kaito-senpai.
      “I-iya, Senpai,” jawabku sembari tersenyum ke arahnya.
      Kaito-senpai membalas senyumku. Seperti biasanya, jantungku berdetak dengan kencang melihatnya. Aku melirik ke arah Miku yang melihat ke arahku, wajahnya terlihat pucat. Aku merasa agak curiga padanya.
      “Ano, Miku-chan, kamu tidak apa-apa?” tanyaku.
      “Ah, aku tidak apa-apa, kok, hehe,” jawab Miku sembari menggaruk kepalanya.
      Aku melihat ke arah Kaito-senpai kembali.  Wajah sedihnya kembali terlihat. Entah kenapa aku merasa bersalah.
      “Ya sudah. Ayo, kita lanjutkan latihannya!” ajak Rin.
      Kami berlima pun memasuki ruang drama yang memiliki satu cermin dan sebuah panggung kecil. Mereka menghafal naskah mereka sembari berlatih menghayati peran mereka, sedangkan aku hanya menonton dari depan panggung. Mereka tampak bersenang-senang, terkadang diiringi sedikit candaan, aku tersenyum melihat mereka dari sisi lain mereka. Namun, sekilas aku melihat wajah sedih Kaito-senpai saat menatap Miku.
      Beberapa lama kemudian, mereka berempat selesai latihan dan bersiap untuk pulang begitu juga denganku.
      “Sampai jumpa besok, semuanya!” seru Rin.
      “Sampai jumpa besok,” serempak semuanya.
      Aku pergi menuju ke tempat aku parkir memarkirkan sepedaku dan mengambil sepedaku. Di sebelahku, Kaito-senpai juga mengambil sepedanya.
      “Jadi, Senpai, ikut klub drama?” tanyaku.
      “Ah, tidak. Aku ikut klub vokal, tapi karena ini drama musical, jadi beberapa anggota dari klub vokal ikut serta dalam drama ini,” jawabnya.
      “Oh begitu,”
      Ketika kami sampai di depan gerbang, kami mengayuh sepeda kami bersama-sama. Ingin rasanya aku menanyakan apa yang membuatnya tampak murung. Aku tahu ini terlalu mendadak, tapi aku ingin sekali mempertahankan senyumannya.
      “Umm, mengapa kamu tampak murung?” tanyaku.
      “Murung? Aku tidak apa-apa, kok,” jawabnya.
      “Aku selalu melihatmu murung, meskipun itu hanya sekilas. Aku harap aku dapat membantumu menyelesaikan masalahmu, tapi jika kau tidak mau, tidak apa-apa,” kataku.
      Kaito-senpai tersenyum padaku. Aku hanya menundukkan wajahku dengan malu.
      “Kau ini ternyata sangat perhatian sekali. Baiklah, aku akan memberitahumu, tapi pada jam empat nanti di rumahku. Tidak apa-apa, kan?” tawar Kaito-senpai.
       Aku mengangguk dan tersenyum padanya.
      Setelah kami sampai di depan rumah kami masing-masing, kami melambaikan tangan. Aku tidak pernah merasa sesenang ini. Aku memasukkan sepedaku ke dalam garasi rumahku, kemudian memasuki rumahku.
      “Tadaima!” ucapku sambil melepaskan sepatuku.
      “Okaeri!” balas okasan. “Mengapa kamu pulang terlambat, Gumi?” tanya okasan.
      “Aku menonton teman-temanku berlatih drama,” jawabku.
      Aku memasuki kamarku dan ku letakkan tas sekolahku. Kemudian, aku mengganti pakaianku dengan kaus hijau dengan dengan gambar bunga matahari dipadukan dengan jaket kuningku dan celana panjangku. Lalu, ku pakai jepit rambut merahku di poni kananku. Ku tatap jam dindingku yang masih menunjukkan jam setengah empat itu.
      Aku duduk di tempat tidur dan memeluk Mayu. Aku memikirkan jawaban apa yang akan Kaito-senpai beritahu padaku. Aku benar-benar penasaran, bahkan aku tidak dapat memikirkan kemungkinan yang ada. Untuk sesaat, ku lirik jam dindingku yang baru menunjukkan pukul empat. Sesegera mungkin aku, bangkit dari tempat tidurku dan menuju ke rumah Kaito-senpai.
      “Ting-tong!” ku tekan bel rumah Kaito-senpai.
      “Sumimasen!” ucapku.
      Seorang perempuan dengan mata sebiru Kaito-senpai membukakan pintu untukku. Sepertinya ia adiknya Kaito-senpai.
      “Silahkan masuk,” katanya ramah sambil mempersilahkanku masuk.
      Aku pun masuk ke dalam rumahnya. “Terima kasih,” ucapku sembari tersenyum. “Umm, aku kemari untuk bertemu Kaito-san,” kataku.
      “Oh, begitu. Tunggu sebentar, ya, akan ku panggilkan,” katanya sembari masuk ke ruangan lain.
      Beberapa saat kemudian, perempuan itu kembali dengan membawa dua gelas minuman dingin dan sepiring kue kering berbentuk es krim.
      “Kaito-nii sedang ada urusan sebentar, jadi bisa menunggu dulu?” tanyanya dengan sopan.
      “Uh,” jawabku sembari menganggukkan kepala.
      “Kamu ini tetangga sebelah, ya? Kenalkan namaku Kaiko, adik Kaito-nii. Siapa namamu?”
      “Na-namaku Megpoid Gumi,”
      “Ah, Gumi, kau sudah datang rupanya. Ayo masuklah!” ajak Kaito-senpai yang baru keluar.
      Aku pun mengikuti Kaito-senpai menuju ruangannya. Sesampainya di depan ruangannya, seseorang yang sedang memakan cemilan pedas bersandar di sebelah pintu ruangannya menatapku dan Kaito-senpai keheranan.
      “Tidak biasanya kau membawa seseorang ke ruanganmu,” ucapnya.
      Kaito-senpai tidak menghiraukannya dan tetap memasuki ruangannya, sementara aku sendiri tetap mengikuti Kaito-senpai masuk ke dalam ruangannya.
      “Ta-tadi, kakaknya senpai, ya?” tanyaku.
      “Ya begitulah,” jawabnya.
      “Jadi, Kaito-senpai, bisa tolong ceritakan me-mengapa Kaito-senpai selalu murung?”
      “Kita ini sekarang teman, bukan? Jadi, bisa tidak memanggilku senpai?”
      “Umm, baiklah.”
      “Nah, tentang masalahku, aku murung karena…”
      “Karena?”
      “Persediaan es krimku dimakan oleh kakakku belakangan ini.”
      “Hee?”
      Aku tidak menyangka jawabannya akan seperti ini. Aku benar-benar terkejut sekaligus meragukan jawabannya itu.
      “Hanya itu saja, Sen− maksudku Kaito-kun?” tanyaku memastikan.
      “Ya begitulah, pasti sia-sia buatmu datang ke sini hanya untuk mendengarkan alasanku yang sepele ini,”
      “Ti-tidak kok. Ngomong-ngomong, apakah Kaito-kun merasa lebih baik sekarang?”
      “Um, ya. Terima kasih, Gumi-chan. Ternyata kau ini seorang pendengar yang baik.”
      “Hehe, aku ini biasa saja kok,” ucapku sembari menggaruk kepalaku.
      Aku senang, tapi ada yang ganjil di sini. Ini terasa berbeda dari yang ada, berbeda dari apa yang aku rasakan ketika aku melihat wajah sedihnya. Aku tahu kalau dia sudah berbohong padaku. Tapi, tidak apalah, aku tidak ingin membebaninya.
      Aku melihat sekeliling, berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan saat itu juga aku melihat bingkai foto anak-anak sekitar umur tujuh tahunan.
      “Kaito-kun, ini foto siapa?” tanyaku sembari mengambil bingkai foto tersebut.
      “Ah, itu fotoku dan teman-temanku ketika aku masih berada di kampong halamanku,” jawab Kaito-senpai.
      Aku melihat ke arah foto tersebut. Di dalam foto tersebut, Kaito-senpai tampak lucu dengan syal birunya. Di sebelahnya ada seorang anak perempuan dengan model rambut kepang satu yang hampir mirip dengan Miku, kemudian dua anak yang kelihatannya adalah kakak dan adik Kaito-senpai.
      “Kaito-kun, yang ini siapa? Ini sepertinya mirip dengan Miku,” kataku sambil menunjuk foto anak perempuan yang mirip dengan Miku.
      “Itu hanya teman masa kecilku,” jawabnya muram.
