Upacara penerimaan murid baru sudah
berlalu sejak tiga menit yang lalu. Kini, Sita beserta murid-murid lainnya
masuk ke kelasnya masing-masing. Sita berada di kelas X-AG yang
diketahui memiliki jumlah siswa paling sedikit dikalangan X-A lainnya yaitu 20
orang. Sekolah ini memang membagi kelas X menjadi empat bagian yaitu X-A, X-B, X-C dan
X-AS yang kemudian kembali dibagi menjadi beberapa bagian. X-A dengan jumlah 6
kelas, X-B dengan jumlah 1 kelas, dan X-C dengan jumlah 3 kelas. Sedangkan
kelas X-AS merupakan kelas spesial dengan siswa-siswa teladan di dalamnya.
Suasana di dalam kelasnya masih terasa
canggung karena masih belum mengenal satu sama lain. Namun, ada beberapa siswa
yang mulai berkenalan satu sama lain, bahkan siswa yang duduk di sebelah
kanannya mengajaknya untuk berkenalan.
“Halo, namaku Tania. Kamu?” tanya siswa
tersebut sambil mengulurkan tangannya pada Sita.
“Sita,” jawab Sita sambil membalas jabat
tangan Tania.
“Aku Mona,” sahut siswa yang duduk di
bangku belakang Sita.
“Eh, enggak diajak kok ikut-ikut aja,
Mon, hahaha,” canda Tania.
“Biarin aja,” balas Mona sambil
memeletkan lidahnya.
Sita hanya tertawa kecil melihat tingkah
laku teman barunya itu. Selang beberapa lama berkenalan, Sita sudah mengenal 5
siswa, yaitu Tania, Mona, Listya, Hana, dan Nala. Karena bangku-bangku di
kelasnya disusun berbentuk huruf U, ia belum bisa berkenalan dengan seluruh
siswa di kelasnya.
Pandangannya mulai beralih kepada siswa
yang sedari tadi sibuk menulis sesuatu di buku catatannya. Siswa tersebut duduk
di ujung belakang deretannya. Sita sendiri duduk di bangku bagian kanan huruf U
dan dua deret dari depan.
Beberapa menit kemudian, salah seorang
guru yang diketahui merupakan wali kelasnya masuk ke dalam kelasnya dan
mengabsen kami satu-persatu. Dari situlah, Sita tahu kalau nama siswa tersebut
adalah Gea.
Guru yang tadi mengabsen kami
satu-persatu adalah Bu Nana, guru matematika kelas X. Bu Nana kelihatannya
orang yang ramah dan suka bercanda terlihat dari pembawaannya dalam
menyampaikan beberapa informasi.
Sekarang saatnya menentukan struktur organisasi kelas. Bu Nana memilih
Juna sebagai ketua kelas. Juna berpostur tinggi dan perawakannya seperti orang
dewasa, maka dari itu Bu Nana memilihnya sebagai ketua kelas.
Bu Nana
terkadang selalu terbalik menyebutkan nama Juna dan Mona ketika ia
memberitahukan apa yang harus dilakukan dan membuat seluruh kelas tertawa
kecuali Mona yang sedikit merengut.
Kemudian,
Bu Nana melanjutkan kembali pemilihan anggota organisasi kelas lainnya. Tania
dan Ima terpilih menjadi bendahara kelas,
Rafi dan Santi terpilih menjadi sekretaris, dan anggota lainnya akan ditentukan
sendiri oleh siswa karena waktu sudah habis.
Lalu,
datang guru lain yang menawarkan pelajaran seni. Di sekolah ini siswa juga
harus memilih salah satu bidang pelajaran seni dari keempat bidang seni
lainnya, yaitu seni musik, drama, tari, dan rupa.
Yang
pertama kali memasuki kelas adalah guru seni drama. Lalu diikuti seni musik,
tari, dan rupa. Kemudian, seluruh murid diberi kertas yang akan dituliskan
bidang seni yang dipilih.
“Sita, kamu pilih seni apa?” tanya Gea
sambil tersenyum ramah.
Sita membalas tersenyum, ternyata Gea
bukan murid yang terlalu pendiam. “Seni musik. Kalau kamu?” tanyanya.
“Seni rupa.”
Setelah menjawab, Gea mengumpulkan
kertasnya pada Juna dan mulai berkenalan dengan yang lain. Lalu, ia kembali ke bangkunya,
setelah guru lain datang mengajar. Begitulah sekolah Sita yang langsung memulai
pelajaran meskipun masih memiliki aura MOS.
Singkat cerita, kelas X-AG merupakan kelas yang menurut Sita
spesial karena termasuk kelas tersedikit dikalangan kelas X-A dan cepat akrab dibanding kelas
lainnya. Mereka melalui masa-masa menyenangkan selama di sekolah sampai
akhirnya ujian tengah semester berakhir dan nilai-nilai dibagikan.
“Hee, nilai matematikaku tertukar dengan
nilai Gea!” seru Fina memecah keheningan dan langsung dikerumuni Sita, Listya,
Tania, Nala, Rani dan Hana.
Gea terlihat menoleh ke arah kerumunan
dan kembali menatap lembar nilainya yang posisinya berada di peringkat
terakhir. Nilai matematikanya memang lebih rendah dari nilai Fina
“Coba kalau nilaiku tidak tertukar dengan
Gea!” tambah Fina.
Gea melipat kertas nilainya dan
meletakkannya di dalam tas. “Juna, aku ijin ke kamar mandi,” katanya sambil
berlalu.
Fina terus saja berceloteh tentang
nilainya yang tertukar dengan Gea, padahal Gea sudah berada di posisi terakhir
di kelas X-AG.
Meskipun begitu, Gea tetap akrab dengan Fina dan tidak menunjukan perubahan
sikap apapun.
Namun, pada suatu ketika Gea tak bisa
membendung amarahnya dan membuat kaget seluruh kelasnya. Ia yang tadinya sedang
membaca buku, tiba-tiba melempar bukunya dan menuju ke arah dimana para siswa
laki-laki sedang memainkan tombol lampu, lalu meneriakinya dengan penuh amarah
dan tatapan tajam. Belum pernah Sita melihat Gea semarah itu. Keesokan paginya,
Gea kembali seperti semula dan meminta maaf karena amarahnya keterlaluan.
Semua kembali seperti semua sampai
akhirnya liburan telah tiba. Sampai suatu ketika ada berita mengejutkan pada
tiga hari sebelum masuk sekolah. Rumah Gea terbakar dan seluruh penghuninya
tewas termasuk Gea. Seluruh pihak sekolah berduka cita atas meninggalnya Gea
dan keluarganya. Sita hanya terdiam begitu juga dengan yang lainnya. Gea memang
bukan siswa yang menonjol, tapi dia termasuk siswa yang baik.
Setelah beberapa bulan berlalu, seluruh
siswa X-AG kembali
normal seperti biasa. Bercanda dan tertawa, terkadang Sita menoleh ke arah
bangku kosong di belakang. Kadang muncul juga bayangan Gea yang sedang asyik
menggambar. Gea memang lebih suka menggambar dibandingkan berkumpul bersama
teman-teman.
Keesokan paginya, Sita yang baru masuk
sekolah mendapati banyak polisi. Para guru pun tidak berada di ruangannya,
mereka berada di lobi
dengan wajah prihatin. Para siswa kecuali X-AG membawa tas mereka dengan wajah
kebingungan sekaligus ngeri dan keluar dari sekolah.
Sita dengan ragu, terus melangkah menuju
kelasnya. Terlihat beberapa temannya tampak sedang diinterogasi oleh polisi,
beberapa terlihat syok dan hanya terdiam, dan yang lainnya menangis.
“Ini ada apa?” tanya Sita.
“Listya... Nala... hiks..hiks..” jawab
Tania yang saat itu kebetulan berada di dekatnya.
Sita tak memaksakan Tania untuk menjawab
pertanyaannya, jadi ia hanya duduk menunggu temannya akan menjelaskan apa yang
terjadi.
“Kamu baru datang?” tanya seorang polisi
yang mengejutkan Sita.
"I-iya, Pak," jawab Sita gugup.
"Teman sekelasmu yang bernama Listya dan Nala tewas karena saling membunuh di perpustakaan sekolah dan menghilangnya Ardi dari kelas
X-AC. Sepulang sekolah, kamu ada dimana?"
"Listya dan Nala... saling membunuh? Nggak mungkin!" kata Sita
tak percaya. "Saya langsung pulang, saksinya teman saya itu." Sita
menunjuk ke arah Fina.
Polisi
tersebut mengangguk tanda percaya pada Sita. "Lalu, kapan terakhir kali
kamu bertemu dengan mereka?"
"Aku
tak melihat Ardi, tapi aku melihat Listya terakhir kali di depan pintu kelas,
saat itu saya menuju ke lobi sedangkan dia menuju ke parkiran."
"Baiklah, terima kasih," kata polisi itu sambil berlalu dari
Sita yang menutup wajahnya.
"Sita, sudah jangan menangis!" kata Fina menengkan.
"Aku
nggak nyangka aja, Fin! Listya dan Nala itu baik, bisa-bisanya mereka saling
membunuh, hiks!"
"Sudah, Ta, Listya dan Nala nggak mungkin berbuat begitu. Pasti ada yang membunuh mereka
dengan trik semacam itu."
Sita
menghapus air matanya. "Kamu bener, Fin. Pasti ada yg
membunuh mereka!"
Karena
tragedi tersebut, sekolah akhirnya diliburkan dalam kurun waktu seminggu untuk
penyelidikan. Setelah itu, semua kembali berjalan normal kecuali keceriaan
siswa X-AG.
Lagi-lagi
tragedi itu terjadi lagi, dan kali ini Sita melihatnya secara langsung ketika
ia menuju bagian belakang perpustakaan siang hari. Jasad Santi berada dalam
ikatan dan penuh tusukan, sedangkan jasad Hana berada dalam
posisi menusuk dirinya sendiri mereka masing-masing menggenggam foto siswa X-AG yg difoto saat semester pertama. Sita
tak langsung menyentuhnya, tapi langsung melapor pada guru. Lalu, polisi kembali
menginterogasinya dan lagi-lagi kesedihan melanda.
Meskipun
tragedi tersebut terjadi lagi, pihak sekolah tidak meliburkan siswa
karena mengejar materi pelajaran yang tertinggal. Hal itu membuat beberapa siswa melakukan aksi protes kecuali para
siswa X-AG yang masih syok atas tragedi itu.
Esoknya,
ditemukan jasad Heru
seperti gantung diri dan Ima
dengan posisi yang sama dengan Hana di bagian rak buku khusus matematika.
Siswa
laki-laki X-AG menjadi diam selama berada di
sekolah, bahkan beberapa membolos sekolah.
Hari
berikutnya polisi sudah mulai berjaga-jaga di sekolah dan tidak ada
siswa yang tewas di sekolah. Tiga hari sesudahnya, ada berita bahwa Juna dan
Rama tewas karena mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang.
Sita
duduk di bangkunya
dan memandangi foto bersamanya
tersebut. Ia berada di sebelah Fani dan Listya. Ia berusaha mencari tahu
mengapa terjadi hal seperti itu.
"Yakin aja kalau semuanya akan baik-baik saja, Ta," kata Fina yang
tiba-tiba di sebelah Sita.
Sita
mengangguk dan tersenyum paksa, hatinya masih terasa berat menerima kenyataan.
Fina kembali tersenyum dan berkumpul bersama yang lainnya. Tanpa sengaja, Sita
menjatuhkan fotonya dan ketika ia hendak mengambilnya, terlihat buku catatan di
laci meja tersebut.
Sita membukanya dan tampaklah
coret-coretan berwarna merah menyala. Banyak tulisan “BODOH!” di dalamnya dan
banyak gambar malaikat bersayap rusak yang penuh darah. Sita terpaku ketika
membaca tulisan
Apakah aku hantu? Mengapa kalian
tidak bisa menyadari aku di sini? MENGAPA?!
Apakah suaraku tidak terdengar?
Apakah aku tidak terlihat?
MENGAPA TIDAK ADA YANG MAU
MENGERTI?!!
Aku yang paling BODOH HAHAHA
APA SALAHKU?!
Mengapa usahaku selalu sia-sia?!
Ada apa dengan perasaan ini?
Dia memilih orang lain!! HAHAHA!
Dia memilih orang lain!!
Aku memang tidak pantas untuknya
Untuk
apa perasaan ini?
Aku ini sebenarnya apa?
Sita
menjadi merasa bersalah ketika membaca buku catatan tersebut, lalu mengambilnya.
Ternyata ada seorang temannya yang selama ini merasa kesepian dan ia
melampiaskannya pada dunianya sendiri.
Sekolah diliburkan dalam waktu tiga hari
untuk penggeledahan sekolah yang dilakukan polisi. Namun, polisi tidak
memberitahukan hasilnya pada publik, sehingga memunculkan adanya setitik
harapan di benak siswa X-AG yang tersisa.
Hari
berikutnya, jasad Awan ditemukan di bawah tangga dekat ruang seni diduga ia
terjatuh dari tangga, sementara jasad Jerry dan Rani ditemukan dalam kondisi tewas karena diperkirakan terjatuh dari lantai
tiga sekolahnya. Sita yang
pertama kali melihat jasad itu harus mengalami introgasi polisi, sementara Sita
sendiri masih syok karena melihat kepala Awan yang pecah serta tubuh Jerry dan
Rani yang tidak beraturan.
Sekarang X-AG hanya berjumlah enam orang yaitu Sita,
Fani, Ifa, Ody,
Mona, dan Rafi.
Mereka mulai terlihat ketakutan, sekaligus sedih.
"Apa
yang harus kita lakukan?" tanya Mona.
"Tetap waspada," jawab Ody.
"Bagaimana kalau kita cari tahu sendiri?" kata Rafi.
"Mungkin kita akan terbunuh nantinya," ucap Fani.
Sita yang
sudah tak tahan, meninggalkan mereka berlima berdiskusi dan menghirup udara
segar di luar. Mulai muncul dalam benaknya bahwa Ardilah pelakunya terbukti
bahwa ia menghilang saat tragedi ini terjadi.
"Ta,
kok di luar? Ayo masuk! Kita diskusikan ini bersama," kata Fani.
"Aku
merasa ini semua ini nggak ada gunanya."
"Ayolah kita pasti bisa melalui ini semua!"
"Itu
karena kamu tidak melihatnya langsung. Itu pasti cuma takdir pasti tidak ada
yang membunuh mereka kecuali malaikat kematian!" bentak Sita tidak tahan.
"Maaf, Ta, aku memang tidak melihatnya langsung, tapi setidaknya
kita memiliki perasaan yang sama, jadi ayo kita cari tahu kebenarannya,"
ajak Fina.
Wajah Sita
yang menunjukan keengganan dan keputusasaan melangkah masuk ke dalam kelasnya
dan mendengarkan diskusi mereka. Akhirnya, mereka memutuskan untuk memasang
perangkap di kelas mereka pada sore harinya.
Sita yang
mendengar suara jendela terkatup segera menuju ke arah suara, namun Fina
memegangi tangan Sita seolah-olah memberi isyarat 'jangan pergi sebelum ini
selesai seutuhnya'. Setelah pulang sekolah, Sita menemani mereka berlima
memasang perangkap dan langsung pergi menuju kendaraan umum, lalu berjalan
menuju ke rumahnya.
Keesokannya, Rafi dan Ody
ditemukan tewas di parit sekolah bersama motornya diduga mereka mengalami
kecelakaan,
sedangkan Mona
tewas tertimpa lemari buku yang tingginya
sekitar dua meter berisi alat perkakas di gudang dan Ifa ditemukan gantung diri di
perpustakaan. Kini,
tinggallah Fani dan Sita yang dibawa ke ruang konseling untuk diinterogasi
secara khusus oleh polisi.
"Sebenarnya
kami berenam memang berniat datang ke sekolah," kata Fani menjelaskan.
"Mengapa kalian lakukan itu?"
"Kami
hanya merasa prihatin atas teman-teman kami dan kami ingin membuktikan
bahwa teman kami dibunuh dengan cara menangkap pembunuhnya langsung."
“Lalu, kalian ada dimana malam itu?”
“Saya saat itu masih di rumah dan saya
akan datang kalau salah satu dari teman saya menghubungi saya, tapi nyatanya
tidak ada yang menghubungi saya malam itu,” jelas Fina.
Sita hanya terdiam selama masa interogasi dengan polisi, sehingga membuat
polisi curiga padanya.
"Nak
Sita, apa yang kamu lakukan belakangan ini?"
"Kegiatan sehari-hari, tanya saja pada orang-orang yang melihat
saya," jawab Sita lemas.
"Saya
tahu kamu syok atas tewasnya teman-temanmu dan kamu sudah
berkali-kali memberi keterangan atas kejadian ini, tapi tolonglah setidaknya bantu kami
dalam
menangani kasus
ini."
"Saya
memang syok atas semua tragedi ini, tapi saya
lebih bingung atas
semua ini. Percuma jika Anda tanya apa yang saya lakukan atau kecurigaan apa
yang saya lihat. Sejujurnya, tidak ada kecurigaan apapun yang saya lihat.
Sekarang saya ingin menenangkan diri dari pertanyaan-pertanyaaan Anda,"
ucap Sita sembari pindah menuju kursi lain di dalam ruangan tersebut. Ini
pertama kalinya Sita berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua usianya.
Seorang polisi dengan pakaian yang
berbeda duduk di bangku yang bersebrangan dengan Sita. Tatapannya pada Sita
penuh selidik, sehingga membuat Sita menatapnya langsung tanda bahwa Sita tidak
takut saat ini.
“Baiklah, akan kuberitahu petunjuk yang
sudah ditemukan saat ini. Hasil forensik mengatakan bahwa korban mengkonsumsi
alkohol sebelum seperti yang kita ketahui ‘saling membunuh satu sama lain’.”
“Itu tidak benar! Mereka tidak mungkin
membunuh satu sama lain dan mereka tidak mungkin mengkonsumsi alkohol! Sekolah
ini sangat ketat, untuk apa mereka melakukan hal itu?!” Sita menentang dengan
tidak sabar.
“Itu belum bisa dibuktikan dengan pasti.
Tapi, jika kamu bersedia membantu kami, itu akan sangat membantu.”
“Baiklah, jadi bagaimana?”
Polisi tersebut memberikan sebuah alat
kecil pada Sita. Alat itu adalah alat penyadap.
“Kamu hanya pulang seperti biasanya dan
melakukan hal-hal yang biasa kamu lakukan.”
“Anda mencurigai saya?! Sudah saya
katakan―”
“Lakukan saja apa yang saya katakan!”
Sita
mengangguk pasrah. Setelah
selesai, Sita dan Fina keluar ruangan. Fina menarik tangan Gea menjauhi cctv
yang baru
terpasang
dua hari yang lalu di dekat
sana.
"Kamu
ikut serta dalam rencana itu, kan?! Katakan apa yang terjadi!" bentak Sita
tidak sabar.
"Aku
saat itu tidak ikut serta dalam rencana itu. Aku bersumpah!
Sita, apapun yang terjadi
kita harus berhati-hati dan tetap waspada. Aku masih tidak tahu apa motifnya,
begitu juga dengan polisi."
Sita
mengangguk, lalu pergi pulang. Di dalam
kendaraan umum, ia melihat seseorang siswa berjaket, memakai masker dan sarung tangan yang tak asing
baginya. Tatapan siswa tersebut yang sebelumnya mengarah
keluar jendela, kini menatap Sita seperti predator yang sedang memburu
mangsanya.
Setelah
beberapa lama kemudian, akhirnya Sita sampai di tempat tujuannya dan langsung
berlari menuju ke rumahnya. Ia berlari menuju kamarnya dan menutup pintu dan
jendelanya. Ia membaca buku catatan yang ia temukan tersebut.
Sakit saat semua yang kulakukan
dengan kerja keras sia-sia saja
Sakit saat dikatain tidak punya
teman
Sakit saat semua kesalahan
dilimpahkan pada diri sendiri
Sakit saat aku ditinggal sendirian
Sakit harus memendam ini sendiri
Sakit saat tidak ada yang peduli
SAKIT!! HAHAHA! SAKIT!!
Setelah
Sita membaca keluh kesah tersebut, akhirnya ia sampai pada halaman terakhir.
Baiklah,
semua sudah selesai. Sudah kuputuskan.
Sita mengambil foto kenangan bersama
XA-5, baru Sita sadari
bahwa tidak
ada Gea dalam foto itu. Sita ingat bahwa Gea memang benci difoto, tapi ia ingat saat itu Gea ikut berfoto bersama.
Sita mencari keberadaan Gea dalam foto itu dan ternyata Gea berada di belakang
tepat di sela-sela antara Fina dengan Nala. Gea tampak seperti sosok penampakan
hantu karena wajahnya tampak buram.
Tiba-tiba terdengar suara orang melempari
jendelanya dengan batu. Gea membuka jendelanya dan terlihat Fina dengan
jaketnya melambai ke arahnya dan dengan membawa sepeda. Sita pun langsung
menemuinya. Tak lupa, ia mengantungi penyadap yang diberikan polisi kepadanya. Setelah
Sita menemuinya, terlihat sosok Fina yang memakai masker dan sarung tangan.
“Mengapa kamu memakai masker dan sarung
tangan, Fin?” tanya Sita.
Fina hanya diam dan mengarahkan
pandangannya ke arah lain. Dengan gerakan tangan, Fina mengajak Gea ke suatu tempat.
Sita mengangguk dan membonceng Fina, Sita sempat mencium bau yang tak enak dari
suatu tempat sepanjang perjalanan.
Fina menghentikan sepedanya di depan
sebuah rumah bekas terbakar dan sudah tidak terawat. Kemudian, Fina memasuki
rumah tanpa pintu tersebut seolah-olah rumah tersebut adalah rumahnya sendiri.
“Fina, kita sebenarnya mau melakukan apa?”
tanya Sita.
“Shhh!” Fina memberi isyarat pada Sita
untuk masuk lebih dulu sebelum dirinya ke dalam rumah tersebut.
Sita memasuki rumah tersebut lebih dulu
sesuai isyarat Fina. Aroma terbakar masih tercium dengan jelas di dalam rumah
tersebut. Tiba-tiba langkah Sita terhenti di bagian belakang rumah tersebut.
“Si-siapa kamu?! Kamu bu-bukan Fina,
kan?!” ucap Sita gugup.
Orang yang menyerupai Fina tersebut hanya
diam dan menatap tajam ke arah Sita, lalu dengan cepat ia mendekati Sita dan
menusukkan sesuatu seperti jarum dan seketika itu Sita tidak sadarkan diri.
Setelah Sita sadar, nampak di sebelah
kanannya sosok seseorang yang masih memakai seragam dari sekolahnya berada di
dalam akuarium yang ditatap orang itu tadi. Sosok di dalam akuarium itu pastilah Ardi, siswa XA-3
yang hilang itu. Sita sendiri mendapati dirinya terikat, sementara Fina juga
diikat dan dibekap di hadapannya.
"Gea,
kamu nggak perlu melakukannya lagi!" ucap Sita.
"Gea?
Siapa yang kamu panggil Gea? Gea sudah lama mati," balasnya dengan tatapan
kosong.
"Dengar! Aku tahu kamu selama ini selalu memendam perasaanmu. Kamu
sakit hati, kan? Kita bisa menyelesaikan ini bersama-sama,"
"Sudah kubilang GEA SUDAH MATI!!!" teriaknya kesal dan
langsung menusuk bahu Sita dengan pisau yang dipegang Fina dengan menggunakan
tongkat.
"Ow!"
"Seharusnya kamu bersyukur karena bukan kamu yang jadi pembunuhnya
kali ini!"
"Si-Sita!" Fina terbangun dan mendapati tangannya yang
memegang pisau menusuk bahu Sita.
"Nggak apa-apa, Fin!"
"Sial!" Gea menarik rambut Fina dan memaksanya menelan opium
sehingga membuat Fina tidak sadarkan diri lagi.
"Yah,
jika kamu masih mengharapkan Gea yang baik hati, sayang sekali sudah terlambat
bagimu."
"Ayolah, aku tahu kamu itu Gea!"
"Tahu
apa kamu tentang aku, hah! Tidak ada yang mengerti aku hehe hehe
ahahahaha!"
Gea
mengarahkan tongkatnya yang mengendalikan tangan Fina yang memegang pisau
tersebut menusuk bahu Sita berkali-kali.
Sita
menahan rasa sakit di bahunya, meskipun rasa sakit itu tidak ada bandingannya
terhadap rasa sakit di hatinya.
Gea mengarahkan tongkatnya untuk menusuk
tepat di jantung Fina dan membuat tubuh Fina yang tidak sadar itu mengejang
sesaat tanda Fina sudah meninggal. Sita menangis melihat Fina yang sudah
merenggang nyawa.
Terdengar suara sirine dari luar dan
suara langkah-langkah tegap polisi yang mengepung mereka.
“Sudah saatnya manjalankan langkah D,”
ucapnya.
Salah satu polisi yang mengetahui
maksudnya langsung berteriak. “Cepat tinggalkan tempat ini! Selamatkan korban!”
Sontak beberapa polisi segera mengamankan
barang bukti dan korban, sementara sisanya mengamankan warga yang tinggal di
sekitarnya. Gea hanya diam dengan tatapan kosongnya di tempat, tanpa ada yang
mempedulikannya. Dalam hitungan menit, rumah itu meledak. Beruntung, semua
orang sudah terselamatkan kecuali Fina yang sudah terbunuh.
Setelah ledakan itu, Gea ditemukan dan masih dalam keadaan hidup
meskipun sekarat. Mereka semua segera dilarikan ke rumah sakit yang sama. Diketahui
bahwa Ardi hanya diberikan opium setiap harinya dalam dosis yang sama, Gea
masih tidak sadarkan diri, dan Sita sudah sadar seminggu kemudian.
Seorang polisi yang sebelumnya memberikan
penyadap kepadanya datang mengunjungi dan memberikan buku yang berisikan keluh
kesah yang ternyata milik Gea. Sita berterima kasih dan membuka buku tersebut. Tiba-tiba
sebuah lembaran kertas terjatuh dari buku tersebut dan isi dalam lembaran
tersebut sedikit menjelaskan tentang beberapa hal.
Maaf, maafkan aku!
Siapa kamu?! Siapa aku?!
PERGI DARI HIDUPKU!!!
Polisi tersebut menjelaskan bahwa Gea mengintai teman-temannya dengan menyamar sebagai siswa lain dengan seragam Ardi dan kebakaran itu bukanlah insiden biasa, tapi ulah Gea yang sengaja membakar rumah tersebut dan bersembunyi di gudang rumahnya yang berada di belakang. Diketahui bahwa Gea sepertinya memiliki kelainan jiwa. Sita hanya menanggapi penjelasan polis tersebut dengan menganggukkan kepala.
Sebulan kemudian, Gea sudah sadarkan diri
dan terdengar rumor bahwa Gea bertingkah menakutkan dan tidak ingin didekati
siapapun termasuk dokter dan suster. Sita yang tidak mempedulikan rumor
tersebut, memasuki ruangan Gea.
Di dalam, terlihat Gea yang duduk
membelakanginya dengan banyak darah dan pecahan barang-barang di sekitarnya. Kondisinya
benar-benar tidak terawat.
“Apa maumu?!” bentak Gea tanpa menoleh ke
arahnya.
“Kamu Gea?” tanya Sita.
“Gea atau bukan, itu bukan urusanmu!
Pergi sekarang!”
“Aku tahu Gea sering memendam
perasaannya, tapi tolong jangan buat dia menyakiti dirinya sendiri.”
Tiba-tiba, tangan Gea terlihat bergerak
dan Gea terbaring. Sita langsung memanggil dokter dan suster. Setelah tubuh Gea
dibaringkan barulah terlihat dengan jelas darah mencucur dari dadanya dan
tangannya, serta kaki kirinya yang teramputasi dan wajahnya yang rusak.
Setelah kejadian itu, Sita dan Ardi menjalani kehidupan sehari-harinya yang biasa. Sita mendapatkan
sebuah pelajaran berharga. Pengalaman itu tidak akan bisa ia lupakan. Terkadang
ia menyesal karena saat itu ia tidak melakukan sesuatu, sesuatu yang benar-benar
bisa mencegah tragedi itu.