Kamis, 06 November 2014

Aster Merah


     Pada siang itu, wanita berpakaian merah cerah itu terus saja menatap ke arah jendela. Entah apa yang dilihatnya, padahal di luar sana hanya ada halaman belakang kami dengan hujan deras yang terus turun sejak pagi tadi.
      Aku mulai mendekatinya dengan rasa penasaran. Dengan susah payah aku berjinjit dan melompat-lompat untuk bisa melihat apa yang ada di luar sana. Cukup sulit untukku melihat karena jendela itu lihat sangat tinggi bagiku. Wanita itu tersenyum gemas ke arahku, lalu mengangkatku untuk bisa melihat apa yang ia lihat.
      Wanita yang saat ini tengah menggendongku adalah ibu. Wanita yang selalu merawatku dengan sabar, memberiku pengetahuan tentang apa yang ada di dunia ini, dan yang paling utama ialah yang memberiku kasih sayang tiada duanya. Pandanganku mulai beralih ke luar jendela. Benar dugaanku, di sana hanya ada halaman belakang kami yang penuh dengan beraneka macam bunga dengan suasana yang teduh karena hujan.
      “Viola...” Ibu dengan lembut memanggilku sambil mengelus rambut pendekku.
      Aku menoleh ke arahnya, tapi aku tidak menjawabnya, aku hanya menatapnya dengan pandangan ingin tahu. Ibu menunjuk ke arah bunga kesukaannya. Bunga itu berwarna semerah pakaian yang ia pakai saat ini.
      “Kamu tahu itu namanya bunga apa?” tanya ibu lembut.
      Aku menggeleng. Aku memang tahu kalau itu bunga kesukaan ibu, tapi aku tidak tahu namanya. “Apa namanya, Bu?”
      Ibu mulai beralih menatap bunga tersebut. “Namanya bunga aster.”
      “Ibu, mengapa ibu suka bunga itu?” tanyaku polos.
      Ibu tertawa kecil dan pandangannya seakan menerawang sebuah kejadian yang tak akan pernah ia lupakan.
      “Bunga itu harta karun kedua ibu setelah kamu,” kata ibuku sembari menurunkanku. Ia melepaskan kalung kuncinya yang tak pernah ia lepaskan itu dan memakaikannya padaku.
      “Maukah kamu menjaga harta karun ibu?” tanya ibu lembut padaku.
      “Ya!” kataku mantap.
      Ibu tersenyum ke arahku, tapi mata ibu terlihat berkaca-kaca. “Ibu menangis, ibu sedih?” tanyaku.
      "Tidak, Viola. Justru ibu merasa senang. Sekarang, Viola mau ibu ceritakan cerita apa?" Wajahnya mulai terlihat ceria kembali seperti biasanya.
      "Aku mau cerita tentang si Coklat dan si Putih!" seruku ceria.
      "Tapi, harus naik pesawat dulu, ya!" Ibu mengangkatku dan berputar-putar menuju ke kamarku.
      "Hahaha!" Aku tertawa kegirangan, begitu juga dengan ibu. Rasanya cukup menyenangkan bersama ibu, meskipun tanpa ayah.
      Aku tidak pernah tahu keberadaan ayah, bahkan aku tidak pernah tahu seperti apa wajahnya. Aku juga tidak ingin menanyakannya pada ibu. Bersama ibu saja sudah cukup bagiku karena ibu selalu membuat hari-hariku menjadi lebih baik pada saat banyak hal yang menyakiti hatiku di luar sana, seperti ejekan temanku di sekolah karena aku tidak punya ayah tanpa alasan yang jelas, bahkan banyak yang menjauhiku karena hal itu.
      Begitulah yang separuh kenangan bersama ibu yang selalu kuingat. Kini, ibu tak lagi menatap jendela tersebut dan tak lagi bersamaku di sini. Semua itu berawal saat aku dan ibu mengalami kecelakaan ketika kami akan pergi berlibur bersama setahun yang lalu. Sejak saat itu pula, aku selalu berada di dalam rumah dan halaman belakangku bersama sepupuku, Aira, yang sekaligus merawatku.
       Aira sudah terasa seperti kakakku sendiri dan ia selalu kesal setiap kali aku menolak ajakannya untuk keluar rumah. Aku tidak ingin keluar rumah karena aku ingin merasa tenang di halaman belakang rumahku sekaligus mengenang hari-hariku bersama ibu.
      Seharusnya aku tinggal bersama paman, bibi, serta Aira, tapi ada sesuatu yang harus kutepati, sesuatu yang mengharuskanku tinggal di sini sampai aku menemukan apa itu.
      “Viola, sampai kapan kamu tinggal di sini terus? Apa kamu tidak ingin bersekolah kembali?” tanya Aira yang sedang mendorong kursi rodaku menuju ke halaman belakang.
      “Sampai aku menemukan apa yang harus aku jaga.” Aku menatap bunga aster merah kesukaan ibu dan mencoba memikirkan apa yang ibu simpan pada bunga tersebut.
      “Aku bingung dengan khayalanmu yang aneh itu. Tidak bisakah kau merelakan bibi? Kami sangat khawatir padamu, apalagi kondisimu sudah yang seperti ini.”
      “Terima kasih kalian sudah mengkhawatirkanku, tapi aku harap kalian juga bisa bersabar dan mengerti. Aku hanya ingin memenuhi keinginan ibu.”
       Aku memegangi kalung kunci yang ibu berikan dulu sewaktu kukecil jauh sebelum kecelakaan itu berlangsung. Ibu tidak memberitahuku kunci untuk apa ini, maka dari itu aku memutuskan untuk menetap di sini sampai aku menemukan kunci untuk apa ini.
       Aira menghela nafas. “Ya sudah. Terserah kau saja, tapi mau tak mau dalam tiga hari ini kau harus siap meninggalkan rumah ini dan tinggal bersama kami. Kamu ini baru tiga belas tahun, jadi aku harap kamu juga bisa mengerti.”
      Aira meninggalkanku sendiri di halaman belakang. Aku memutar roda pada kursi rodaku untuk mengambil penyiram bunga. Hari ini cukup cerah, sehingga halaman belakang rumahku tampak berkilauan setelah aku menyiraminya. Bunga-bunga di halaman belakangku ditata secara berkelompok, sehingga membuatnya terlihat indah. Bagaimana bisa aku meninggalkannya begitu saja?
      “Meow!” Tiba-tiba terdengar suara kucing dari atas pagar yang membatasi halaman belakangku dengan rumah tetangga sebelah.
      Ternyata ada dua kucing di atas sana, yang satu berwarna putih dengan mata biru dan yang satu lagi berwarna coklat dengan mata hijau. Perhatianku mulai tertuju pada kedua kucing tersebut, setahuku di daerahku ini jarang ada kucing karena mayoritas tetanggaku memelihara anjing. Kedua kucing itu juga membuatku teringat pada cerita “Si Coklat dan Si Putih” cerita kesukaanku yang selalu ibu bacakan untukku.
      Setelah kedua kucing tersebut sudah berjalan jauh dari pandangan mataku, aku kembali menggerakkan kursi rodaku masuk ke dalam rumah. Sebenarnya aku bisa saja menggunakan tongkat untuk berjalan meskipun hanya kaki kiriku saja yang teramputasi, hanya saja aku merasa tidak mampu untuk berdiri. Rasa sakit di hatikulah yang membuatku seperti ini.
      Aku menoleh ke arah jendela yang mengarah ke halaman belakang tersebut. Terkadang bayangan ibu yang menatap jendela tersebut masih terlihat dalam padanganku seperti film tiga dimensi. Aku menuju ke kamarku untuk membenahi beberapa barang-barangku untuk dibawa ke rumah paman dan bibi.
      Di kamarku, aku turun dari kursi rodaku dan menyeret tubuhku mendekat ke lemari pakaianku, lalu kuambil pakaianku satu-persatu dan kumasukkan dalam koper yang sudah ada di kamarku. Tiba-tiba, aku merasakan ada kotak di paling bawah tumpukan pakaianku ketika aku mengambil pakaianku. Aku mengambilnya dan ternyata itu adalah buku dongeng yang selalu ibu bacakan setiap sebelum aku tidur atau ketika ibu punya waktu libur di hari kerjanya.
      Cerita kesukaanku adalah “Si Coklat dan Si Putih” karena si Coklat dan si Putih adalah dua ekor kucing yang tak pernah akur berpetualang mencari pemiliknya yang diculik. Aku juga suka ketika mereka berdua akhirnya menjadi akur untuk bekerja sama menyelamatkan pemiliknya tersebut, sedangkan ibu sangat menyukai cerita “Sang Pencari Imajinasi”.
      Ibu selalu membaca cerita tersebut sambil menatap ke luar jendela dan tersenyum seolah-olah ada seseorang di sana. Ibu seperti tenggelam dalam dunianya sendiri ketika membaca cerita tersebut dan wajah ibu terlihat sedih ketika ia sudah selesai membaca.
      Cerita “Sang Pencari Imajinasi” berisi tentang seorang gadis pengkhayal bergaun merah yang bisa melihat dunia khayalannya dengan jelas seolah-olah itu benar-benar nyata, namun sedihnya gadis tersebut pada akhirnya harus meningalkan dunia khayalannya tersebut karena ia harus menghadapi dunia nyata yang harus ia jalani. Aku belum memahami sepenuhnya apa yang ibu rasakan ketika membaca cerita ini. “Huft, aku harap aku tahu apa yang ibu simpan,” gumamku.
      “Prang!” Tiba-tiba, ada seseorang yang melempari kaca jendela kamarku dengan batu dari halaman belakangku.
      Aku terkejut dan kembali menaiki kursi rodaku dan mengambil sapu yang ada di depan pintu kamarku, lalu aku menggerakkan kursi rodaku menuju ke halaman belakang rumahku. Yang mengherankan bagiku, tidak biasanya Aira berteriak marah, padahal ia paling tidak suka suara gaduh di dalam rumah.
      Sesampainya di depan pintu menuju halaman belakang rumahku, aku mengintip di celah pintu tidak terlihat ada orang lain, tapi pintu belakang terbuka. Aku mencoba memberanikan diri untuk keluar.
      “Hey!” panggil seseorang yang kedengarannya seperti anak laki-laki padaku.
      Aku mencari keberadaannya, tapi tidak ada siapapun yang terlihat. “K-kamu yang melempar batu ke jendela?” tanyaku gugup.
      “Iya, memang kenapa?”
      “Tidak baik melakukan hal seperti itu.”
      “Maaf, hehe,” Ia tertawa. “Aku hanya ingin membawamu ke suatu tempat.”
      Aku melihat kesana-kemari di sekitar halaman rumahku, tapi aku benar-benar tidak melihatnya. “Sebenarnya kamu ada dimana?”
      “Eh! Kamu tidak melihatku? Padahal aku ada di depanmu,” Ia terdengar terkejut dan terdengar sedang menghela nafas. “Coba kamu pejamkan matamu tiga kali.”
       Aku menuruti perkataannya, kupejamkan mataku tiga kali. Entah kenapa, aku merasa tak asing dengan perkataannya. Setelah aku melakukannya, aku  melihat sosok anak laki-laki yang tersenyum jahil ke arahku. Aku mulai merasa lebih baik dan meletakkan sapuku setelah aku tahu bahwa yang melempari hanya seorang anak kecil yang jahil.
      Tiba-tiba, dia mendorong kursi rodaku dengan cepat dari belakang. Aku merasa seperti sedang diculik.
      “Hey, aku mau dibawa kemana?!” teriakku.
      “Rahasia!”
      Ia mengarah ke sebuah pintu gerbang yang berada dua belokkan dari rumahku. Pintu gerbang tersebut terbuka dengan sendirinya dan di dalamnya terdapat sebuah taman paling indah dan besar yang pernah kulihat.
      Anak laki-laki tersebut kemudian berhenti mendorong kursi rodaku. “Selamat datang di Imaginar!” serunya.
      “Mengapa kamu membawaku ke sini?” tanyaku.
      “Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,” jawabnya sambil berlari menuju ke taman labirin.
      “Hey, tunggu!” teriakku sambil memutar roda pada kursi rodaku dengan cepat untuk mengejarnya, namun aku kehilangannya.
      Pada akhirnya, aku berhenti di depan sebuah pintu. Aku mencoba membuka pintu tersebut, tapi pintu tersebut sepertinya terkunci. Beberapa saat kemudian, terfikir olehku untuk menggunakan kunci yang ibu berikan padaku dulu dan berhasil. Begitu aku membukanya, sesuatu di balik pintu tersebut seakan memberiku penjelasan yang cukup menjawab pertanyaan-pertanyaanku tentang ibu.
      Aku menangis sejadi-jadinya, ternyata cerita dongeng yang ibu ceritakan padaku adalah khayalannya yang begitu indah baginya dan kunci yang ia berikan padaku untuk menguatkan hatinya dalam menghadapi kenyataan, bunga aster merah itu menggambarkan dirinya yang terlihat sendiri, tapi sebenarnya ia tak sendiri. Ia bersama teman-teman khayalannya, termasuk anak laki-laki yang membawaku ke sini.
      Tergambar juga dalam pintu tersebut bagaimana ibu dijauhi dan diejek oleh teman-temannya, sama seperti gadis dalam dongeng tersebut dan bagaimana ayah meninggal sebelum ibu melahirkanku. Semua yang ada dalam pintu itu seperti kenangan-kenangan ibu yang tersimpan.
      “Akhirnya kamu mengerti,” ucap seseorang di belakangku.
      Aku memutar kursi rodaku. Ternyata seorang gadis kecil dengan gaun merah yang cantik seperti gadis yang digambarkan di dalam pintu tersebut berdiri di sana dan tersenyum ke arahku, lalu ia mendekatiku dan memelukku.
      “Aku harap kamu mengambil pelajaran dari apa yang kamu ketahui ini. Sekarang sudah saatnya kamu kembali, pejamkan matamu tiga kali.”
      Aku kembali menangis dan memeluknya erat. “I-ibu, sebelum itu Viola hanya ingin ibu tahu bahwa Viola sangat menyayangi ibu.”
      “Sekarang pejamkan matamu tiga kali.”
      Aku menurutinya kupejamkan mataku tiga kali, tapi untuk yang terakhir kalinya aku melakukannya dalam waktu yang lama. Aku tak ingin hal ini berlalu begitu cepat. Setelah aku cukup puas, aku kembali membuka mataku dan aku menyadari bahwa aku hanya bermimpi, mimpi yang terasa nyata bagiku. Aku masih di sini, berada di halaman belakang. Air mataku keluar begitu saja dari pelupuk mataku, aku senang sekaligus sedih karena akhirnya aku tahu apa yang harus aku jaga dan perasaan ibu ketika menatap keluar jendela.
      “Viola, kamu menangis?” tanya Aira dari belakang.
      Aku langsung menghapus air mataku. “Aira, ayo kita ke makam ibu besok!” ajakku.
      “Baiklah.” Suara Aira terdengar seperti tertegun mendengar ajakanku.
***
      Keesokan paginya, kami berdua mengunjungi makam ibu. Kami meletakan bunga pada makamnya dan mendo’akannya. Di hari berikutnya, aku mengemasi barang-barangku dan bersiap pergi menuju rumah paman dan bibiku. Dan pada saat ini, aku sudah kembali bersekolah dan sudah menggunakan tongkat untuk berjalan. Aku juga tetap merawat bunga-bunga di halaman rumahku yang saat ini berada di halaman depan rumah paman dan bibi, tapi aku tidak sendiri, ada paman dan bibi, serta Aira yang membantuku merawatnya.