Senin, 21 Juli 2014

Sweet and Sour

      Tanggal 16 Februari. Siang itu, Delia membaca pengumuman yang tertera di papan mading kelasnya. Ia tertunduk dan menghela nafas. Gadis berambut pendek berantakan itu mulai pergi dari sana, menuju bangku coklat yang berada di ujung kelasnya.
      Kini, pikirannya tertuju pada orangtuanya yang meninggalkannya bersama Aiko, sepupunya yang saat ini berusia dua puluh dua tahun sejak ia keluar dari rumah sakit ketika ia berumur tujuh tahun. Meski begitu, Aiko, paman, dan bibinya selalu mengatakan kalau orang tuanya selealu menyayanginya dimanapun mereka berada, akan tetapi kadang terbesit dipikiran Delia bahwa orang tuanya tidak menginginkannya lagi. Ia bahkan tidak mengingat wajah orang tuanya. Saat ini, Aiko-lah yang selama ini merawatnya. Karena itulah, ia selalu diabaikan dan dibenci oleh hampir semua siswa di sekolahnya, bahkan ia sendiri selalu di-bully, sehingga tubuh Delia penuh dengan bekas luka.
      “Heh, Devilishia!” panggil Angie, salah satu teman sekelasnya yang merupakan ketua dari kelompok belajarnya. Delia tidak menoleh. Ia sengaja melakukannya karena siswa-siswa di sekolahnya juga mengganti nama belakangnya dari Angelishia menjadi Devilishia dengan mengganti kata “Angel” menjadi “Devil”.
      “Heh, Devil! Apa kau sudah tuli?!” teriaknya lagi.
      Akhirnya Delia menoleh. “Siapa yang kau maksud? Aku? Maaf, sudah jelas namaku bukan Devilishia,” sarkastik Delia.
      “Kau sangat pantas menyandangnya, Devil. Ngomong-ngomong, kerjakan tugasmu sebagai anggota kelompokku, harus selesai besok dan tidak boleh ada satu pun kesalahan! Awas kalau sampai ada yang salah sedikitpun! Dasar pemalas!” makinya sambil melemparkan tumpukan tugas ke wajah Delia. Delia hanya diam dan tak mengelaknya sama sekali.
      Delia memungut kertas tugasnya itu. Hampir seluruh tugas-tugas kelompoknya yang diberikan padanya dan harus ia kerjakan. Ia hanya menerimanya dengan pasrah. Ia sudah biasa diperlakukan buruk seperti itu.
      Pelajaran dimulai. Delia terlalu marah untuk memperhatikan pelajaran yang diterangkan gurunya itu, pandangannya tertuju pada pemandangan di luar jendela dan jam dinding kelasnya yang berada di sebelah papan tulis.
     Setelah Delia menungggu sekian lama, bel pertanda pulang sekolah akhirnya berbunyi. Sesegera mungkin Delia keluar dari kelasnya. Namun, Virgo, wakil sekretaris OSIS dari kelas 11-B menjulurkan kakinya dengan sengaja di depan pintu kelas Delia, sehingga membuat Delia terjatuh dan membuat lututnya terluka karena goresan lantainya yang terbuat dari batu kasar. Semua siswa di kelasnya mentertawainya dan tak ada yang mau membantunya berdiri.
      “Kerja bagus, Virgo. Si Devil rendahan ini pantas mendapatkannya,” puji Felly, wakil OSIS dari kelas 11-C, sembari ber-tos dengan Virgo dan mengajaknya pergi. Akhirnya, Delia berusaha bangkit sendiri meski lututnya terluka.
      Erio, ketua OSIS dari kelas 11-B, menatapnya tajam. “Tidak sepantasnya kau bersekolah di sini,” ucap Erio dengan sinisnya sambil berlalu di hadapan Delia.
      “Errie, apa yang kau katakan pada orang aneh itu?” tanya Felly seraya menatap Delia dengan tatapan megejek.
      “Itu tidak penting. Lusa akan ada rapat. Tolong, beri tahu yang lainnya.”
      Delia hanya menatap mereka dari kejauhan. Lalu, ia berjalan keluar gerbang hitam sekolahnya dan menuju rumahnya yang berada di kompleks yang sepi dan suram, tetangga-tetangganya sudah lama pindah dari sana.
     Rumahnya berwarna kelabu kusam dengan kebunnya yang kelihatan tidak terurus dan lantai, pintu, dan temboknya yang sudah retak, di dalam rumahnya pun hanya ada dua kursi dan satu meja yang sudah bobrok, serta tempat tidur mereka yang hanya terdiri dari kasur dan selimut yang berlubang. Rumah itu merupakan kenangan dari keluarganya. Paman dan bibi satu-satunya yang juga merupakan orang tua Aiko meninggal tiga tahun yang lalu akibat kecelakaan ketika sedang berlibur. Sementara orang tuanya bercerai, lalu meninggalkannya bersama Aiko ketika ia menginjak usia sebelas tahun. Aiko berusaha memenuhi kebutuhan mereka berdua dengan bekerja sebagai cleaning service di sebuah kantor swasta.
      “Lihat! Ada kakak aneh! Kata ibuku, dia juga pembawa sial!” seru seorang anak pada teman-temannya.
      “Ibuku juga mengatakan seperti itu,” sahut yang lainnya. Anak-anak itu lalu menatapnya dengan pandangan merendahkan.
      “Ka…kak ane…h! Ka…kak ane…h! Ka…kak ane…h! Pembawa sial lagi! Pergi jauh-jauh, sana!” ejek anak-anak tersebut sambil melempari Delia kerikil.
      Delia hanya diam dan tetap berjalan menuju rumahnya, ia sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu. Sesampainya di rumahnya, Delia melempar tasnya ke atas tempat tidurnya dan membersihkan lukanya. Ia lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan mengingat hari-hari buruknya yang terjadi hari ini, serta pengumuman yang ia lihat siang itu.
      Pengumuman itu berisi tentang acara pertunjukan bakat sekolahnya yang diadakan tujuh hari lagi. Delia bingung ingin menunjukan bakat apa. Sejujurnya, Delia ingin sekali menunjukkan sesuatu pada Aiko dalam pertunjukan bakat tersebut. Tapi, orang tuanya pergi entah kemana meninggalkannya bersama Aiko.
      Terdengar pintu rumah berderit, tanda bahwa Aiko sudah pulang. “Delia, aku bawakan makanan kesukaanmu, cupcake lemon!” seru Aiko ceria. Kemudian, Delia menghampirinya dan Aiko mengelus kepalanya.
      Aiko melihat luka di lutut Delia yang terlihat masih basah. “Delia, kakimu kenapa?” tanyanya.
      “Tidak apa-apa,” jawab Delia.
      “Jangan berbohong. Apa kau bermasalah di sekolah?”
      Delia duduk dan menghela nafas. “Aku hanya ceroboh,” katanya.
      “Baiklah. Lain kali, berhati-hatilah,” nasihat Aiko. Delia mengangguk.
      “Aiko, ada yang ingin aku bicarakan,” kata Delia.
      “Apa itu? Bicara sajalah,” balas Aiko sembari merogoh kantung plastiknya.
      “Ada acara pertunjukkan bakat di sekolah. Apakah kau bisa datang?”
      “Tentu. Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan?” tanya Aiko yang mulai berhenti merogoh kantung plastiknya.
      Delia menunduk. “Aku akan menonton saja, lagipula aku mungkin tidak punya bakat apapun.”
      Aiko terdiam, memikirkan sesuatu. “Kau pasti akan menemukannya Delia dan pasti orang tuamu akan kembali dan menghadirinya, aku yakin itu! Sekarang, makanlah cupcake-mu!” kata Aiko sembari tersenyum.
      “Kurasa mereka tidak akan pernah datang. Mereka membenciku,” gumam Delia.
      “Apa yang barusan kau katakan, Delia?”
      “Terima kasih atas cupcake-nya,” bohong Delia.
      Lalu, Delia mengambil cupcake-nya dan melahapnya. Cupcake lemonnya itu dihiasi dengan krim coklat. Ia lebih menyukai sensasi masam pada krimnya dibandingkan dengan manisnya krim coklat di atasnya. Delia benci rasa manis.
      Aiko beranjak dari tempatnya dan pergi keluar. Sementara Delia yang sudah selesai makan cupcake lemonnya, pergi mandi. Setelah Delia selesai mandi, terlihat sebuah kotak besar yang kelihatan tua, beberapa lembar uang dan selembar kertas berisi catatan dari Aiko di atas meja kecil dikamarnya.
           Dear Delia,

                  Aku akan pergi selama lima hari. Jaga diri baik-baik. Ada uang untuk membeli makanan sehari-harimu. Tolong jaga kotak ini baik-baik dan jangan buka sebelum aku kembali!

                  Maafkan aku karena memberitahumu lewat surat.

                                                                                                 

                                                                                                            Sepupumu tersayang,



                                                                                                                         Aiko
     Melihat isi catatan tersebut, Delia segera memastikan apakah Aiko masih berada di tempatnya. Namun, Aiko sudah tidak ada di tempatnya. Delia kembali ke kamarnya dan mengerjakan tugas-tugas yang dilemparkan padanya dengan cepat. Ia tidak ingin terkena masalah lebih lanjut.
      Setelah itu, Delia berbaring dan memejamkan matanya, menyenandungkan lagu yang berusaha memberitahunya sesuatu. Sesuatu yang besar dan tidak ia ketahui. “Like an orange and a lemonade...sweet and sour... na.. na..”
      Tak lama kemudian, Delia terlelap. Dalam mimpinya, terlihat tiga orang anak kecil yang sedang memainkan benda yang tak asing bagi Delia. “Delia awas!” teriak seseorang. Delia menoleh. Tiba-tiba, sebuah truk melintas menuju ke arah Delia. Di hadapannya, ibunya berlari dan meneriakkan sesuatu. “Tin..tin..tin..!”
      Lalu, semua gelap hanya terdengar bunyi ambulance.

***
      Delia terbangun dari tidurnya dan segera mematikan jam alarmnya. Jantungnya berdebar karena ketakutan akan mimpi tersebut. Ia memang selalu bermimpi seperti itu berulang-kali.
      Pagi itu, langit mulai gelap, sesegera mungkin, ia mengganti pakaiannya dengan seragamnya yang kusam dan memiliki sedikit lubang kecil di bagian lengannya, lalu bersiap bersekolah. Diambilnya selembar uang pemberian Aiko di atas meja kecilnya, lalu membeli roti di toko roti yang berada sejalur dengan sekolahnya. Toko roti kecil bercat ungu muda dan biru laut itu menjual berbagai macam roti dengan harga yang murah, sehingga Delia bisa menghemat uang pemberian Aiko.
      Sesampainya ia di sekolah, diletakkannya tas punggungnya di atas bangkunya. Setelah itu, pelajarannya pun dimulai.
      “Angelishia, bisakah kau menjawab soal ini?” ucap gurunya pada Delia.
      Delia dengan santainya berjalan ke depan untuk menuliskan jawabannya, namun ia terjatuh akibat teman sekelasnya yang menjulurkan kakinya dengan sengaja. Semua siswa yang ada di ruangan tersebut pun tertawa. Tapi, Delia tetap bangkit dengan tenang dan melanjutkan perjalanannya ke depan untuk menuliskan jawabannya.
      Dua jam pelajaran pertamanya pun berlalu tergantikan oleh pelajaran berikutnya. Angie menghampiri bangku Delia dengan wajah yang merendahkan Delia.
      “Heh, Devil! Jangan-jangan kau tidak membawa tugas yang kemarin kuberikan padamu,” ucap Angie dengan sengit.
      Tanpa berkata apa-apa, Delia langsung menyodorkan lembaran tugas-tugas yang diberikan Angie kemarin.
      “Baru segini saja sudah sombong! Awas kalau sampai ada satupun kesalahan!” bentak Angie.
      “Terserah apa katamu,” balas Delia dengan nada bosan.
      Dengan marah, Angie meninggalkan bangku Delia diiringi wajah sengit teman-teman sekelasnya yang lain. Sementara Delia sendiri hanya memalingkan wajahnya ke jendela di sebelahnya. Langit saat itu sangat gelap, segelap perasaannya.
      Gurunya pun sudah datang dan secara langsung meminta tugas yang diberikan minggu lalu. Setelah semuanya sudah mengumpulkan, gurunya memeriksa tugas-tugas tersebut, hingga akhirnya diberikan kembali kepada ketua kelompok masing-masing. Angie melihat Delia dengan wajah kesal, Delia sudah tahu apa yang akan terjadi padanya.
      Pelajaran berlangsung dalam tiga jam dengan wajah-wajah marah dari kedua anggota kelompoknya, serta Angie yang selalu menatap dirinya, hingga bel istirahat berbunyi. Delia hanya mengacuhkannya, ia merasa ia tidak bersalah atas apa yang kemungkinan terjadi pada kelompoknya.
      “Heh, Devil! Sudah kubilang jangan ada satupun kesalahan! Mengapa kau masih melakukan banyak kesalahan?! Kau sengaja ingin menjebak kami, heh!” bantak Angie sambil menyodorkan lembaran-lembaran tugas yang sudah dinilai oleh gurunya tersebut.
      Dilihatnya lembaran-lembaran tugas tersebut. Di sana hanya terdapat tiga kesalahan, tapi itu bukan kesalahannya, ia sudah menjawab dengan benar semua tanpa ada kesalahan.
      “Ini bukan kesalahanku,” sanggah Delia dengan nada malas.
      “Kau yang terakhir memegangnya. Mengapa kau tidak membetulkannya? Dasar pemalas!” bentak Megan, anggotanya.
      “Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Itu kesalahan kalian sendiri.”
      “Dasar egois! Kami kesal punya anggota sepertimu! Seharusnya kau dipindahkan ke sekolah yang tidak bermoral sepertimu!” bentak Carmen.
      Delia yang tidak tahan mendengar omelan teman sekelompoknya itu langsung saja pergi keluar dari kelasnya dengan acuh. Felly melewatinya bersama teman-teman populernya. Mereka sengaja berbisik keras-keras tentang Delia.
      “Pasti kita tak akan mau seperti Devilishia itu, bukan?” mulai Felly.
      “Gadis aneh yang tidak jelas itu? Uh, pastinya aku tidak akan pernah ingin seperti itu.” balas Mia, wakil ketua OSIS dari 11-D.
      “Katanya, orang tuanya itu merupakan orang-orang yang tak bermoral. Pastinya sifat itu akan menurun padanya, bukan?” tambah Felly.
     Semua teman populer Felly menatap Delia dengan tatapan jijik. Delia yang melihatnya, lagi-lagi hanya mengepalkan tangannya. Sejam kemudian, pelajaran kembali dimulai hingga bel pulang sekolah berbunyi. Saat Delia keluar dari kelasnya, ia di hadang oleh Angie.
     “Mau apa kau?” tanya Delia suram.
     Dengan marah, Angie mengambil paksa tas Delia dan mengambil buku tugas berisi tugas yang baru ia kerjakan setelah gurunya memberikan tugas tadi, lalu menginjak-nginjaknya hingga buku itu rusak.
      “Kau ini benar-benar tidak menghargai uang,” ucap Delia dingin.
      “Kau yang memulainya,” jawab Angie acuh sembari pergi.
      Dengan perasaan tercabik-cabik yang ia sembunyikan itu, ia memungut buku tugasnya itu. Teringat perjuangan Aiko yang bekerja untuk membelikannya sebuah buku. Delia keluar dari sekolahnya dan duduk di kanan pojok depan gerbang sekolahnya untuk merapikan bukunya yang diinjak-injak oleh Angie, lalu Felly yang sedang menunggu jemputannya menghampirinya.
      “Aku heran, satu buku saja kau tidak sanggup membelinya, bagaimana bisa sepupumu menyekolahkanmu di sekolah ini? Pasti sepupumu berbuat sesuatu yang tidak benar, seperti mencuri atau merampok atau bahkan lebih mengerikan dari itu semua. Dasar keluarga tak bermoral!” katanya.
      Delia berdiri dan menarik kerah baju Felly di depan teman-teman populer Felly. “Kau boleh menjelek-jelekan aku dan menyamakanku dengan orang tuaku yang kalian anggap tak bermoral, tapi tidak sepupuku! Pergilah! Aku tidak mau berurusan denganmu, ucap Delia dengan dingin sambil melepaskan kerah baju Felly.
      “Ih, menjijikan! Dari tingkahmu ini saja sudah terlihat bahwa semua keluargamu tak bermoral, termasuk sepupumu yang pastinya menggunakan cara kotor untuk menyekolahkanmu di sekolah ini dan memenuhi kebutuhanmu.”
      “Plak!” Delia menampar Felly. “Tahu apa kau tentang keluargaku?! Orang sepertimu tidak akan pernah mengerti a” bentak Delia.
      “PLAK!!” Erio yang kebetulan melihat hal tersebut, menampar Delia dengan lebih keras, hingga membuat Delia tidak dapat meneruskan ucapannya tadi.
      “A..Apa-apaan kau?! Tidak usah ikut campur!bentak Delia pada Erio.
      “Tidak seharusnya kau menampar seseorang di sini! Lihat siapa dirimu! Dasar tidak tahu diri!” balas Erio penuh emosi.
      Delia memegang bekas tamparan Erio. “Cih, sok pahlawan!” maki Delia sembari menunjukan senyum masamnya itu.
      “Jaga mulutmu yang kotor itu!” bentak Erio.
      “Kau ini siswi bermulut kotor yang tidak tahu diri!” sahut Emma dan Mia, anggota pengurus OSIS di sekolahnya.
      Perempuan sampah!” sahut siswa lainnya.
      Semua siswa yang berada di sana menatap Delia dengan pandangan marah dan jijik. Semua orang di sekelilingnya tak ada yang membantunya ataupun membelanya.
      “Aku tidak punya waktu untuk semua ini. Tidak berguna!” ucap Delia dengan tatapan menantang dan senyum masamnya itu, lalu berjalan dengan tenang menuju rumahnya.
      Air matanya mulai mengalir sedikit dan lama-kelamaan menjadi deras melalui pipinya. Hujan turun dengan derasnya, menutupi air mata Delia. Delia menghapus air matanya. Ia menuju kamarnya dan berbaring tanpa mengganti seragamnya.
     Tiba-tiba, paru-parunya terasa sesak seperti diikat tali dengan kuat. Nafasnya tersengal-sengal. Ia memang selalu mengalami hal ini dua hari sekali, tapi ia sama sekali tidak memberitahukannya pada Aiko. Ia merasa dingin, sakit, dan perih. Matanya terpejam menahannya, lama-kelamaan ia pun tertidur.
      Beberapa lama kemudian, Delia membuka matanya. Langit tampak kelabu terang dari luar jendelanya yang terbuka. Dilihatnya jam digitalnya menunjukkan pukul lima sore tanggal 17  Februari. Ia bangkit, lalu menuju ke kamar mandinya dan  membasuh wajahnya. Ditatapnya wajah pucatnya pada cermin tanpa bingkai di hadapannya, lalu ia menghentakkan tangannya pada cermin tersebut.
      Keanehan terjadi. Cermin dihadapannya itu seperti melontarkannya sehingga membuat Delia jatuh terpental. Seorang gadis maya sebayanya dengan rambut terurai panjang dan gaun putih polos selutut keluar dari cerminnya.
      Delia dan gadis itu membuka kedua matanya masing-masing. “Siapa kau?” tanya mereka bersamaan.
      Gadis itu mengerjap. “Aku Angelia. Dan kau?”
      “Aku Delia, jawab Delia tenang.
      Delia meremas rambut pendeknya yang lebat dan berantakan itu. “Pasti aku benar-benar sakit hari ini,”
      Angelia mencoba menyentuh Delia, tapi tangannya menembus tubuh Delia. “Kau tampak sepertiku. Apakah kita ini satu orang yang berbeda?”
      “Mana aku tahu tentang hal itu. Ngomong-ngomong, mengapa kau ada di sini?” tanya Delia  yang mulai berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
      “Aku tidak tahu. Aku ditarik oleh sesuatu dan aku tidak tahu caraku kembali,” jawab Angelia yang melayang dan menyentuh cermin tempat ia muncul dan menembusnya.
      “Kembali saja lewat cermin itu,” kata Delia dengan acuh sambil pergi berlalu dari Angelia.
      Angelia pun mencoba ide Delia. “Tidak bisa. Aku hanya akan menembus hingga keluar. Kurasa aku terjebak di sini. Jadi, boleh aku tinggal bersamamu?”
      Delia menghela nafas, tidak percaya pada apa yang terjadi padanya hari ini. “Baiklah, terserah kau saja. Tapi, apakah kau akan di dunia yang bukan tempatmu ini selamanya?”
      Angelia tertegun sambil melayang mengikuti Delia.”Tentu tidak. Mungkin sampai sesuatu datang menjemputku atau ketika tiba-tiba sesuatu itu menariku kembali.”
     Sesampainya di kamarnya, Delia duduk di kasur berlubangnya dan menatap aneh Angelia. “Sebenarnya kau ini apa?”
      “Aku sendiri juga tidak tahu,” jawab Angelia yang kini tertuju pada kotak yang berada di meja kecil Delia.
      “Apa isi kotak ini?” tanyanya.
      “Jangan sentuh itu!” larang Delia. Angelia tertawa kecil.
      “Aku mungkin hanya akan menembus apapun yang kusentuh di dunia ini seperti tadi,” katanya sembari mencoba mengangkat kotak tersebut dan menembusnya. “Lihat!”
     Delia tertegun. “Kau sepertinya adalah arwah, berarti kau manusia sepertiku yang sudah meninggal.
      “Entahlah, aku tidak ingat apapun tentang diriku belakangan ini,” jelas Angelia sembari melayang dengan santainya. “Mungkin, kau benar tentang diriku.”
      Delia yang tidak mengerti penjelasan Angelia, duduk di ranjangnya, sedangkan Angelia berkeliling di sekitar rumah Delia.
      “Mengapa aku merasa tidak asing dengan semua ini?” gumamnya. “Oh, siapa yang berada di sampingmu ini?” tanyanya sembari menunjuk bingkai foto yang terpajang di dinding ruang tamunya.
      “Dia sepupuku, Aiko,” jawab Delia sambil menghampiri Angelia.
      “Aiko.. nama yang tidak asing untukku,” gumamnya.
     Hari sudah gelap, Delia mengambil beberapa lembar uang pemberian Aiko untuk membeli makan malam dan mengambil jaket merah lusuhnya di belakang pintu kamarnya.
    “Kau mau kemana?” tanya Angelia.
    “Membeli makan malam untukku. Apa kau mau?” tawar Delia.
    “Tidak. Tapi, aku ikut bersamamu. Aku ingin melihat-lihat lingkungan sekitar.”
    Terserah kau saja.”
     Angelia tersenyum. Delia tercengang melihat Angelia tersenyum seperti itu. Senyuman hangat dan lembut yang ia kenal, tapi ia membencinya.
      “Berhentilah tersenyum seperti itu! Itu menyebalkan,” kata Delia sinis.
      Angelia tersentak. “Kau ini benar-benar anti rasa senang, yah… ” Angelia mengerutkan bibirnya.
      “Terserah apa katamu,” balas Delia acuh.
      Lalu, mereka berdua pun menuju ke rumah makan kecil yang berada jauh dari rumahnya dan melalui jalanan yang sepi dan gelap. Delia tidak ingin berpapasan dengan tetangga-tetangganya yang masih tinggal di kompleksnya.
      “Mengapa hanya untuk membeli makanan kita harus sampai pergi sampai sejauh ini dan di tempat yang gelap ini?” tanya Angelia.
      “Tidak usah protes! Lagipula kau ini bisa melayang,” balas Delia sinis.
      “Mengapa kau tidak memilih jalan lain yang lebih terang dan rumah makan lain yang lebih dekat?”
      Delia tidak menjawab. Ia benci jika harus menjelaskan hal-hal menyakitkan yang menimpa padanya sewaktu ia baru keluar dari rumah sakit. Saat itu, ia dan Aiko berjalan di daerah tersebut untuk membeli makan malam, namun orang-orang yang ada di sana menatapnya penuh kebencian dan selalu menganggapnya sebagai monster yang harus dihindari.
      Setelah beberapa lama, Angelia pun terdiam dan melayang mengikuti Delia menuju jalanan yang sudah mulai bercahaya di depannya.
      Sesampainya mereka di rumah makan, Delia membeli sebungkus makanan yang hanya terdiri dari sedikit makanan di dalamnya, lalu kembali pulang. Dalam perjalanan mereka kembali menuju ke jalanan sepi dan gelap itu, seorang lelaki pucat bersama dengan laki-laki berpakaian serba hitam tertutup memperhatikannya. Tetapi, tatapannya tidak mengarah Delia, tapi ke arah Angelia. Mereka pun akhirnya kembali pulang dengan melalui jalanan yang sepi dan gelap itu.
      Setelah mereka sampai di rumah, Delia menyantap makanannya di teras rumahnya yang sepi. “Delia, kau lihat laki-laki pucat dan lelaki yang seperti pengemis yang melihat ke arah kita tadi?” tanya Angelia.
      Hmm,balas Delia.
      “Kurasa dia bisa melihatku. Terlihat dari arah pandangannya.”
      Delia tidak mempedulikan Angelia yang terus berbicara.
      “Kurasa mereka berdua memiliki indra keenam untuk melihatku,ocehnya. Lagi-lagi Delia tidak meresponnya. “Hey, kau tidak mendengarkanku?!” gerutu Angelia.
      “Mengapa kau begitu heboh dengan semua itu jika kau tahu apa sebab semua itu?” sarkastik Delia.
       “Mengapa kau begitu dingin padaku? Apa kehadiranku mengganggumu?” tanya Angelia dengan mata berkaca-kaca menatapnya.
       Delia menghela nafas. Ada sesuatu dari Angelia yang sedikit ia benci. “Kau pikirkan saja sendiri!” sinis Delia sambil melanjutkan makan malamnya, sedangkan Angelia hanya tertunduk.
      Setelah Delia selesai makan, Delia menatap bintang-bintang. Hatinya mulai terasa tentram. Maaf, ucapnya singkat.
      Angelia yang tadinya ikut melihat ke arah bintang-bintang setelah melihat Delia menatap bintang-bintang, terkejut mendengar perkataan Delia. “Eh, mengapa ka―”
      “Sudahlah, aku lelah,” sela Delia.
      Delia masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya, membiarkan Angelia yang masih takjub melihat bintang-bintang. Toh, ia bisa menembus benda apapun.
      Di dalam kamarnya, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang bobrok itu. Ia meraba bekas tamparan Erio tadi. Teringat masa-masa ketika ia sudah keluar dari rumah sakit dan bertemu Erio. Saat itu umurnya baru menginjak tujuh tahun. Erio saat itu hanya menatapnya penuh kebencian dan ia selalu menindas Delia bersama teman-temannya, serta membuat Delia tidak memiliki teman di sekolah karena Erio selalu berada satu sekolah dengannya. Sampai akhirnya, Erio dan keluarganya pindah tempat tinggal. Hal itu cukup untuk membuatnya lega.
      Bagaimanapun juga ia merasa jika semua hal yang terjadi padanya sejak ia keluar dari rumah sakit merupakan sesuatu hal yang biasa baginya, ia sudah menganggap bahwa tidak ada kebahagiaan besar di dalam hidupnya. Satu-satunya kebahagiaan yang ia punya adalah masa-masa bersama Aiko yang selalu menyayanginya layaknya seorang kakak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar