Tanggal 16
Februari. Siang itu, Delia membaca pengumuman yang tertera
di papan mading kelasnya. Ia tertunduk
dan menghela nafas. Gadis berambut pendek berantakan
itu mulai pergi dari sana, menuju bangku coklat yang berada di ujung kelasnya.
Kini, pikirannya tertuju pada orangtuanya yang meninggalkannya bersama
Aiko, sepupunya yang saat ini berusia dua puluh dua tahun sejak ia keluar dari
rumah sakit ketika ia berumur tujuh tahun. Meski begitu, Aiko, paman, dan
bibinya selalu mengatakan kalau orang tuanya selealu menyayanginya dimanapun
mereka berada, akan tetapi kadang terbesit dipikiran Delia bahwa orang tuanya
tidak menginginkannya lagi. Ia bahkan tidak mengingat wajah orang tuanya. Saat
ini, Aiko-lah yang selama ini merawatnya. Karena itulah, ia selalu diabaikan
dan dibenci oleh hampir semua siswa di sekolahnya, bahkan ia sendiri selalu di-bully,
sehingga tubuh Delia penuh dengan bekas luka.
“Heh, Devilishia!” panggil Angie, salah satu teman
sekelasnya yang merupakan ketua dari kelompok belajarnya. Delia tidak menoleh.
Ia sengaja melakukannya karena siswa-siswa di sekolahnya juga mengganti nama
belakangnya dari Angelishia menjadi Devilishia dengan mengganti kata “Angel”
menjadi “Devil”.
“Heh, Devil! Apa kau sudah
tuli?!” teriaknya lagi.
Akhirnya Delia menoleh.
“Siapa yang kau maksud? Aku? Maaf, sudah jelas namaku bukan Devilishia,” sarkastik Delia.
“Kau sangat pantas
menyandangnya, Devil. Ngomong-ngomong, kerjakan tugasmu sebagai anggota
kelompokku, harus selesai besok dan tidak boleh ada satu pun kesalahan! Awas
kalau sampai ada yang salah sedikitpun! Dasar pemalas!” makinya sambil
melemparkan tumpukan tugas ke wajah Delia. Delia hanya diam dan tak mengelaknya
sama sekali.
Delia memungut kertas
tugasnya itu. Hampir seluruh tugas-tugas kelompoknya yang diberikan padanya dan
harus ia kerjakan. Ia hanya menerimanya dengan pasrah. Ia sudah biasa
diperlakukan buruk seperti itu.
Pelajaran dimulai. Delia terlalu marah untuk memperhatikan pelajaran
yang diterangkan gurunya itu, pandangannya tertuju pada pemandangan di luar
jendela dan jam dinding kelasnya yang berada di sebelah papan tulis.
Setelah Delia menungggu sekian lama, bel pertanda pulang sekolah akhirnya berbunyi. Sesegera mungkin Delia keluar
dari kelasnya. Namun, Virgo, wakil sekretaris OSIS dari kelas 11-B menjulurkan
kakinya dengan sengaja di depan pintu kelas Delia, sehingga membuat Delia
terjatuh dan membuat lututnya terluka karena goresan lantainya yang terbuat
dari batu kasar. Semua siswa di kelasnya mentertawainya dan tak ada yang mau
membantunya berdiri.
“Kerja bagus,
Virgo. Si Devil rendahan ini pantas mendapatkannya,” puji Felly, wakil OSIS dari kelas 11-C,
sembari ber-tos dengan Virgo dan mengajaknya pergi. Akhirnya, Delia berusaha
bangkit sendiri meski lututnya terluka.
Erio, ketua OSIS dari kelas 11-B, menatapnya tajam. “Tidak sepantasnya kau bersekolah di sini,” ucap Erio
dengan sinisnya sambil berlalu di hadapan Delia.
“Errie, apa yang kau katakan
pada orang aneh itu?” tanya Felly seraya menatap Delia dengan tatapan megejek.
“Itu tidak penting. Lusa
akan ada rapat. Tolong, beri tahu yang lainnya.”
Delia hanya menatap mereka
dari kejauhan. Lalu,
ia berjalan keluar gerbang hitam sekolahnya dan menuju
rumahnya yang berada di kompleks yang sepi dan suram, tetangga-tetangganya
sudah lama pindah dari sana.
Rumahnya berwarna
kelabu kusam dengan kebunnya yang kelihatan tidak terurus dan lantai, pintu, dan temboknya yang sudah retak, di
dalam rumahnya pun hanya ada dua kursi dan satu meja yang sudah bobrok, serta
tempat tidur mereka yang hanya terdiri dari kasur dan selimut yang berlubang.
Rumah itu
merupakan kenangan dari keluarganya. Paman dan bibi satu-satunya yang juga
merupakan orang tua Aiko meninggal tiga tahun yang lalu akibat kecelakaan
ketika sedang berlibur. Sementara orang tuanya bercerai,
lalu meninggalkannya bersama Aiko ketika ia menginjak
usia sebelas tahun. Aiko berusaha memenuhi kebutuhan mereka berdua
dengan bekerja sebagai cleaning service di sebuah kantor swasta.
“Lihat! Ada kakak aneh! Kata
ibuku, dia juga pembawa sial!” seru seorang anak pada teman-temannya.
“Ibuku juga mengatakan
seperti itu,” sahut yang lainnya. Anak-anak itu lalu menatapnya dengan
pandangan merendahkan.
“Ka…kak ane…h! Ka…kak ane…h!
Ka…kak ane…h! Pembawa sial lagi! Pergi jauh-jauh, sana!” ejek anak-anak
tersebut sambil melempari Delia kerikil.
Delia hanya diam dan tetap berjalan
menuju rumahnya, ia sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu. Sesampainya di
rumahnya, Delia melempar tasnya ke atas tempat tidurnya dan membersihkan lukanya.
Ia lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan mengingat hari-hari buruknya yang terjadi hari ini, serta pengumuman yang ia lihat
siang itu.
Pengumuman itu berisi tentang acara pertunjukan bakat sekolahnya yang
diadakan tujuh hari lagi. Delia bingung ingin menunjukan bakat apa. Sejujurnya,
Delia ingin sekali menunjukkan sesuatu pada Aiko dalam pertunjukan bakat
tersebut. Tapi, orang tuanya pergi entah kemana meninggalkannya bersama Aiko.
Terdengar pintu rumah berderit, tanda
bahwa Aiko sudah pulang. “Delia, aku bawakan makanan kesukaanmu, cupcake
lemon!” seru Aiko ceria. Kemudian, Delia menghampirinya dan Aiko mengelus
kepalanya.
Aiko melihat luka di lutut Delia yang
terlihat masih basah. “Delia, kakimu kenapa?” tanyanya.
“Tidak apa-apa,”
jawab Delia.
“Jangan berbohong. Apa kau bermasalah di
sekolah?”
Delia duduk dan menghela nafas. “Aku
hanya ceroboh,” katanya.
“Baiklah. Lain kali, berhati-hatilah,”
nasihat Aiko. Delia mengangguk.
“Aiko, ada yang ingin aku bicarakan,” kata Delia.
“Apa itu? Bicara sajalah,” balas Aiko sembari merogoh kantung plastiknya.
“Ada acara pertunjukkan bakat di sekolah.
Apakah kau bisa datang?”
“Tentu. Jadi, apa yang ingin kau
tunjukkan?” tanya Aiko yang mulai berhenti merogoh kantung plastiknya.
Delia menunduk. “Aku akan menonton saja,
lagipula aku mungkin tidak punya bakat apapun.”
Aiko terdiam,
memikirkan sesuatu. “Kau pasti akan menemukannya Delia dan pasti orang tuamu
akan kembali dan menghadirinya, aku yakin itu! Sekarang, makanlah cupcake-mu!”
kata Aiko sembari tersenyum.
“Kurasa mereka tidak akan pernah datang.
Mereka membenciku,” gumam Delia.
“Apa yang barusan kau katakan, Delia?”
“Terima kasih atas cupcake-nya,” bohong
Delia.
Lalu, Delia mengambil cupcake-nya dan
melahapnya. Cupcake lemonnya itu dihiasi dengan krim coklat. Ia lebih menyukai
sensasi masam pada krimnya dibandingkan dengan manisnya krim coklat di atasnya.
Delia benci rasa manis.
Aiko beranjak dari tempatnya dan pergi
keluar. Sementara Delia yang sudah selesai makan cupcake lemonnya, pergi mandi. Setelah
Delia selesai mandi, terlihat sebuah kotak besar yang kelihatan tua, beberapa lembar uang dan selembar kertas berisi catatan dari Aiko di atas meja kecil dikamarnya.
Dear
Delia,
Aku akan pergi selama lima
hari. Jaga diri baik-baik. Ada uang untuk membeli makanan sehari-harimu. Tolong
jaga kotak ini baik-baik dan jangan buka sebelum aku kembali!
Maafkan aku karena
memberitahumu lewat surat.
Sepupumu tersayang,
Aiko
Melihat isi catatan
tersebut, Delia segera memastikan apakah Aiko masih berada di tempatnya. Namun,
Aiko sudah tidak ada di tempatnya. Delia
kembali ke kamarnya dan mengerjakan tugas-tugas yang dilemparkan padanya dengan
cepat. Ia tidak ingin terkena masalah lebih lanjut.
Setelah itu, Delia berbaring dan memejamkan matanya,
menyenandungkan lagu yang berusaha memberitahunya sesuatu. Sesuatu yang besar
dan tidak ia ketahui. “Like an orange and a lemonade...sweet and sour... na..
na..”
Tak lama kemudian, Delia terlelap. Dalam
mimpinya, terlihat tiga orang anak kecil yang sedang memainkan benda yang tak
asing bagi Delia. “Delia awas!” teriak seseorang. Delia menoleh. Tiba-tiba,
sebuah truk melintas menuju ke arah Delia. Di hadapannya, ibunya berlari dan
meneriakkan sesuatu. “Tin..tin..tin..!”
Lalu, semua gelap hanya terdengar bunyi
ambulance.
***
Delia terbangun
dari tidurnya dan segera mematikan jam alarmnya. Jantungnya berdebar karena
ketakutan akan mimpi tersebut. Ia memang selalu bermimpi seperti itu berulang-kali.
Pagi itu, langit mulai gelap, sesegera
mungkin, ia mengganti pakaiannya dengan seragamnya yang kusam dan
memiliki sedikit lubang kecil di bagian lengannya, lalu bersiap bersekolah.
Diambilnya selembar uang pemberian Aiko di atas meja kecilnya,
lalu membeli roti di toko roti yang berada sejalur dengan sekolahnya. Toko roti
kecil bercat ungu muda dan biru laut itu menjual
berbagai macam roti dengan harga yang murah, sehingga Delia bisa menghemat uang
pemberian Aiko.
Sesampainya ia di sekolah, diletakkannya
tas punggungnya di atas bangkunya. Setelah itu, pelajarannya pun dimulai.
“Angelishia, bisakah kau menjawab soal
ini?” ucap gurunya pada Delia.
Delia dengan santainya berjalan ke depan
untuk menuliskan jawabannya, namun ia terjatuh akibat teman sekelasnya yang
menjulurkan kakinya dengan sengaja. Semua siswa yang ada di ruangan tersebut
pun tertawa. Tapi, Delia tetap bangkit dengan tenang dan melanjutkan
perjalanannya ke depan untuk menuliskan jawabannya.
Dua jam pelajaran pertamanya pun berlalu
tergantikan oleh pelajaran berikutnya. Angie menghampiri bangku Delia dengan
wajah yang merendahkan Delia.
“Heh, Devil! Jangan-jangan kau tidak
membawa tugas yang kemarin kuberikan padamu,” ucap Angie dengan sengit.
Tanpa berkata apa-apa, Delia langsung menyodorkan lembaran tugas-tugas
yang diberikan Angie kemarin.
“Baru segini saja sudah sombong! Awas
kalau sampai ada satupun
kesalahan!” bentak Angie.
“Terserah apa katamu,” balas Delia dengan
nada bosan.
Dengan marah, Angie meninggalkan bangku
Delia diiringi wajah sengit teman-teman sekelasnya yang lain. Sementara Delia
sendiri hanya memalingkan wajahnya ke jendela di sebelahnya. Langit saat itu
sangat gelap, segelap perasaannya.
Gurunya pun sudah datang dan secara
langsung meminta tugas yang diberikan minggu lalu. Setelah semuanya sudah
mengumpulkan, gurunya memeriksa tugas-tugas tersebut, hingga akhirnya diberikan
kembali kepada ketua kelompok masing-masing. Angie melihat Delia dengan wajah
kesal, Delia sudah tahu apa yang akan terjadi padanya.
Pelajaran berlangsung dalam tiga jam
dengan wajah-wajah marah dari
kedua anggota kelompoknya, serta Angie yang selalu
menatap dirinya, hingga bel istirahat berbunyi. Delia hanya mengacuhkannya, ia
merasa ia tidak bersalah atas apa yang kemungkinan terjadi pada kelompoknya.
“Heh, Devil! Sudah kubilang jangan ada
satupun kesalahan! Mengapa kau masih melakukan banyak kesalahan?! Kau sengaja
ingin menjebak kami, heh!” bantak Angie sambil menyodorkan lembaran-lembaran
tugas yang sudah dinilai oleh gurunya tersebut.
Dilihatnya lembaran-lembaran tugas
tersebut. Di sana hanya terdapat tiga kesalahan, tapi itu bukan kesalahannya,
ia sudah menjawab dengan benar semua tanpa ada kesalahan.
“Ini bukan kesalahanku,” sanggah Delia
dengan nada malas.
“Kau yang terakhir memegangnya. Mengapa
kau tidak membetulkannya? Dasar pemalas!” bentak Megan, anggotanya.
“Aku hanya melakukan apa yang harus
kulakukan. Itu kesalahan kalian sendiri.”
“Dasar egois! Kami kesal punya anggota
sepertimu! Seharusnya kau dipindahkan ke sekolah yang tidak bermoral
sepertimu!” bentak Carmen.
Delia yang tidak tahan mendengar omelan
teman sekelompoknya itu langsung saja pergi keluar dari kelasnya dengan acuh. Felly melewatinya
bersama teman-teman populernya. Mereka sengaja berbisik keras-keras tentang
Delia.
“Pasti kita tak akan mau seperti Devilishia itu, bukan?” mulai Felly.
“Gadis aneh yang tidak jelas itu? Uh,
pastinya aku tidak akan pernah ingin seperti itu.” balas Mia, wakil ketua OSIS dari 11-D.
“Katanya, orang tuanya itu merupakan
orang-orang yang tak bermoral. Pastinya sifat itu akan menurun padanya, bukan?”
tambah Felly.
Semua teman populer Felly menatap Delia
dengan tatapan jijik. Delia yang melihatnya, lagi-lagi hanya mengepalkan
tangannya. Sejam kemudian, pelajaran kembali dimulai
hingga bel pulang sekolah berbunyi. Saat
Delia keluar dari kelasnya, ia di hadang oleh Angie.
“Mau apa kau?” tanya Delia suram.
Dengan marah, Angie mengambil paksa tas
Delia dan mengambil
buku tugas berisi tugas yang baru ia kerjakan setelah gurunya memberikan tugas tadi, lalu
menginjak-nginjaknya hingga buku itu rusak.
“Kau ini benar-benar tidak menghargai
uang,” ucap Delia dingin.
“Kau yang memulainya,” jawab Angie acuh
sembari pergi.
Dengan perasaan tercabik-cabik yang ia
sembunyikan itu, ia memungut buku tugasnya itu. Teringat perjuangan Aiko yang
bekerja untuk membelikannya sebuah buku. Delia keluar dari sekolahnya dan duduk di kanan pojok
depan gerbang sekolahnya untuk merapikan bukunya yang diinjak-injak
oleh Angie, lalu Felly yang sedang menunggu jemputannya
menghampirinya.
“Aku heran, satu buku saja kau tidak sanggup membelinya, bagaimana bisa sepupumu
menyekolahkanmu di sekolah ini? Pasti sepupumu berbuat sesuatu yang tidak benar,
seperti mencuri atau merampok atau bahkan
lebih mengerikan dari itu semua. Dasar keluarga tak bermoral!” katanya.