      “Oh begitu,”
      Dengan begitu, aku menyimpulkan kalau ada sesuatu diantara Kaito-senpai dan anak perempuan ini. Aku melihat foto ini baik-baik, Kaito-senpai terlihat berpegangan tangan dengan anak perempuan itu. Entah kenapa, aku merasakan perasaan yang mendalam mengenai apa yang ada di dalam foto tersebut. Sesuatu yang aku pikir tidak akan aku dapatkan.
      Aku bangkit dan meletakkan foto tersebut ke tempatnya semula. Aku ingin sekali manatap lebih jauh ke dalam matanya yang biru itu, tapi itu semua sudah cukup bagiku. Sepertinya aku hanya beban di sini. Mungkin sebaiknya aku pergi saja dari sini. Tapi, rasanya aku ingin melukiskan pelangi di dunia Kaito-senpai yang saat ini sedang penuh dengan rintik-rintik hujan.
      “Kaito-kun, sebaiknya Kaito-kun hanya memberi peringatan saja pada kakak Kaito-kun supaya es krim Kaito-kun tidak dihabiskan lagi olehnya. Satu hal lagi, aku ingin melihat Kaito-kun tersenyum dengan tulus. Aku pamit pulang,” ucapku sembari keluar dari ruangannya.
      “Cepat sekali kau keluar, tidak betah?” tanya kakak Kaito-senpai.
      “Bukan begitu. Ah, iya sebaiknya Kakak tidak memakan es krim Kaito-kun lagi. Kakak tidak mau membuat dia sedih, kan?” ucapku.
      Dia tertawa, tapi aku tidak menghiraukannya.
      “Dia bilang begitu padamu? Hahaha, lucu sekali,” tawanya.
      “Aku sudah tahu kalau itu hanya kebohongannya,” gumamku sembari pergi meninggalkannya.
      “Kaiko-san, aku pamit pulang,” kataku sembari tersenyum pada Kaiko.
      “Ah, ya,” balasnya ramah.
      Aku keluar dari rumah tersebut. Aku harap esok akan berubah kembali seprti semula seperti halnya aku dan Gumiya-nii.
      “Tadaima!” ucapku.
      “Okaeri!” balas Gumiya-nii.
      Suatu hal yang tidak biasa buatku karena Gumiya-nii membaalasku, tapi aku tidak peduli. Saat ini, hatiku seperti lukisan abstrak yang bercampur dengan warna hitam,  jadi aku hanya melewati kakakku itu dengan tenang seperti hal yang sangat biasa untukku.
      “Jangan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, Gumi,” ucapnya.
      “Kaulah yang bertingkah seperti itu,” balasku dengan tenang dan dingin sembari menaiki tangga menuju kamarku.
       Di dalam kamar, aku ingin melukiskan apa yang ada di hatiku. Bagiku melukis adalah tempat untuk menampung beban yang aku rasakan.  Aku mengambil buku gambarku, kuas, palet dan cat airku. Ku tuangkan warna hitam dan merah. Warna-warna itu yang sekarang berada di hatiku dan pikiranku. Ku goreskan kuas ini sesuai apa yang ada di hatiku.
      Harapanku saat ini hanya satu, yaitu aku ingin semuanya kembali seperti semula besok. Dan aku ingin menghilangkan noda hitam dalam warna merahku. Warna merahku yang mulai ternodai.
      Ya, merah yang sudah ternodai…
***
      Esoknya, harapanku terkabul. Semuanya kembali normal sesuai apa yang aku harapkan. Aku kembali berangkat sekolah bersama Kaito-senpai dan mengobrol tanpa ada masalah apapun. Di sekolah pun seperti biasanya. Aku, Miku, dan Rin mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan, seperti biasanya.
      Meskipun normal, semua itu tetaplah kebohongan. Meskipun aku melihat senyuman Kaito-senpai di pagi hari, meskipun aku mendapat perlakuan normal dari onii-san, meskipun aku sendiri bertingkah seolah tidak mengetahui apapun dan tidak ingin mengetahui apapun, tapi semua itu bohong. Aku berfikir, apakah aku harus hidup di dalam kebohongan orang-orang di sekitarku atau aku ini orang yang tidak penting yang tidak seharusnya ada di antara mereka?
      Aku meneguk jus wortel kesukaanku sembari menatap jendela di sebelahku. Di bawah sana, Kaito-senpai tersenyum dan mengobrol dengan teman-temannya seolah tidak terjadi apa-apa. Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Memang tidak terjadi apa-apa, kan? Arggh, semua ini memusingkan!
      “Gumi, kamu tidak seperti biasanya, ada apa?” tanya Miku.
      “Aku hanya bingung, tapi itu semua tidak masalah. Ngomong-ngomong, boleh aku tanya sesuatu padamu?”
      “Tentu saja.”
      “Apa hubunganmu yang sebenarnya dengan Shion-senpai? Aku tahu kau akan terkejut mendengarnya, tapi bisakah kau menjawabnya dengan jujur?”
      Wajah Miku tampak terkejut mendengar pertanyaanku. “Kok tiba-tiba kamu bicara seperti itu, Gumi?”
      “Ya sudah. Lupakan saja, Miku-chan,” ucapku dengan ramah sembari beranjak dari bangkuku untuk membuang kotak jus wortelku yang telah habis.
      Aku sedikit merasa bersalah padanya. Apakah aku membuatnya tersinggung? Aku hanya ingin tahu tentang wajah sedih Kaito-senpai dan wajah Miku di bingkai foto itu.
      Aku kembali ke bangkuku. Di belakangku, Miku menatapku serius, sedangkan aku sendiri hanya berusaha agar tidak bertatapan dengannya.
      “Kau menyukai Shion-senpai, ya?” ucap Miku dengan nada menggoda.
      Aku hanya menundukkan kepalaku. “Tidak, aku hanya menganggapnya teman antar tetangga.”
      Aku sebenarnya menyukai Kaito-senpai, tapi aku takut Kaito-senpai tidak menyukaiku sebagai lebih dari sekedar teman karena aku tahu Kaito-senpai menyukai Miku, teman masa kecilnya. Aku takut dengan rasa sakit yang aku rasakan nantinya. Tapi, sebagai gantinya, aku akan membuat Kaito-senpai tersenyum. Akan ku lukis pelangi di hati Kaito-senpai.
      “Miku-chan sendiri bagaimana? Kamu ini teman masa kecilnya, kan? Aku melihat fotomu di kamarnya, saat aku berkunjung ke rumahnya.”
      “Aku…”
      “Nee, kalian sedang membicarakan apa? Kelihatannya serius,” tanya Rin yang datang dengan tiba-tiba.
      “Hanya membicarakan soal kimia, kok, Rin,” jawabku berbohong.
      “Oh begitu. Nee, Miku, nanti latihan drama lagi, lho!” ucap Rin pada Miku.
      Mereka mulai mengobrol heboh tentang latihan drama mereka di belakangku, sedangkan aku sendiri hanya diam dan menatap keluar jendela. Mungkin memang benar, seharusnya aku tidak ada di antara mereka.
      Sepulang sekolah, aku langsung mengambil sepedaku dan pulang ke rumah. Aku benar-benar merasa lelah untuk apa yang terjadi hari ini, meskipun hampir seluruh siswa disibukkan dengan perayaan festival sekolah yang akan di selenggarakan besok. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju ke kamarku dan memeluk Mayu. Aku mencurahkan semua isi hatiku pada Mayu.
      “Nee, Mayu, apakah aku ini orang yang harus melihat kebohongan orang-orang di dekatku? Aku tahu, kebohongan itu memang manis dan aku tahu, tidak seharusnya aku mencampuri urusan orang lain. Tapi, setidaknya aku ingin berguna. Aku ingin bisa membahagiakan mereka. Apakah aku salah, Mayu?”
      “Nee, Mayu, tiba-tiba saja aku ingat perkataan onii-chan padaku saat itu, ketika aku berusaha membantu onii-chan yang sedang diganggu oleh teman-temannya. Ia mengatakan aku ini hanya menjadi beban untuknya dan aku ini tidak berguna. Mungkin yang dikatakan onii-chan saat itu memang benar.”
      “Hahaha, lucu, ya? Mengapa aku memikirkan hal yang tidak berguna ini?”
      Aku tertawa sekaligus meneteskan air mata. Sesegera mungkin ku hapus air mata ini. Untuk apa aku menangis? Untuk apa aku memikirkannya? Untuk apa aku…
      Untuk sejenak aku terdiam dan pikiranku kosong. Untuk saat ini, aku hanya lukisan abstrak yang penuh dengan coretan warna hitam. Aku menghela nafas dan membuka jendela kamarku. Ku tatap langit yang berwarna biru, tapi sedikit tertutup awan. Biru… seperti warna iris mata Kaito-senpai, Kaiko-san, Miku, Rin, dan Len-kun.
      Biru…yang bercampur dengan warna kelabu.
***
      Hari ini adalah perayaan festival sekolah yang diadakan setahun sekali. Seperti biasanya, aku ini hanya terlihat seperti siswa biasa yang berjalan-jalan sendirian di tengah keramaian. Anehnya, aku tidak merasa kesepian sama sekali dan teman-teman sekelasku tidak mencariku sama sekali. Ah, aku tidak peduli.
      Aku berencana untuk membeli crepes coklat, lalu pergi menuju pertunjukan drama Rin, Miku, Kaito-senpai, dan Len-kun yang diadakan pada jam dua siang. Tapi, sebelum itu, aku sedikit bermain-main ke acara yang sudah di siapkan oleh kakak kelas. Semua itu hanya ku lakukan sendirian. Ya, sendirian…
      Tiga menit sebelum pertunjukkan drama Rin, Miku, Kaito-senpai, dan Len-kun dimulai, aku sudah berada di sana dan duduk di barisan depan. Aku memakan crepes coklatku, sembari menunggu pertunjukkannya dimulai.
      Akhirnya, Rin yang berperan sebagai Daughter of Evil pun sudah berada di atas panggung dengan Len-kun yang berada di sebelahnya sebagai Servant of Evil. Pertunjukkan pun dimulai. Aku kagum, mereka dapat memerankan peran mereka masing-masing dengan penuh penghayatan.
      Saat Miku dan Kaito-senpai naik ke atas panggung sebagai Daughter of Green dan Prince of Blue yang saat itu dalam adegan berjalan bersama-sama, aku merasa… bagaikan sebuah warna yang tidak cocok jika berdekatan dengan warna lain, warna yang menjadi sebuah pembatas antar warna-warna lain.
      Setelah pertunjukkan selesai, aku berusaha melambaikan tanganku ke arah mereka, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang memperhatikanku. Jadi, aku memutuskan untuk pulang karena aku merasa tidak memiliki warna lagi.
      “Apakah kau tidak memiliki warna yang tersisa?” ucap seseorang sembari memegang bahuku.
      Aku menoleh ke arahnya dengan lemah dan seketika itu aku terkejut, karena orang itu adalah Gumiya-nii.
      “Aku hanya beban untuk onii-chan, jadi onii-chan pulang saja dan melukis sesuka hati onii-chan!” usirku sembari melepaskan tangan itu dengan kasar dan berlalu darinya.
      Aku tidak berjalan menuju ke rumah, melainkan ke sebuah taman bermain. Di sana, aku menduduki ayunan sembari menatap kuning yang bercampur jingganya langit yang lama-kelamaan tertutup oleh awan kelabu yang menurunkan setetes demi setetes air hujan yang mulai membasahi wajahku dan tubuhku.
      Warna jingga dan kuning itu… sudah tidak cerah lagi…
      “Ayo, kita pulang!” ajak Gumiya-nii sembari memberikan payung ungunya padaku.
      Aku yang masih frustasi menepis tangan Gumiya-nii dengan keras sehingga membuat payungnya terjatuh dan kotor. Payung ungu itu kotor. Ungu itu…ternodai.
      “Jika kau ingin melukis pelangi pada hati orang lain, jangan pernah nodai warnamu sendiri!” ucap Gumiya-nii.
      “Apa pedulimu? Pulang sendiri saja sana!” usirku.
      “Dengar, aku minta maaf atas perkataanku dulu. Aku benar-benar menyesal sudah mengatakan itu. Saat itu, aku hanya malu pada diriku sendiri karena aku tidak bisa berani sepertimu. Gomen ne, Gumi,”
      Gumiya-nii mengelus kepalaku dengan lembut. Aku menatap ke arah matanya. Mata hijau itu sudah tidak terasa kosong lagi dan pada akhirnya aku melihat senyum Gumiya-nii. Tanpa sadar, aku pun ikut tersenyum.
      “Aku juga minta maaf karena kasar padamu.”
      Aku bangkit dari ayunan yang aku duduki dan menggenggam tangan Gumiya-nii. Tangannya terasa hangat dan nyaman, sehingga membuatku merasa aman.
      “Terima kasih, Onii-chan,” ucapku sembari melepaskan tangan Gumiya-nii.
      “Ya. Sekarang, ayo pulang!” ajaknya.
      Aku pun berjalan kembali menuju sekolah untuk mengambil sepedaku. Lalu, kami pulang menaiki sepeda bersama-sama dengan perasaan yang lebih baik. Sejak saat itu, aku dan Gumiya-nii menjadi lebih dekat.
      Hijau yang gelap itu sekarang sudah terisi dengan kecerahan…
***
      Hari ini berjalan sesuai hari-hari biasanya. Hanya saja… aku masih kehilangan warnaku, sehingga membuatku menyendiri seperti dulu. Miku dan Rin mengobrol dengan cerianya, seperti biasanya.
      “Nee, Gumi, mengapa kemarin tidak datang ke festival sekolah?” tanya Rin.
      Tidak datang? Mereka benar-benar tidak memperhatikanku saat itu. Ya sudahlah, pasti mereka terlalu senang sampai tidak memperhatikanku.
      “Aku datang. Aku juga melihat pertunjukkan drama kalian,” jawabku.
      “Jadi, bagaimana pertunjukannya?”
      “Bagus. Kalian terlihat kompak dan sangat menghayati peran masing-masing saat itu.”
      “Oh begitukah?”
      “Ya. Tapi, mengapa kamu merasa tidak puas?”
      “Bukan begitu, hanya saja aku merasa… entahlah.”
     Rin yang biasanya terlihat ceria seperti pirangnya rambut pendeknya, tapi sekarang ia terlihat suram seperti warna kelabu.
      “Rin…”
      “Ah, sudahlah lupakan!” seru Rin ceria sembari pergi menuju bangkunya.
      Karena sekarang masih jam istirahat, aku ingin menemui Kaito-senpai yang berada di kelas XI-A. Sesampainya aku di tembok yang akan berbelok menuju kelasnya, aku melihat Miku yang sedang berbicara pada Kaito-senpai di sebelah pintu kelasnya.
      “Jadi, aku ingin kamu tidak mendekatiku lagi!” ucap Miku dengan tegas sembari pergi meninggalkan Kaito-senpai yang hanya terkejut memandanginya dan terlihat lagi mata biru sedih itu.
      Aku hanya bisa diam dan kembali ke kelasku. Di sisi lain, aku menyadari bahwa Kaito-senpai menyukai Miku. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana perasaan Miku pada Kaito-senpai. Untuk saat ini, aku mungkin akan men-support-nya nanti.
      Sepulang sekolah, aku menemui Kaito-senpai yang berada di parkiran sepeda sekolah. Aku berpikir untuk membicarakan tentang festival sekolah kemarin.
      “Kaito-senpai, kemarin pertunjukkan kalian hebat, lho! Menurutmu bagaimana?” tanyaku.
      “Gumi, bisakah kamu menjauh dariku? Aku merasa kehadiranmu adalah beban bagiku. Aku juga benci melihatmu, mendengar suaramu, dan aku muak jika bersamamu. Aku sudah muak denganmu!” bentaknya sembari berlalu dengan sepedanya dariku.
      Aku hanya terdiam. Masih terngiang kata-kata Kaito-senpai di dalam pikiranku. Jadi, kehadiranku adalah beban baginya. Mengapa? Apa salahku? Aku hanya ingin melihat Kaito-senpai tersenyum. Sudah cukup! Aku mengepalkan tanganku dan berlari menuju ruang vokal, tempat Miku berada.
      “Miku, bisa aku bicara denganmu?”
       Miku yang memegang lembaran lagu itu menatapku dengan pasrah dan mengangguk. Aku mengajaknya ke tempat pojok ruangan. Aku benar-benar ingin membicarakannya dengannya secara langsung sekarang.
     “Nee, Miku, sebelumnya maafkan aku. Aku sebenarnya memang punya perasaan terhadap Shion-senpai, tapi Shion-senpai tidak akan pernah membalas perasaanku karena aku tahu Shion-senpai hanya memiliki perasaan padamu. Kamu pun begitu, bukan?”
      Miku tidak menjawab apa pun, jadi akan aku lanjutkan pembicaraan ini.
     “Aku hanya ingin melihat senyum tulus dari Shion-senpai. Jadi, mengapa kau mengatakan hal itu pada Shion-senpai?”
    “Aku tahu kalau dia memilki perasaan padaku, tapi aku tidak ingin membuatnya khawatir tentang penyakitku ini. Maaf aku tidak mengatakannya pada kalian.”
      “Aku mengerti. Tapi tidak seharusnya kamu bertindak seperti itu. Itu akan sama saja. Seharusnya kau mengatakan yang sebenarnya. Hanya ini saja yang ingin aku katakan padamu. Terima kasih sudah mendengarnya.”
      Aku tersenyum pada Miku dan pergi menuju ke parkiran sepeda sekolah, lalu pulang ke rumah. Aku harap Miku dan Kaito-senpai dapat menemukan celah untuk mengerti satu sama lain. Dan aku sudah tidak peduli lagi dengan perkataan Kaito-senpai padaku, tapi aku juga merasa sedih karena sudah tidak bisa bersama Kaito-senpai lagi.
***
      Hari ini aku berangkat sekolah tanpa Kaito-senpai. Sepertinya Kaito-senpai benar-benar muak dengan adanya diriku. Ya sudahlah, tidak apa-apa jika itu membuatnya senang.
      Miku dan Rin yang sudah datang, sedang mengobrol ria seperti biasanya, sementar aku hanya berdiam diri. Aku berpikir kalau Miku pasti akan mengatakannya.
      Sepulang sekolah, aku mengikuti Miku ke lapangan olah raga. Di sana, sudah ada Kaito-senpai yang menunggunya. Aku bersembunyi di semak-semak untuk melihat apa yang terjadi, meskipun aku tidak mendengar apa yang mereka berdua katakan. Kaito-senpai memeluk Miku dengan erat sembari menangis, tapi ia tidak terlihat sedih sama sekali.
      Di sisi lain, aku melihat bayangan yang terlihat mengawasi di balik pohon yang berada di sebrangku. Saat bayangan itu mulai sedikit menampakkan diri, aku tahu kalau itu Rin yang sedang membawa sebuah pisau. Sedang apa dia di sini? Dan mengapa ia membawa pisau?
      Rin mendekati mereka berdua dan berteriak ke arah mereka.
    “Shion-senpai, apakah rasa cintaku ini tidak cukup? Mengapa kau lebih memilihnya daripada aku? Karena suaranya yang manis itu, ya, Senpai? Kalau begitu apa yang terjadi jika aku mengambil suara Miku? Apakah Senpai akan membalas cintaku? Jawab aku, Senpai!” teriak Rin sembari menusuk bahu Kaito-senpai dengan cepat.
      Untuk sejenak, aku teringat kata-kata Rin yang pernah diucapkannya padaku saat ia terlihat tidak puas. Di saat itulah aku tahu apa yang sedang Rin lakukan, Rin mencoba membunuh Miku karena rasa cemburunya. Aku segera berlari ke arah Rin yang sudah siap menusukkan pisaunya pada Miku.
      “Slap!”
      Perutku tertusuk oleh pisau Rin. Darahku menetes dan membuat seragamku yang putih berwarna merah. Aku hanya memegangi pisau yang menancap di perutku. Miku berdiri ketakukan sembari memegang telepon genggamnya, sedangkan Rin hanya tertawa keras.
      “Nee, Gumi, mengapa kau selalu ikut campur? Kamu ini hanya membebankan orang lain. Kamu ini sudah sepantasnya MATI!!” ucap Rin sembari menarik pisaunya dari perutku, kemudian ia tusukkan lagi pisau itu ke jantungku berkali-kali, sedangkan aku sendiri yang sudah tidak sanggup bergerak, hanya pasrah menerimanya.
      Tiba-tiba saja, semuanya mulai lenyap secara perlahan. Aku memandangi tanganku yang berlumuran warna merah dan ku lihat Miku yang ketakutan dan Kaito-senpai yang kesakitan. Aku tidak menyangka kalau Rin akan seperti ini. Mengapa semuanya menjadi seperti ini?
        Aku sudah merasa tidak kuat lagi. Pada akhirnya, semuanya berwarna hitam. Semua menjadi hitam dan aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak tahu…
***
      Aku terbangun. Di hadapanku, Gumiya-nii, Okasan, Otosan, Miku, dan Kaito-senpai Gumiya-nii, Okasan, Otosan, Miku, Keluarga Shion, dan yang lainnya tertunduk sedih di depan makam seseorang. Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan di benakku. Apa yang terjadi? Siapa yang dimakamkan di sana?
      “Okasan, apa yang terjadi?” tanyaku sembari menyentuh bahu okasan.
      Okasan tetap menangis dan sepertinya ia tidak mendengarkanku, bahkan tidak melihatku. Aku melihat ke arah tanganku yang masih berlumuran darah, begitu juga dengan tubuhku. Apakah aku sudah mati?
      Aku mendekati makam tersebut. Setelah ku baca batu nisan makam tersebut, aku menyadari kalau itu adalah makamku. Aku hanya bisa menerima hal itu. Hanya saja, aku belum mewujudkan apa yang aku inginkan. Aku belum melukiskan sebuah pelangi di hati Kaito-senpai dan justru merusaknya. Apakah aku ini hanya sebuah beban?
      Aku melangkah keluar dari pemakaman itu dan pergi menuju tempat yang aku inginkan, sebuah taman tempat aku mendapatkan senyuman Gumiya-nii. Sendiri ku menatap jingganya matahari terbenam yang mulai berpadu dengan gelapnya malam. Ingin sekali aku melukis untuk terakhir kalinya. Lukisan terakhirku.
      Ya, lukisan terakhirku! Aku berlari menuju ke rumahku. Sesampainya ku di sana, ada Len duduk dengan wajah menyesal dan di hadapannya okasan dan otosan menatapnya serius.
      “Saya sebagai adiknya, meminta maaf atas perlakuan kakakku yang telah membunuh putri anda. Saya turut menyesal atas kejadian ini,” ucap Len dengan sopan.
      “Sudahlah tidak apa-apa. Kami juga sebagai orang tuanya, sudah merelakan kepergiannya,” kata okasan.
      Aku melanjutkan langkahku menuju kamarku. Di sana, ku ambil kanvasku, tapi aku tidak bisa memegangnya. Aku tidak tahu harus bagaimana. Tanpa sengaja, aku menggunakan telekinesis pada Mayu, sehingga membuat Mayu terjatuh. Di saat itu juga aku tahu apa yang harus aku lakukan.
      Dengan telekinesis, aku berusaha membuat pelangi di dinding kamarku sebisa mungkin, tapi hasilnya tidak terlalu mirip dengan pelangi, namun semua itu tidak masalah. Inilah lukisan terakhirku. Aku senang bisa melakukannya, meskipun aku belum melihat senyum Kaito-senpai. Ku anggap lukisan ini sebagai penggantinya.
      Pada akhirnya, aku menyadari sesuatu. Aku tidak bisa melukiskan pelangi di hati orang lain, hanya mereka sendirilah yang bisa melakukannya. Aku hanya bisa memberikan beberapa warna pada mereka, tapi, untuk saat ini ku pikir aku telah gagal. Namun, aku masih punya harapan untuk mereka. Aku harap mereka dapat menemukan cara melukis pelangi di hati mereka. Aku ingin harapan itu terwujud meski aku akan pergi nantinya.
      Ku sentuh lukisan terakhirku ini. Dan untuk terakhir kalinya aku siap untuk pergi. Sayonara… Okasan, Otosan, Gumiya-nii, Miku, dan Kaito-senpai.
***
      Gumiya membuka pintu kamar Gumi dan dilihatnya lukisan terakhir Gumi. Setetes air mata turun perlahan melalui pipinya. Orang tuanya juga menangis melihat lukisan terakhir Gumi. Sementara itu, Miku menjalani pengobatannya didampingi oleh Kaito. Saat itulah, Kaito mulai mendapatkan kebahagiaannya lagi bersama Miku. Di sisi lain, Rin berada di rumah sakit jiwa karena tindakannya saat itu. Len selalu setia mendampingi saudara kembarnya itu.
          Kemudian, semuanya berjalan normal ketika Rin sudah kembali dari rumah sakit jiwa. Kesedihan saat kejadian itu seakan-akan berganti dengan pelangi, seperti yang dilukiskan dan diharapkan Gumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar