Kamis, 07 Mei 2015

X-AG

      Upacara penerimaan murid baru sudah berlalu sejak tiga menit yang lalu. Kini, Sita beserta murid-murid lainnya masuk ke kelasnya masing-masing. Sita berada di kelas X-AG yang diketahui memiliki jumlah siswa paling sedikit dikalangan X-A lainnya yaitu 20 orang. Sekolah ini memang membagi kelas X menjadi empat bagian yaitu X-A, X-B, X-C dan X-AS yang kemudian kembali dibagi menjadi beberapa bagian. X-A dengan jumlah 6 kelas, X-B dengan jumlah 1 kelas, dan X-C dengan jumlah 3 kelas. Sedangkan kelas X-AS merupakan kelas spesial dengan siswa-siswa teladan di dalamnya.
      Suasana di dalam kelasnya masih terasa canggung karena masih belum mengenal satu sama lain. Namun, ada beberapa siswa yang mulai berkenalan satu sama lain, bahkan siswa yang duduk di sebelah kanannya mengajaknya untuk berkenalan.
      “Halo, namaku Tania. Kamu?” tanya siswa tersebut sambil mengulurkan tangannya pada Sita.
      “Sita,” jawab Sita sambil membalas jabat tangan Tania.
      “Aku Mona,” sahut siswa yang duduk di bangku belakang Sita.
      “Eh, enggak diajak kok ikut-ikut aja, Mon, hahaha,” canda Tania.
      “Biarin aja,” balas Mona sambil memeletkan lidahnya.
      Sita hanya tertawa kecil melihat tingkah laku teman barunya itu. Selang beberapa lama berkenalan, Sita sudah mengenal 5 siswa, yaitu Tania, Mona, Listya, Hana, dan Nala. Karena bangku-bangku di kelasnya disusun berbentuk huruf U, ia belum bisa berkenalan dengan seluruh siswa di kelasnya.
       Pandangannya mulai beralih kepada siswa yang sedari tadi sibuk menulis sesuatu di buku catatannya. Siswa tersebut duduk di ujung belakang deretannya. Sita sendiri duduk di bangku bagian kanan huruf U dan dua deret dari depan.
      Beberapa menit kemudian, salah seorang guru yang diketahui merupakan wali kelasnya masuk ke dalam kelasnya dan mengabsen kami satu-persatu. Dari situlah, Sita tahu kalau nama siswa tersebut adalah Gea.
      Guru yang tadi mengabsen kami satu-persatu adalah Bu Nana, guru matematika kelas X. Bu Nana kelihatannya orang yang ramah dan suka bercanda terlihat dari pembawaannya dalam menyampaikan beberapa informasi.
    Sekarang saatnya menentukan struktur organisasi kelas. Bu Nana memilih Juna sebagai ketua kelas. Juna berpostur tinggi dan perawakannya seperti orang dewasa, maka dari itu Bu Nana memilihnya sebagai ketua kelas.
      Bu Nana terkadang selalu terbalik menyebutkan nama Juna dan Mona ketika ia memberitahukan apa yang harus dilakukan dan membuat seluruh kelas tertawa kecuali Mona yang sedikit merengut.
      Kemudian, Bu Nana melanjutkan kembali pemilihan anggota organisasi kelas lainnya. Tania dan Ima  terpilih menjadi bendahara kelas, Rafi dan Santi terpilih menjadi sekretaris, dan anggota lainnya akan ditentukan sendiri oleh siswa karena waktu sudah habis.
      Lalu, datang guru lain yang menawarkan pelajaran seni. Di sekolah ini siswa juga harus memilih salah satu bidang pelajaran seni dari keempat bidang seni lainnya, yaitu seni musik, drama, tari, dan rupa. Yang pertama kali memasuki kelas adalah guru seni drama. Lalu diikuti seni musik, tari, dan rupa. Kemudian, seluruh murid diberi kertas yang akan dituliskan bidang seni yang dipilih.
      “Sita, kamu pilih seni apa?” tanya Gea sambil tersenyum ramah.
      Sita membalas tersenyum, ternyata Gea bukan murid yang terlalu pendiam. “Seni musik. Kalau kamu?” tanyanya.
      “Seni rupa.”
      Setelah menjawab, Gea mengumpulkan kertasnya pada Juna dan mulai berkenalan dengan yang lain. Lalu, ia kembali ke bangkunya, setelah guru lain datang mengajar. Begitulah sekolah Sita yang langsung memulai pelajaran meskipun masih memiliki aura MOS.
      Singkat cerita, kelas X-AG merupakan kelas yang menurut Sita spesial karena termasuk kelas tersedikit dikalangan kelas X-A dan cepat akrab dibanding kelas lainnya. Mereka melalui masa-masa menyenangkan selama di sekolah sampai akhirnya ujian tengah semester berakhir dan nilai-nilai dibagikan.
      “Hee, nilai matematikaku tertukar dengan nilai Gea!” seru Fina memecah keheningan dan langsung dikerumuni Sita, Listya, Tania, Nala, Rani dan Hana.
      Gea terlihat menoleh ke arah kerumunan dan kembali menatap lembar nilainya yang posisinya berada di peringkat terakhir. Nilai matematikanya memang lebih rendah dari nilai Fina
      “Coba kalau nilaiku tidak tertukar dengan Gea!” tambah Fina.
      Gea melipat kertas nilainya dan meletakkannya di dalam tas. “Juna, aku ijin ke kamar mandi,” katanya sambil berlalu.
      Fina terus saja berceloteh tentang nilainya yang tertukar dengan Gea, padahal Gea sudah berada di posisi terakhir di kelas X-AG. Meskipun begitu, Gea tetap akrab dengan Fina dan tidak menunjukan perubahan sikap apapun.
      Namun, pada suatu ketika Gea tak bisa membendung amarahnya dan membuat kaget seluruh kelasnya. Ia yang tadinya sedang membaca buku, tiba-tiba melempar bukunya dan menuju ke arah dimana para siswa laki-laki sedang memainkan tombol lampu, lalu meneriakinya dengan penuh amarah dan tatapan tajam. Belum pernah Sita melihat Gea semarah itu. Keesokan paginya, Gea kembali seperti semula dan meminta maaf karena amarahnya keterlaluan.
      Semua kembali seperti semua sampai akhirnya liburan telah tiba. Sampai suatu ketika ada berita mengejutkan pada tiga hari sebelum masuk sekolah. Rumah Gea terbakar dan seluruh penghuninya tewas termasuk Gea. Seluruh pihak sekolah berduka cita atas meninggalnya Gea dan keluarganya. Sita hanya terdiam begitu juga dengan yang lainnya. Gea memang bukan siswa yang menonjol, tapi dia termasuk siswa yang baik.
       Setelah beberapa bulan berlalu, seluruh siswa X-AG kembali normal seperti biasa. Bercanda dan tertawa, terkadang Sita menoleh ke arah bangku kosong di belakang. Kadang muncul juga bayangan Gea yang sedang asyik menggambar. Gea memang lebih suka menggambar dibandingkan berkumpul bersama teman-teman.
      Keesokan paginya, Sita yang baru masuk sekolah mendapati banyak polisi. Para guru pun tidak berada di ruangannya, mereka berada di lobi dengan wajah prihatin. Para siswa kecuali X-AG membawa tas mereka dengan wajah kebingungan sekaligus ngeri dan keluar dari sekolah.
      Sita dengan ragu, terus melangkah menuju kelasnya. Terlihat beberapa temannya tampak sedang diinterogasi oleh polisi, beberapa terlihat syok dan hanya terdiam, dan yang lainnya menangis.
      “Ini ada apa?” tanya Sita.
      “Listya... Nala... hiks..hiks..” jawab Tania yang saat itu kebetulan berada di dekatnya.
      Sita tak memaksakan Tania untuk menjawab pertanyaannya, jadi ia hanya duduk menunggu temannya akan menjelaskan apa yang terjadi.
      “Kamu baru datang?” tanya seorang polisi yang mengejutkan Sita.
      "I-iya, Pak," jawab Sita gugup.
      "Teman sekelasmu yang bernama Listya dan Nala tewas karena saling membunuh di perpustakaan sekolah dan menghilangnya Ardi dari kelas X-AC. Sepulang sekolah, kamu ada dimana?"
      "Listya dan Nala... saling membunuh? Nggak mungkin!" kata Sita tak percaya. "Saya langsung pulang, saksinya teman saya itu." Sita menunjuk ke arah Fina.
      Polisi tersebut mengangguk tanda percaya pada Sita. "Lalu, kapan terakhir kali kamu bertemu dengan mereka?"
      "Aku tak melihat Ardi, tapi aku melihat Listya terakhir kali di depan pintu kelas, saat itu saya menuju ke lobi sedangkan dia menuju ke parkiran."
      "Baiklah, terima kasih," kata polisi itu sambil berlalu dari Sita yang menutup wajahnya.
      "Sita, sudah jangan menangis!" kata Fina menengkan.
      "Aku nggak nyangka aja, Fin! Listya dan Nala itu baik, bisa-bisanya mereka saling membunuh, hiks!"
      "Sudah, Ta, Listya dan Nala nggak mungkin berbuat begitu. Pasti ada yang membunuh mereka dengan trik semacam itu."
      Sita menghapus air matanya. "Kamu bener, Fin. Pasti ada yg membunuh mereka!"
      Karena tragedi tersebut, sekolah akhirnya diliburkan dalam kurun waktu seminggu untuk penyelidikan. Setelah itu, semua kembali berjalan normal kecuali keceriaan siswa X-AG.
      Lagi-lagi tragedi itu terjadi lagi, dan kali ini Sita melihatnya secara langsung ketika ia menuju bagian belakang perpustakaan siang hari. Jasad Santi berada dalam ikatan dan penuh tusukan, sedangkan jasad Hana berada dalam posisi menusuk dirinya sendiri mereka masing-masing menggenggam foto siswa X-AG yg difoto saat semester pertama. Sita tak langsung menyentuhnya, tapi langsung melapor pada guru. Lalu, polisi kembali menginterogasinya dan lagi-lagi kesedihan melanda.
      Meskipun tragedi tersebut terjadi lagi, pihak sekolah tidak meliburkan siswa karena mengejar materi pelajaran yang tertinggal. Hal itu membuat beberapa siswa melakukan aksi protes kecuali para siswa X-AG yang masih syok atas tragedi itu.
      Esoknya, ditemukan  jasad Heru seperti gantung diri dan Ima dengan posisi yang sama dengan Hana di bagian rak buku khusus matematika. Siswa laki-laki X-AG menjadi diam selama berada di sekolah, bahkan beberapa membolos sekolah.
      Hari berikutnya polisi sudah mulai berjaga-jaga di sekolah dan tidak ada siswa yang tewas di sekolah. Tiga hari sesudahnya, ada berita bahwa Juna dan Rama tewas karena mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang.  
      Sita duduk di bangkunya dan memandangi foto bersamanya tersebut. Ia berada di sebelah Fani dan Listya. Ia berusaha mencari tahu mengapa terjadi hal seperti itu.
      "Yakin aja kalau semuanya akan baik-baik saja, Ta," kata Fina yang tiba-tiba di sebelah Sita.
     Sita mengangguk dan tersenyum paksa, hatinya masih terasa berat menerima kenyataan. Fina kembali tersenyum dan berkumpul bersama yang lainnya. Tanpa sengaja, Sita menjatuhkan fotonya dan ketika ia hendak mengambilnya, terlihat buku catatan di laci meja tersebut.
      Sita membukanya dan tampaklah coret-coretan berwarna merah menyala. Banyak tulisan “BODOH!” di dalamnya dan banyak gambar malaikat bersayap rusak yang penuh darah. Sita terpaku ketika membaca tulisan
Apakah aku hantu? Mengapa kalian tidak bisa menyadari aku di sini? MENGAPA?!
Apakah suaraku tidak terdengar? Apakah aku tidak terlihat?
MENGAPA TIDAK ADA YANG MAU MENGERTI?!!
Aku yang paling BODOH HAHAHA
APA SALAHKU?!
Mengapa usahaku selalu sia-sia?!

Ada apa dengan perasaan ini?

Dia memilih orang lain!! HAHAHA! Dia memilih orang lain!!
Aku memang tidak pantas untuknya
Untuk apa perasaan ini?

Aku ini sebenarnya apa?
Sita menjadi merasa bersalah ketika membaca buku catatan tersebut, lalu mengambilnya. Ternyata ada seorang temannya yang selama ini merasa kesepian dan ia melampiaskannya pada dunianya sendiri.
      Sekolah diliburkan dalam waktu tiga hari untuk penggeledahan sekolah yang dilakukan polisi. Namun, polisi tidak memberitahukan hasilnya pada publik, sehingga memunculkan adanya setitik harapan di benak siswa X-AG yang tersisa.
      Hari berikutnya, jasad Awan ditemukan di bawah tangga dekat ruang seni diduga ia terjatuh dari tangga, sementara jasad Jerry dan Rani ditemukan dalam kondisi tewas karena diperkirakan terjatuh dari lantai tiga sekolahnya. Sita yang pertama kali melihat jasad itu harus mengalami introgasi polisi, sementara Sita sendiri masih syok karena melihat kepala Awan yang pecah serta tubuh Jerry dan Rani yang tidak beraturan.
       Sekarang X-AG hanya berjumlah enam orang yaitu Sita, Fani, Ifa, Ody, Mona, dan Rafi. Mereka mulai terlihat ketakutan, sekaligus sedih.
      "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Mona.
      "Tetap waspada," jawab Ody.
      "Bagaimana kalau kita cari tahu sendiri?" kata Rafi.
      "Mungkin kita akan terbunuh nantinya," ucap Fani.
      Sita yang sudah tak tahan, meninggalkan mereka berlima berdiskusi dan menghirup udara segar di luar. Mulai muncul dalam benaknya bahwa Ardilah pelakunya terbukti bahwa ia menghilang saat tragedi ini terjadi.
      "Ta, kok di luar? Ayo masuk! Kita diskusikan ini bersama," kata Fani.
      "Aku merasa ini semua ini nggak ada gunanya."
      "Ayolah kita pasti bisa melalui ini semua!"
      "Itu karena kamu tidak melihatnya langsung. Itu pasti cuma takdir pasti tidak ada yang membunuh mereka kecuali malaikat kematian!" bentak Sita tidak tahan.
      "Maaf, Ta, aku memang tidak melihatnya langsung, tapi setidaknya kita memiliki perasaan yang sama, jadi ayo kita cari tahu kebenarannya," ajak Fina.
      Wajah Sita yang menunjukan keengganan dan keputusasaan melangkah masuk ke dalam kelasnya dan mendengarkan diskusi mereka. Akhirnya, mereka memutuskan untuk memasang perangkap di kelas mereka pada sore harinya.
      Sita yang mendengar suara jendela terkatup segera menuju ke arah suara, namun Fina memegangi tangan Sita seolah-olah memberi isyarat 'jangan pergi sebelum ini selesai seutuhnya'. Setelah pulang sekolah, Sita menemani mereka berlima memasang perangkap dan langsung pergi menuju kendaraan umum, lalu berjalan menuju ke rumahnya.
      Keesokannya, Rafi dan Ody ditemukan tewas di parit sekolah bersama motornya diduga mereka mengalami kecelakaan, sedangkan Mona tewas tertimpa lemari buku yang tingginya sekitar dua meter berisi alat perkakas di gudang dan Ifa ditemukan gantung diri di perpustakaan. Kini, tinggallah Fani dan Sita yang dibawa ke ruang konseling untuk diinterogasi secara khusus oleh polisi.
      "Sebenarnya kami berenam memang berniat datang ke sekolah," kata Fani menjelaskan.
      "Mengapa kalian lakukan itu?"
      "Kami hanya merasa prihatin atas teman-teman kami dan kami ingin membuktikan bahwa teman kami dibunuh dengan cara menangkap pembunuhnya langsung."
      “Lalu, kalian ada dimana malam itu?”
      “Saya saat itu masih di rumah dan saya akan datang kalau salah satu dari teman saya menghubungi saya, tapi nyatanya tidak ada yang menghubungi saya malam itu,” jelas Fina.
      Sita hanya terdiam selama masa interogasi dengan polisi, sehingga membuat polisi curiga padanya.
      "Nak Sita, apa yang kamu lakukan belakangan ini?"
      "Kegiatan sehari-hari, tanya saja pada orang-orang yang melihat saya," jawab Sita lemas.
      "Saya tahu kamu syok atas tewasnya teman-temanmu dan kamu sudah berkali-kali memberi keterangan atas kejadian ini, tapi tolonglah setidaknya bantu kami dalam menangani kasus ini."
      "Saya memang syok atas semua tragedi ini, tapi saya lebih bingung atas semua ini. Percuma jika Anda tanya apa yang saya lakukan atau kecurigaan apa yang saya lihat. Sejujurnya, tidak ada kecurigaan apapun yang saya lihat. Sekarang saya ingin menenangkan diri dari pertanyaan-pertanyaaan Anda," ucap Sita sembari pindah menuju kursi lain di dalam ruangan tersebut. Ini pertama kalinya Sita berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua usianya.
      Seorang polisi dengan pakaian yang berbeda duduk di bangku yang bersebrangan dengan Sita. Tatapannya pada Sita penuh selidik, sehingga membuat Sita menatapnya langsung tanda bahwa Sita tidak takut saat ini.
      “Baiklah, akan kuberitahu petunjuk yang sudah ditemukan saat ini. Hasil forensik mengatakan bahwa korban mengkonsumsi alkohol sebelum seperti yang kita ketahui ‘saling membunuh satu sama lain’.”
      “Itu tidak benar! Mereka tidak mungkin membunuh satu sama lain dan mereka tidak mungkin mengkonsumsi alkohol! Sekolah ini sangat ketat, untuk apa mereka melakukan hal itu?!” Sita menentang dengan tidak sabar.
      “Itu belum bisa dibuktikan dengan pasti. Tapi, jika kamu bersedia membantu kami, itu akan sangat membantu.”
      “Baiklah, jadi bagaimana?”
      Polisi tersebut memberikan sebuah alat kecil pada Sita. Alat itu adalah alat penyadap.
      “Kamu hanya pulang seperti biasanya dan melakukan hal-hal yang biasa kamu lakukan.”
      “Anda mencurigai saya?! Sudah saya katakan
      “Lakukan saja apa yang saya katakan!”
      Sita mengangguk pasrah. Setelah selesai, Sita dan Fina keluar ruangan. Fina menarik tangan Gea menjauhi cctv yang baru terpasang dua hari yang lalu di dekat sana.
      "Kamu ikut serta dalam rencana itu, kan?! Katakan apa yang terjadi!" bentak Sita tidak sabar.
      "Aku saat itu tidak ikut serta dalam rencana itu. Aku bersumpah! Sita, apapun yang terjadi kita harus berhati-hati dan tetap waspada. Aku masih tidak tahu apa motifnya, begitu juga dengan polisi."
      Sita mengangguk, lalu pergi pulang.  Di dalam kendaraan umum, ia melihat seseorang siswa berjaket, memakai masker dan sarung tangan yang tak asing baginya. Tatapan siswa tersebut yang sebelumnya  mengarah keluar jendela, kini menatap Sita seperti predator yang sedang memburu mangsanya.
      Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya Sita sampai di tempat tujuannya dan langsung berlari menuju ke rumahnya. Ia berlari menuju kamarnya dan menutup pintu dan jendelanya. Ia membaca buku catatan yang ia temukan tersebut.

Sakit saat semua yang kulakukan dengan kerja keras sia-sia saja
Sakit saat dikatain tidak punya teman
Sakit saat semua kesalahan dilimpahkan pada diri sendiri
Sakit saat aku ditinggal sendirian
 Sakit harus memendam ini sendiri
Sakit saat tidak ada yang peduli
SAKIT!! HAHAHA! SAKIT!!

      Setelah Sita membaca keluh kesah tersebut, akhirnya ia sampai pada halaman terakhir.

Baiklah, semua sudah selesai. Sudah kuputuskan.

       Sita mengambil foto kenangan bersama XA-5, baru Sita sadari bahwa tidak ada Gea dalam foto itu. Sita ingat bahwa Gea memang benci difoto, tapi ia ingat saat itu Gea ikut berfoto bersama. Sita mencari keberadaan Gea dalam foto itu dan ternyata Gea berada di belakang tepat di sela-sela antara Fina dengan Nala. Gea tampak seperti sosok penampakan hantu karena wajahnya tampak buram.
      Tiba-tiba terdengar suara orang melempari jendelanya dengan batu. Gea membuka jendelanya dan terlihat Fina dengan jaketnya melambai ke arahnya dan dengan membawa sepeda. Sita pun langsung menemuinya. Tak lupa, ia mengantungi penyadap yang diberikan polisi kepadanya. Setelah Sita menemuinya, terlihat sosok Fina yang memakai masker dan sarung tangan.
      “Mengapa kamu memakai masker dan sarung tangan, Fin?” tanya Sita.
      Fina hanya diam dan mengarahkan pandangannya ke arah lain. Dengan gerakan tangan, Fina mengajak Gea ke suatu tempat. Sita mengangguk dan membonceng Fina, Sita sempat mencium bau yang tak enak dari suatu tempat sepanjang perjalanan.
      Fina menghentikan sepedanya di depan sebuah rumah bekas terbakar dan sudah tidak terawat. Kemudian, Fina memasuki rumah tanpa pintu tersebut seolah-olah rumah tersebut adalah rumahnya sendiri.
      “Fina, kita sebenarnya mau melakukan apa?” tanya Sita.
      “Shhh!” Fina memberi isyarat pada Sita untuk masuk lebih dulu sebelum dirinya ke dalam rumah tersebut.
      Sita memasuki rumah tersebut lebih dulu sesuai isyarat Fina. Aroma terbakar masih tercium dengan jelas di dalam rumah tersebut. Tiba-tiba langkah Sita terhenti di bagian belakang rumah tersebut.
      “Si-siapa kamu?! Kamu bu-bukan Fina, kan?!” ucap Sita gugup.
      Orang yang menyerupai Fina tersebut hanya diam dan menatap tajam ke arah Sita, lalu dengan cepat ia mendekati Sita dan menusukkan sesuatu seperti jarum dan seketika itu Sita tidak sadarkan diri.
      Setelah Sita sadar, nampak di sebelah kanannya sosok seseorang yang masih memakai seragam dari sekolahnya berada di dalam akuarium yang ditatap orang itu tadi. Sosok di dalam akuarium itu pastilah Ardi, siswa XA-3 yang hilang itu. Sita sendiri mendapati dirinya terikat, sementara Fina juga diikat dan dibekap di hadapannya.
      "Gea, kamu nggak perlu melakukannya lagi!" ucap Sita.
      "Gea? Siapa yang kamu panggil Gea? Gea sudah lama mati," balasnya dengan tatapan kosong.
      "Dengar! Aku tahu kamu selama ini selalu memendam perasaanmu. Kamu sakit hati, kan? Kita bisa menyelesaikan ini bersama-sama,"
      "Sudah kubilang GEA SUDAH MATI!!!" teriaknya kesal dan langsung menusuk bahu Sita dengan pisau yang dipegang Fina dengan menggunakan tongkat.
      "Ow!"
      "Seharusnya kamu bersyukur karena bukan kamu yang jadi pembunuhnya kali ini!"
      "Si-Sita!" Fina terbangun dan mendapati tangannya yang memegang pisau menusuk bahu Sita.
      "Nggak apa-apa, Fin!"
      "Sial!" Gea menarik rambut Fina dan memaksanya menelan opium sehingga membuat Fina tidak sadarkan diri lagi.
      "Yah, jika kamu masih mengharapkan Gea yang baik hati, sayang sekali sudah terlambat bagimu."
      "Ayolah, aku tahu kamu itu Gea!"
      "Tahu apa kamu tentang aku, hah! Tidak ada yang mengerti aku hehe hehe ahahahaha!"
      Gea mengarahkan tongkatnya yang mengendalikan tangan Fina yang memegang pisau tersebut menusuk bahu Sita berkali-kali. Sita menahan rasa sakit di bahunya, meskipun rasa sakit itu tidak ada bandingannya terhadap rasa sakit di hatinya.
      Gea mengarahkan tongkatnya untuk menusuk tepat di jantung Fina dan membuat tubuh Fina yang tidak sadar itu mengejang sesaat tanda Fina sudah meninggal. Sita menangis melihat Fina yang sudah merenggang nyawa.
      Terdengar suara sirine dari luar dan suara langkah-langkah tegap polisi yang mengepung mereka.
      “Sudah saatnya manjalankan langkah D,” ucapnya.
      Salah satu polisi yang mengetahui maksudnya langsung berteriak. “Cepat tinggalkan tempat ini! Selamatkan korban!”
      Sontak beberapa polisi segera mengamankan barang bukti dan korban, sementara sisanya mengamankan warga yang tinggal di sekitarnya. Gea hanya diam dengan tatapan kosongnya di tempat, tanpa ada yang mempedulikannya. Dalam hitungan menit, rumah itu meledak. Beruntung, semua orang sudah terselamatkan kecuali Fina yang sudah terbunuh.
      Setelah ledakan itu, Gea ditemukan dan masih dalam keadaan hidup meskipun sekarat. Mereka semua segera dilarikan ke rumah sakit yang sama. Diketahui bahwa Ardi hanya diberikan opium setiap harinya dalam dosis yang sama, Gea masih tidak sadarkan diri, dan Sita sudah sadar seminggu kemudian.
      Seorang polisi yang sebelumnya memberikan penyadap kepadanya datang mengunjungi dan memberikan buku yang berisikan keluh kesah yang ternyata milik Gea. Sita berterima kasih dan membuka buku tersebut. Tiba-tiba sebuah lembaran kertas terjatuh dari buku tersebut dan isi dalam lembaran tersebut sedikit menjelaskan tentang beberapa hal.

Maaf, maafkan aku!
Siapa kamu?! Siapa aku?!
PERGI DARI HIDUPKU!!!

            Polisi tersebut menjelaskan bahwa Gea mengintai teman-temannya dengan menyamar sebagai siswa lain dengan seragam Ardi dan kebakaran itu bukanlah insiden biasa, tapi ulah Gea yang sengaja membakar rumah tersebut dan bersembunyi di gudang rumahnya yang berada di belakang. Diketahui bahwa Gea sepertinya memiliki kelainan jiwa. Sita hanya menanggapi penjelasan polis tersebut dengan menganggukkan kepala.
      Sebulan kemudian, Gea sudah sadarkan diri dan terdengar rumor bahwa Gea bertingkah menakutkan dan tidak ingin didekati siapapun termasuk dokter dan suster. Sita yang tidak mempedulikan rumor tersebut, memasuki ruangan Gea.
      Di dalam, terlihat Gea yang duduk membelakanginya dengan banyak darah dan pecahan barang-barang di sekitarnya. Kondisinya benar-benar tidak terawat.
      “Apa maumu?!” bentak Gea tanpa menoleh ke arahnya.
      “Kamu Gea?” tanya Sita.
      “Gea atau bukan, itu bukan urusanmu! Pergi sekarang!”
      “Aku tahu Gea sering memendam perasaannya, tapi tolong jangan buat dia menyakiti dirinya sendiri.”
      Tiba-tiba, tangan Gea terlihat bergerak dan Gea terbaring. Sita langsung memanggil dokter dan suster. Setelah tubuh Gea dibaringkan barulah terlihat dengan jelas darah mencucur dari dadanya dan tangannya, serta kaki kirinya yang teramputasi dan wajahnya yang rusak.
      Setelah kejadian itu, Sita dan Ardi menjalani kehidupan sehari-harinya yang biasa. Sita mendapatkan sebuah pelajaran berharga. Pengalaman itu tidak akan bisa ia lupakan. Terkadang ia menyesal karena saat itu ia tidak melakukan sesuatu, sesuatu yang benar-benar bisa mencegah tragedi itu.

Kamis, 06 November 2014

Aster Merah


     Pada siang itu, wanita berpakaian merah cerah itu terus saja menatap ke arah jendela. Entah apa yang dilihatnya, padahal di luar sana hanya ada halaman belakang kami dengan hujan deras yang terus turun sejak pagi tadi.
      Aku mulai mendekatinya dengan rasa penasaran. Dengan susah payah aku berjinjit dan melompat-lompat untuk bisa melihat apa yang ada di luar sana. Cukup sulit untukku melihat karena jendela itu lihat sangat tinggi bagiku. Wanita itu tersenyum gemas ke arahku, lalu mengangkatku untuk bisa melihat apa yang ia lihat.
      Wanita yang saat ini tengah menggendongku adalah ibu. Wanita yang selalu merawatku dengan sabar, memberiku pengetahuan tentang apa yang ada di dunia ini, dan yang paling utama ialah yang memberiku kasih sayang tiada duanya. Pandanganku mulai beralih ke luar jendela. Benar dugaanku, di sana hanya ada halaman belakang kami yang penuh dengan beraneka macam bunga dengan suasana yang teduh karena hujan.
      “Viola...” Ibu dengan lembut memanggilku sambil mengelus rambut pendekku.
      Aku menoleh ke arahnya, tapi aku tidak menjawabnya, aku hanya menatapnya dengan pandangan ingin tahu. Ibu menunjuk ke arah bunga kesukaannya. Bunga itu berwarna semerah pakaian yang ia pakai saat ini.
      “Kamu tahu itu namanya bunga apa?” tanya ibu lembut.
      Aku menggeleng. Aku memang tahu kalau itu bunga kesukaan ibu, tapi aku tidak tahu namanya. “Apa namanya, Bu?”
      Ibu mulai beralih menatap bunga tersebut. “Namanya bunga aster.”
      “Ibu, mengapa ibu suka bunga itu?” tanyaku polos.
      Ibu tertawa kecil dan pandangannya seakan menerawang sebuah kejadian yang tak akan pernah ia lupakan.
      “Bunga itu harta karun kedua ibu setelah kamu,” kata ibuku sembari menurunkanku. Ia melepaskan kalung kuncinya yang tak pernah ia lepaskan itu dan memakaikannya padaku.
      “Maukah kamu menjaga harta karun ibu?” tanya ibu lembut padaku.
      “Ya!” kataku mantap.
      Ibu tersenyum ke arahku, tapi mata ibu terlihat berkaca-kaca. “Ibu menangis, ibu sedih?” tanyaku.
      "Tidak, Viola. Justru ibu merasa senang. Sekarang, Viola mau ibu ceritakan cerita apa?" Wajahnya mulai terlihat ceria kembali seperti biasanya.
      "Aku mau cerita tentang si Coklat dan si Putih!" seruku ceria.
      "Tapi, harus naik pesawat dulu, ya!" Ibu mengangkatku dan berputar-putar menuju ke kamarku.
      "Hahaha!" Aku tertawa kegirangan, begitu juga dengan ibu. Rasanya cukup menyenangkan bersama ibu, meskipun tanpa ayah.
      Aku tidak pernah tahu keberadaan ayah, bahkan aku tidak pernah tahu seperti apa wajahnya. Aku juga tidak ingin menanyakannya pada ibu. Bersama ibu saja sudah cukup bagiku karena ibu selalu membuat hari-hariku menjadi lebih baik pada saat banyak hal yang menyakiti hatiku di luar sana, seperti ejekan temanku di sekolah karena aku tidak punya ayah tanpa alasan yang jelas, bahkan banyak yang menjauhiku karena hal itu.
      Begitulah yang separuh kenangan bersama ibu yang selalu kuingat. Kini, ibu tak lagi menatap jendela tersebut dan tak lagi bersamaku di sini. Semua itu berawal saat aku dan ibu mengalami kecelakaan ketika kami akan pergi berlibur bersama setahun yang lalu. Sejak saat itu pula, aku selalu berada di dalam rumah dan halaman belakangku bersama sepupuku, Aira, yang sekaligus merawatku.
       Aira sudah terasa seperti kakakku sendiri dan ia selalu kesal setiap kali aku menolak ajakannya untuk keluar rumah. Aku tidak ingin keluar rumah karena aku ingin merasa tenang di halaman belakang rumahku sekaligus mengenang hari-hariku bersama ibu.
      Seharusnya aku tinggal bersama paman, bibi, serta Aira, tapi ada sesuatu yang harus kutepati, sesuatu yang mengharuskanku tinggal di sini sampai aku menemukan apa itu.
      “Viola, sampai kapan kamu tinggal di sini terus? Apa kamu tidak ingin bersekolah kembali?” tanya Aira yang sedang mendorong kursi rodaku menuju ke halaman belakang.
      “Sampai aku menemukan apa yang harus aku jaga.” Aku menatap bunga aster merah kesukaan ibu dan mencoba memikirkan apa yang ibu simpan pada bunga tersebut.
      “Aku bingung dengan khayalanmu yang aneh itu. Tidak bisakah kau merelakan bibi? Kami sangat khawatir padamu, apalagi kondisimu sudah yang seperti ini.”
      “Terima kasih kalian sudah mengkhawatirkanku, tapi aku harap kalian juga bisa bersabar dan mengerti. Aku hanya ingin memenuhi keinginan ibu.”
       Aku memegangi kalung kunci yang ibu berikan dulu sewaktu kukecil jauh sebelum kecelakaan itu berlangsung. Ibu tidak memberitahuku kunci untuk apa ini, maka dari itu aku memutuskan untuk menetap di sini sampai aku menemukan kunci untuk apa ini.
       Aira menghela nafas. “Ya sudah. Terserah kau saja, tapi mau tak mau dalam tiga hari ini kau harus siap meninggalkan rumah ini dan tinggal bersama kami. Kamu ini baru tiga belas tahun, jadi aku harap kamu juga bisa mengerti.”
      Aira meninggalkanku sendiri di halaman belakang. Aku memutar roda pada kursi rodaku untuk mengambil penyiram bunga. Hari ini cukup cerah, sehingga halaman belakang rumahku tampak berkilauan setelah aku menyiraminya. Bunga-bunga di halaman belakangku ditata secara berkelompok, sehingga membuatnya terlihat indah. Bagaimana bisa aku meninggalkannya begitu saja?
      “Meow!” Tiba-tiba terdengar suara kucing dari atas pagar yang membatasi halaman belakangku dengan rumah tetangga sebelah.
      Ternyata ada dua kucing di atas sana, yang satu berwarna putih dengan mata biru dan yang satu lagi berwarna coklat dengan mata hijau. Perhatianku mulai tertuju pada kedua kucing tersebut, setahuku di daerahku ini jarang ada kucing karena mayoritas tetanggaku memelihara anjing. Kedua kucing itu juga membuatku teringat pada cerita “Si Coklat dan Si Putih” cerita kesukaanku yang selalu ibu bacakan untukku.
      Setelah kedua kucing tersebut sudah berjalan jauh dari pandangan mataku, aku kembali menggerakkan kursi rodaku masuk ke dalam rumah. Sebenarnya aku bisa saja menggunakan tongkat untuk berjalan meskipun hanya kaki kiriku saja yang teramputasi, hanya saja aku merasa tidak mampu untuk berdiri. Rasa sakit di hatikulah yang membuatku seperti ini.
      Aku menoleh ke arah jendela yang mengarah ke halaman belakang tersebut. Terkadang bayangan ibu yang menatap jendela tersebut masih terlihat dalam padanganku seperti film tiga dimensi. Aku menuju ke kamarku untuk membenahi beberapa barang-barangku untuk dibawa ke rumah paman dan bibi.
      Di kamarku, aku turun dari kursi rodaku dan menyeret tubuhku mendekat ke lemari pakaianku, lalu kuambil pakaianku satu-persatu dan kumasukkan dalam koper yang sudah ada di kamarku. Tiba-tiba, aku merasakan ada kotak di paling bawah tumpukan pakaianku ketika aku mengambil pakaianku. Aku mengambilnya dan ternyata itu adalah buku dongeng yang selalu ibu bacakan setiap sebelum aku tidur atau ketika ibu punya waktu libur di hari kerjanya.
      Cerita kesukaanku adalah “Si Coklat dan Si Putih” karena si Coklat dan si Putih adalah dua ekor kucing yang tak pernah akur berpetualang mencari pemiliknya yang diculik. Aku juga suka ketika mereka berdua akhirnya menjadi akur untuk bekerja sama menyelamatkan pemiliknya tersebut, sedangkan ibu sangat menyukai cerita “Sang Pencari Imajinasi”.
      Ibu selalu membaca cerita tersebut sambil menatap ke luar jendela dan tersenyum seolah-olah ada seseorang di sana. Ibu seperti tenggelam dalam dunianya sendiri ketika membaca cerita tersebut dan wajah ibu terlihat sedih ketika ia sudah selesai membaca.
      Cerita “Sang Pencari Imajinasi” berisi tentang seorang gadis pengkhayal bergaun merah yang bisa melihat dunia khayalannya dengan jelas seolah-olah itu benar-benar nyata, namun sedihnya gadis tersebut pada akhirnya harus meningalkan dunia khayalannya tersebut karena ia harus menghadapi dunia nyata yang harus ia jalani. Aku belum memahami sepenuhnya apa yang ibu rasakan ketika membaca cerita ini. “Huft, aku harap aku tahu apa yang ibu simpan,” gumamku.
      “Prang!” Tiba-tiba, ada seseorang yang melempari kaca jendela kamarku dengan batu dari halaman belakangku.
      Aku terkejut dan kembali menaiki kursi rodaku dan mengambil sapu yang ada di depan pintu kamarku, lalu aku menggerakkan kursi rodaku menuju ke halaman belakang rumahku. Yang mengherankan bagiku, tidak biasanya Aira berteriak marah, padahal ia paling tidak suka suara gaduh di dalam rumah.
      Sesampainya di depan pintu menuju halaman belakang rumahku, aku mengintip di celah pintu tidak terlihat ada orang lain, tapi pintu belakang terbuka. Aku mencoba memberanikan diri untuk keluar.
      “Hey!” panggil seseorang yang kedengarannya seperti anak laki-laki padaku.
      Aku mencari keberadaannya, tapi tidak ada siapapun yang terlihat. “K-kamu yang melempar batu ke jendela?” tanyaku gugup.
      “Iya, memang kenapa?”
      “Tidak baik melakukan hal seperti itu.”
      “Maaf, hehe,” Ia tertawa. “Aku hanya ingin membawamu ke suatu tempat.”
      Aku melihat kesana-kemari di sekitar halaman rumahku, tapi aku benar-benar tidak melihatnya. “Sebenarnya kamu ada dimana?”
      “Eh! Kamu tidak melihatku? Padahal aku ada di depanmu,” Ia terdengar terkejut dan terdengar sedang menghela nafas. “Coba kamu pejamkan matamu tiga kali.”
       Aku menuruti perkataannya, kupejamkan mataku tiga kali. Entah kenapa, aku merasa tak asing dengan perkataannya. Setelah aku melakukannya, aku  melihat sosok anak laki-laki yang tersenyum jahil ke arahku. Aku mulai merasa lebih baik dan meletakkan sapuku setelah aku tahu bahwa yang melempari hanya seorang anak kecil yang jahil.
      Tiba-tiba, dia mendorong kursi rodaku dengan cepat dari belakang. Aku merasa seperti sedang diculik.
      “Hey, aku mau dibawa kemana?!” teriakku.
      “Rahasia!”
      Ia mengarah ke sebuah pintu gerbang yang berada dua belokkan dari rumahku. Pintu gerbang tersebut terbuka dengan sendirinya dan di dalamnya terdapat sebuah taman paling indah dan besar yang pernah kulihat.
      Anak laki-laki tersebut kemudian berhenti mendorong kursi rodaku. “Selamat datang di Imaginar!” serunya.
      “Mengapa kamu membawaku ke sini?” tanyaku.
      “Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,” jawabnya sambil berlari menuju ke taman labirin.
      “Hey, tunggu!” teriakku sambil memutar roda pada kursi rodaku dengan cepat untuk mengejarnya, namun aku kehilangannya.
      Pada akhirnya, aku berhenti di depan sebuah pintu. Aku mencoba membuka pintu tersebut, tapi pintu tersebut sepertinya terkunci. Beberapa saat kemudian, terfikir olehku untuk menggunakan kunci yang ibu berikan padaku dulu dan berhasil. Begitu aku membukanya, sesuatu di balik pintu tersebut seakan memberiku penjelasan yang cukup menjawab pertanyaan-pertanyaanku tentang ibu.
      Aku menangis sejadi-jadinya, ternyata cerita dongeng yang ibu ceritakan padaku adalah khayalannya yang begitu indah baginya dan kunci yang ia berikan padaku untuk menguatkan hatinya dalam menghadapi kenyataan, bunga aster merah itu menggambarkan dirinya yang terlihat sendiri, tapi sebenarnya ia tak sendiri. Ia bersama teman-teman khayalannya, termasuk anak laki-laki yang membawaku ke sini.
      Tergambar juga dalam pintu tersebut bagaimana ibu dijauhi dan diejek oleh teman-temannya, sama seperti gadis dalam dongeng tersebut dan bagaimana ayah meninggal sebelum ibu melahirkanku. Semua yang ada dalam pintu itu seperti kenangan-kenangan ibu yang tersimpan.
      “Akhirnya kamu mengerti,” ucap seseorang di belakangku.
      Aku memutar kursi rodaku. Ternyata seorang gadis kecil dengan gaun merah yang cantik seperti gadis yang digambarkan di dalam pintu tersebut berdiri di sana dan tersenyum ke arahku, lalu ia mendekatiku dan memelukku.
      “Aku harap kamu mengambil pelajaran dari apa yang kamu ketahui ini. Sekarang sudah saatnya kamu kembali, pejamkan matamu tiga kali.”
      Aku kembali menangis dan memeluknya erat. “I-ibu, sebelum itu Viola hanya ingin ibu tahu bahwa Viola sangat menyayangi ibu.”
      “Sekarang pejamkan matamu tiga kali.”
      Aku menurutinya kupejamkan mataku tiga kali, tapi untuk yang terakhir kalinya aku melakukannya dalam waktu yang lama. Aku tak ingin hal ini berlalu begitu cepat. Setelah aku cukup puas, aku kembali membuka mataku dan aku menyadari bahwa aku hanya bermimpi, mimpi yang terasa nyata bagiku. Aku masih di sini, berada di halaman belakang. Air mataku keluar begitu saja dari pelupuk mataku, aku senang sekaligus sedih karena akhirnya aku tahu apa yang harus aku jaga dan perasaan ibu ketika menatap keluar jendela.
      “Viola, kamu menangis?” tanya Aira dari belakang.
      Aku langsung menghapus air mataku. “Aira, ayo kita ke makam ibu besok!” ajakku.
      “Baiklah.” Suara Aira terdengar seperti tertegun mendengar ajakanku.
***
      Keesokan paginya, kami berdua mengunjungi makam ibu. Kami meletakan bunga pada makamnya dan mendo’akannya. Di hari berikutnya, aku mengemasi barang-barangku dan bersiap pergi menuju rumah paman dan bibiku. Dan pada saat ini, aku sudah kembali bersekolah dan sudah menggunakan tongkat untuk berjalan. Aku juga tetap merawat bunga-bunga di halaman rumahku yang saat ini berada di halaman depan rumah paman dan bibi, tapi aku tidak sendiri, ada paman dan bibi, serta Aira yang membantuku merawatnya.