Delia berdiri dan
menarik kerah baju Felly di depan teman-teman populer Felly. “Kau
boleh menjelek-jelekan aku dan menyamakanku dengan orang tuaku yang kalian
anggap tak bermoral, tapi tidak sepupuku! Pergilah! Aku tidak mau berurusan
denganmu,” ucap Delia
dengan dingin sambil melepaskan kerah baju Felly.
“Ih, menjijikan! Dari tingkahmu ini saja sudah
terlihat bahwa semua keluargamu tak bermoral, termasuk sepupumu yang pastinya
menggunakan cara kotor untuk menyekolahkanmu di sekolah ini dan memenuhi
kebutuhanmu.”
“Plak!” Delia menampar Felly. “Tahu apa
kau tentang keluargaku?! Orang sepertimu tidak akan pernah mengerti a―” bentak Delia.
“PLAK!!”
Erio yang kebetulan melihat hal tersebut, menampar Delia dengan lebih keras, hingga membuat Delia tidak dapat
meneruskan ucapannya tadi.
“A..Apa-apaan kau?! Tidak usah ikut campur!” bentak Delia pada Erio.
“Tidak seharusnya kau menampar seseorang
di sini! Lihat siapa dirimu! Dasar tidak tahu diri!” balas
Erio penuh emosi.
Delia memegang bekas tamparan Erio.
“Cih, sok pahlawan!” maki Delia sembari
menunjukan senyum masamnya itu.
“Jaga mulutmu yang kotor itu!” bentak
Erio.
“Kau ini siswi bermulut kotor yang tidak
tahu diri!” sahut Emma dan Mia, anggota pengurus OSIS di
sekolahnya.
“Perempuan sampah!”
sahut siswa lainnya.
Semua siswa yang berada di sana menatap
Delia dengan pandangan marah dan jijik. Semua
orang di sekelilingnya tak ada yang membantunya ataupun membelanya.
“Aku tidak punya waktu untuk semua ini.
Tidak berguna!” ucap Delia dengan tatapan menantang dan senyum masamnya itu,
lalu
berjalan dengan tenang menuju rumahnya.
Air matanya mulai mengalir sedikit dan lama-kelamaan menjadi deras melalui pipinya.
Hujan turun dengan derasnya, menutupi air mata Delia. Delia
menghapus air matanya. Ia menuju kamarnya dan berbaring tanpa mengganti seragamnya.
Tiba-tiba, paru-parunya terasa sesak seperti diikat tali dengan kuat. Nafasnya
tersengal-sengal. Ia memang selalu mengalami hal ini dua hari sekali, tapi ia
sama sekali tidak memberitahukannya pada Aiko. Ia merasa dingin, sakit, dan
perih. Matanya terpejam menahannya, lama-kelamaan ia pun
tertidur.
Beberapa lama kemudian, Delia membuka matanya. Langit tampak kelabu terang dari luar
jendelanya yang terbuka. Dilihatnya jam digitalnya menunjukkan pukul lima sore
tanggal 17 Februari. Ia bangkit, lalu menuju ke kamar mandinya dan membasuh wajahnya. Ditatapnya wajah pucatnya pada cermin tanpa bingkai di hadapannya, lalu ia
menghentakkan tangannya pada cermin tersebut.
Keanehan terjadi. Cermin dihadapannya itu seperti melontarkannya sehingga
membuat Delia jatuh terpental. Seorang gadis maya sebayanya dengan rambut terurai panjang dan gaun
putih polos selutut keluar
dari cerminnya.
Delia dan gadis itu membuka kedua matanya
masing-masing. “Siapa kau?” tanya mereka bersamaan.
Gadis itu mengerjap. “Aku Angelia. Dan
kau?”
“Aku Delia,” jawab Delia tenang.
Delia meremas
rambut pendeknya yang lebat dan berantakan
itu. “Pasti aku benar-benar sakit hari ini,”
Angelia mencoba menyentuh Delia, tapi
tangannya menembus tubuh Delia. “Kau tampak sepertiku. Apakah kita ini satu
orang yang berbeda?”
“Mana aku tahu tentang hal itu.
Ngomong-ngomong, mengapa kau ada di sini?” tanya Delia yang mulai berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
“Aku tidak tahu. Aku ditarik oleh
sesuatu dan aku tidak tahu caraku kembali,”
jawab Angelia yang melayang dan menyentuh cermin tempat ia muncul dan
menembusnya.
“Kembali saja lewat cermin itu,” kata Delia dengan acuh sambil pergi berlalu dari Angelia.
Angelia pun mencoba ide Delia. “Tidak
bisa. Aku hanya akan menembus hingga keluar. Kurasa aku terjebak di sini. Jadi,
boleh aku tinggal bersamamu?”
Delia menghela nafas, tidak percaya pada
apa yang terjadi padanya hari ini. “Baiklah, terserah kau saja. Tapi, apakah kau akan di dunia yang bukan tempatmu
ini selamanya?”
Angelia tertegun sambil melayang mengikuti Delia.”Tentu tidak. Mungkin sampai sesuatu
datang menjemputku atau ketika tiba-tiba sesuatu itu menariku kembali.”
Sesampainya
di kamarnya, Delia duduk di kasur berlubangnya dan menatap aneh
Angelia. “Sebenarnya kau ini apa?”
“Aku sendiri juga tidak tahu,” jawab
Angelia yang kini tertuju pada kotak yang berada di meja kecil Delia.
“Apa
isi kotak ini?” tanyanya.
“Jangan sentuh itu!”
larang Delia. Angelia tertawa kecil.
“Aku mungkin
hanya akan menembus apapun yang kusentuh di dunia ini seperti tadi,”
katanya sembari mencoba mengangkat kotak tersebut dan menembusnya. “Lihat!”
Delia tertegun. “Kau sepertinya adalah arwah, berarti kau manusia sepertiku
yang sudah meninggal.”
“Entahlah, aku tidak ingat apapun tentang diriku belakangan ini,” jelas Angelia
sembari melayang dengan santainya. “Mungkin, kau benar tentang diriku.”
Delia yang tidak
mengerti penjelasan Angelia, duduk di ranjangnya, sedangkan Angelia berkeliling
di sekitar rumah Delia.
“Mengapa aku merasa tidak asing dengan semua
ini?” gumamnya. “Oh, siapa yang berada di sampingmu ini?” tanyanya sembari
menunjuk bingkai foto yang terpajang di dinding ruang tamunya.
“Dia sepupuku, Aiko,” jawab Delia sambil menghampiri Angelia.
“Aiko.. nama yang tidak asing untukku,” gumamnya.
Hari sudah gelap, Delia mengambil beberapa
lembar uang pemberian Aiko untuk membeli makan malam dan mengambil jaket merah
lusuhnya di belakang pintu kamarnya.
“Kau mau kemana?” tanya Angelia.
“Membeli makan malam untukku. Apa kau mau?”
tawar Delia.
“Tidak. Tapi, aku ikut bersamamu. Aku ingin
melihat-lihat lingkungan sekitar.”
“Terserah
kau saja.”
Angelia tersenyum. Delia tercengang
melihat Angelia tersenyum seperti itu. Senyuman hangat dan lembut yang ia kenal, tapi ia membencinya.
“Berhentilah tersenyum seperti itu! Itu
menyebalkan,” kata Delia sinis.
Angelia tersentak. “Kau ini benar-benar
anti rasa senang, yah… ” Angelia mengerutkan bibirnya.
“Terserah apa katamu,” balas Delia acuh.
Lalu, mereka berdua pun menuju ke rumah makan kecil yang berada jauh dari rumahnya dan melalui jalanan
yang sepi dan gelap. Delia tidak ingin berpapasan dengan tetangga-tetangganya
yang masih tinggal di kompleksnya.
“Mengapa hanya untuk membeli makanan kita
harus sampai pergi sampai sejauh ini dan di tempat yang gelap ini?” tanya
Angelia.
“Tidak usah protes! Lagipula kau ini bisa
melayang,” balas Delia sinis.
“Mengapa kau tidak memilih jalan lain
yang lebih terang dan rumah makan lain yang lebih dekat?”
Delia tidak menjawab. Ia benci jika harus
menjelaskan hal-hal menyakitkan yang menimpa padanya sewaktu ia baru keluar
dari rumah sakit. Saat
itu, ia dan Aiko berjalan di daerah tersebut untuk membeli makan malam, namun
orang-orang yang ada di sana menatapnya penuh kebencian dan selalu
menganggapnya sebagai monster yang harus dihindari.
Setelah
beberapa lama, Angelia pun terdiam dan melayang mengikuti Delia menuju jalanan
yang sudah mulai bercahaya di depannya.
Sesampainya mereka di rumah makan, Delia
membeli sebungkus makanan yang hanya terdiri dari sedikit makanan di dalamnya,
lalu kembali pulang. Dalam
perjalanan mereka kembali menuju ke jalanan sepi dan
gelap itu,
seorang lelaki pucat bersama dengan laki-laki berpakaian serba hitam tertutup
memperhatikannya. Tetapi, tatapannya tidak mengarah Delia, tapi ke arah Angelia. Mereka pun akhirnya kembali pulang dengan melalui jalanan yang sepi dan
gelap itu.
Setelah mereka sampai di rumah, Delia
menyantap makanannya di teras rumahnya yang sepi. “Delia,
kau lihat laki-laki pucat dan lelaki yang
seperti pengemis
yang melihat ke arah kita tadi?” tanya Angelia.
“Hmm,”
balas Delia.
“Kurasa dia bisa melihatku. Terlihat dari arah pandangannya.”
Delia tidak mempedulikan Angelia yang terus berbicara.
“Kurasa mereka berdua memiliki
indra keenam untuk melihatku,” ocehnya. Lagi-lagi Delia tidak meresponnya. “Hey, kau
tidak mendengarkanku?!” gerutu Angelia.
“Mengapa kau begitu heboh dengan semua
itu jika kau tahu apa sebab semua itu?” sarkastik Delia.
“Mengapa kau begitu dingin padaku? Apa kehadiranku mengganggumu?” tanya Angelia dengan mata berkaca-kaca
menatapnya.
Delia menghela nafas. Ada sesuatu dari
Angelia yang sedikit ia benci. “Kau pikirkan saja sendiri!” sinis Delia sambil
melanjutkan makan malamnya, sedangkan Angelia hanya tertunduk.
Setelah Delia selesai makan, Delia
menatap bintang-bintang. Hatinya mulai
terasa tentram. “Maaf,” ucapnya singkat.
Angelia yang tadinya ikut melihat ke
arah bintang-bintang setelah melihat Delia menatap bintang-bintang, terkejut
mendengar perkataan Delia. “Eh, mengapa ka―”
“Sudahlah,
aku lelah,” sela Delia.
Delia masuk ke dalam rumahnya dan
menutup pintunya, membiarkan Angelia yang masih takjub melihat bintang-bintang.
Toh, ia bisa menembus benda apapun.
Di dalam kamarnya, ia membaringkan
tubuhnya di atas tempat tidurnya yang bobrok itu. Ia meraba bekas tamparan Erio
tadi. Teringat masa-masa ketika ia sudah keluar dari rumah sakit dan bertemu
Erio. Saat itu umurnya baru menginjak tujuh tahun. Erio saat itu hanya
menatapnya penuh kebencian dan ia selalu menindas Delia bersama teman-temannya,
serta membuat Delia tidak memiliki teman di sekolah karena Erio selalu berada
satu sekolah dengannya. Sampai akhirnya, Erio dan keluarganya pindah tempat
tinggal. Hal itu cukup untuk membuatnya lega.
Bagaimanapun juga ia merasa jika semua
hal yang terjadi padanya sejak ia keluar dari rumah sakit merupakan sesuatu hal
yang biasa baginya, ia sudah menganggap bahwa tidak ada kebahagiaan besar di
dalam hidupnya. Satu-satunya kebahagiaan yang ia punya adalah masa-masa bersama
Aiko yang selalu menyayanginya layaknya seorang kakak.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar