Sabtu, 26 Juli 2014

Sweet and Sour II

       Mimpi buruk yang sama itu kembali berlanjut. Delia di sana, di ruangan gelap setelah kejadian itu berlangsung. Suara kepanikan terdengar kecil, lalu semakin membesar dan membesar. Delia jatuh terduduk dan menunduk dengan kedua tangannya menutup telinganya. Lalu, suara tangis mulai terdengar dan menjadi keheningan lagi. Ia ketakutan.
      Delia melepaskan tangannya dari kedua telinganya. Di sana ada pintu, sumber cahaya datang dari sana. Delia berjalan menuju pintu itu. Dibukanya pintu tersebut. Sesegera mungkin Delia menutup matanya dari silaunya cahaya dari pintu itu.
      “Delia..Delia..” panggil Angelia.
      Delia membuka kedua matanya. Cahaya pagi merambat dari jendelanya yang setengah terbuka. Pipinya basah dan matanya berair, seperti habis menangis.
      “Kau menangis. Ada apa?” tanyanya.
      “Tidak ada apa-apa.
       Kemudian, Delia bersiap berangkat sekolah. Sebelumnya, ia mengambil dua lembar uang yang diberikan Aiko untuk membeli sarapannya, di toko roti yang biasa ia kunjungi itu. Angelia mengikutinya dari belakang.
      “Selamat pagi. Roti selai lemon seperti biasa, Nona?” sapa tukang roti tersebut
      “Ya, satu,” jawab Delia.
      Tukang roti itu perempuan berusia dua puluhan yang ramah. Ia lalu memberikan roti yang disebutkannya kepada Delia dan memberikan uang kembalian Delia.
      Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Delia langsung keluar dari toko roti itu. Angelia masih mengikutinya. Delia memakan roti yang dibelinya itu sembari berjalan menuju sekolahnya.
      SMA Glorious Grace” tepat setelah tulisan nama sekolahnya mulai terlihat, Delia menyelesaikan rotinya itu.
      “Tempat apa ini?” tanya Angelia. 
      “Sekolah, tempat untuk belajar,jawab Delia dingin.
      Tiba-tiba, rasa sakit yang selalu menjalarinya itu kembali menerjangnya dan membuat Delia berhenti melangkah.
      “Kau kenapa?” tanya Angelia.
      “Tidak apa-apa.”
      Sesampainya di depan gerbang sekolah Delia, seluruh siswa di sana menatapnya dengan pandangan tidak suka sembari berbisik-bisik. Berita tentang kejadian kemarin rupanya sudah menyebar.
      Delia hanya terdiam menuju kelasnya yang berada di lantai atas. Sementara Angelia yang mengikutinya dari belakang, hanya ikut diam menanggapi perlakuan siswa-siswa yang menatap dengan tatapan seperti itu dan berbisik-bisik di sepanjang perjalanan menuju kelas Delia.
      Suasana di kelasnya, kelas X-A bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Hampir seluruh siswa di kelasnya meneriakan kata-kata kasar padanya dan beberapa mendorongnya hingga terjatuh mengenai serpihan lantai keramik yang pecah di kelasnya, sehingga membuat luka di lututnya yang belum sembuh total kembali terluka. Delia meringis kesakitan. Darah dari luka lututnya yang mengalir dibiarkan saja hingga istirahat dimulai dan kelasnya kosong.
      “Apa yang membuatmu diperlakukan buruk seperti itu?” tanya Angelia. Delia hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
       Angelia melihat luka di lutut Delia yang memburuk. “Apa kau akan membiarkan lututmu seperti itu?” ketus Angelia. Lagi-lagi Delia terdiam.
      “Dengar! Aku ini tidak bisa menyentuh apapun di duniamu ini. Jadi, tolonglah! Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini. Tolong, bersihkan lukamu itu!” teriak Angelia. Delia mengalihkan pandangannya dari Angelia menuju pemandangan jendela di sebelahnya.
      “Tch, apa pedulimu?” ucap Delia lirih.
      Dengan marah Angelia pergi dari hadapan Delia. Sementara itu, Delia melirik Angelia yang pergi dari tempatnya. Ia keluar dari kelasnya dan berjalan  tanpa arah.
      “Dasar anak sampah!” kata Felly yang muncul di depan bangkunya.
      “Mau apa kau? Belum puas dengan semua yang terjadi padaku, heh!?” balas Delia.
      “Justru ini baru permulaannya saja. Permainan belum dimulai.”
      “Dasar kau perempuan tidak tahu diri!” teriak Delia.
      “Oh, kau belum puas dengan perlakuanmu kemarin padaku?” katanya dengan nada yang teraniaya.
      Siswa-siswa yang kebetulan menyaksikan ketika Delia mengatainya, semakin membencinya. Rupanya Felly sudah merencanakan ini sebelumnya. Lagi-lagi Delia harus menanggung tatapan jijik murid-murid sekelasnya.

***

      Sementara itu, Angelia berjalan-jalan berkeliling sekolah Delia dengan rasa kesalnya. Di sana, ia tertembus oleh salah satu siswa laki-laki yang pergi dengan terburu-buru. Angelia merasa tertarik untuk mengikuti siswa tersebut.
      Siswa tersebut berhenti di loker miliknya dan memutar sandi lokernya. Kebetulan tempat tersebut sepi dari siswa-siswa lain. Di dalam loker tersebut, banyak sampah kertas berisi coretan dengan tanda seru menumpuk. Siswa tersebut membuka plastik yang ada di sakunya dan memasukan kertas-kertas tersebut ke dalamnya.
      Angelia terus memperhatikannya. Tiba-tiba, sebuah foto yang tersobek terjatuh dan mengarah ke arahnya. Di foto itu, terdapat seorang anak laki-laki berambut coklat yang bahagia dan seorang anak perempuan yang memiliki tanda lahir berupa dua titik yang tertera di lehernya, tanda lahir tersebut sama dengan miliknya.
      Siswa tersebut yang baru menyadari bahwa fotonya terjatuh, mengambil foto tersebut. Dipandanginya foto tersebut terus-menerus, lalu diletakannya di saku celananya dan berlalu dari hadapan Angelia.
      Angelia melanjutkan perjalanannya mengelilingi sekolah Delia. Banyak siswi-siswi yang bergosip tentang Delia di sepanjang Angelia menelusuri. Angelia mendengarkan mereka.
      “Delia si siswi buangan itu tidak tahu diri. Berani-beraninya ia menampar diva sekolah kita.” kata salah satu siswi tersebut.
      “Emang dasar! Baguslah kalau dia ditampar Erio,” sahut yang lainnya.
      “Dia memang pantas mendapatkannya. Sudahlah. Ayo, ke kelas!”
      “Ayo!”
      Kini, Angelia mulai mengerti alasan mengapa semuanya membenci Delia.

***

      “Apa kau belum puas menamparnya kemarin, heh!?” bentak Gia, salah satu siswa kelasnya yang menyaksikan separuh adegan tersebut sembari mendorong Delia. Delia hanya diam menanggapinya.
      “Kamu ini bisanya mempermalukan martabat kelas kita! Dasar tidak berperasaan!” tambah yang lainnya. Delia membuka mulut, berusaha membalasnya, namun tidak jadi.
      Tak ada yang membantunya, bahkan Angelia sekalipun. Angelia hanya akan menjadi hembusan angin saja. Delia hanya bisa pasrah menanggapi kekasaran teman sekelasnya.
      Angelia di sana. Muncul dari balik pintu kelas Delia. Ia tahu, ia tidak bisa menyentuh apapun, jadi percuma saja membantu Delia yang kini tengah dimaki-maki oleh teman-teman sekelasnya sendiri. Delia benar-benar tidak punya kawan di sekolah ini.
      Bel tanda pelajaran kembali dimulai pun berbunyi. Semua siswa kembali ke bangkunya semula termasuk Delia. Sementara Angelia berada di luar, menunggu Delia selesai.
       “Delia, kau diperintahkan untuk ke ruang kepala sekolah sekarang!” perintah gurunya yang saat itu sedang mengajarnya.
      Delia menuruti perintah gurunya itu dan menuju ke ruang kepala sekolah. Tiba-tiba, ia terjatuh karena siswa yang duduk di depan bangkunya mendorongnya dengan keras. Semua siswa tertawa kecil melihatnya, sedangkan gurunya hanya menatapnya acuh. Dengan tenang, Delia bangkit sendiri dan berjalan kembali menuju ruang kepala sekolah.
       Sesampainya di sana, Delia dengan tenang duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan kepala sekolah.
      “Kau tahu peraturan utama di sekolah ini?” uji kepala sekolahnya.
      “Ya, saya mengerti. Tidak boleh ada kekerasan,” jawab Delia tenang.
      “Lalu, mengapa kau melanggarnya?” tanya kepala sekolahnya.
      Pertanyaan itu tidak penting. Jika, Anda ingin menghukum saya. Silahkan langsung saja,” ucap Delia tenang.
       Kepala sekolahnya menghela nafas. “Aku tahu kau memiliki banyak masalah. Kau itu juga termasuk siswa yang selalu mendapatkan beasiswa di sekolah ini, tapi tolong jaga sikapmu dan jaga martabat sekolah ini. Minggu ini kau harus membersihkan seluruh ruangan kelas sebelas di sekolah ini.”
       “Baiklah. Jika itu yang anda inginkan. Izinkan saya kembali ke kelas saya,” pamit Delia dengan sopan, lalu berjalan menuju kelasnya kembali dan memulai pelajarannya lagi.
      Beberapa jam kemudian, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar. Ketika Delia keluar kelas disaat guru yang mengajarnya sudah jauh dari kelasnya, beberapa siswa mendorong Delia dari belakang dan membuat Delia terjatuh.
      Delia pergi menuju gudang yang terdekat untuk mengambil alat kebersihan. Ia mulai membersihkan kelasnya, lalu membersihkan kelas 11 yang lain secara runtut sesuai hukuman yang ditetapkan oleh kepala sekolahnya tadi. Delia menyapu dan mengepel lantai, merapikan bangku-bangku, membersihkan sampah kertas dan permen karet yang ada di laci meja siswa,  menghapus papan tulis, dan mengelap jendela yang penuh debu itu. Air keringat Delia bercucuran tanda usaha keras Delia dalam menjalani hukumannya. Luka di lutut Delia yang belum dibersihkannya pun menjadi semakin melebar. Namun, Delia tidak mempedulikannya.
     Setelah selesai, Delia mengembalikan alat kebersihan yang digunakannya, lalu berjalan keluar. Di gerbang sekolahnya, terlihat Angelia sedang menunggunya.
      “Mengapa kau tidak pulang duluan saja?” tanya Delia lemah.
      “Aku tidak mau meninggalkanmu begitu saja,” jawab Angelia.
      “Tidak usah pedulikan aku. Ini sudah menjadi hal yang biasa bagiku.”
      “Tapi
      Belum sempat Angelia menyelesaikan kata-katanya, Delia sudah mulai berjalan pulang duluan dan membuat Angelia yang menggerutu sendiri mengikutinya. Di perjalanan pulangnya, seperti biasanya, ia mendapatkan olokan dan lemparan kerikil dari anak-anak yang kebetulan sedang bermain di jalur yang biasa ia lewati. Delia hanya berjalan dengan tenangnya, sementara Angelia hanya menatapnya dengan pandangan iba.
      Setelah sampai di rumah, Angelia mengatakan apa yang dilihatnya ketika ia mengikuti siswa laki-laki yang ternyata adalah Erio, siswa yang menampar Delia.
      “Apakah mungkin, jika aku adalah gadis itu?” tanya Angelia.
      “Entahlah. Mengapa kau begitu memikirkannya?”
      “Aku ingin tahu masa laluku. Ibuku tidak pernah bercerita tentang masa laluku. Delia, lukamu semakin parah!
      Ini tidak apa-apa. Akan aku bersihkan. Mengapa kau tidak menanyakannya pada ibumu?
      “Aku sudah menanyakannya, tapi ibuku selalu terlihat sedih. Aku tidak ingin membuatnya sedih.”
      “Memang sebaiknya seperti itu. Kau beruntung memiliki orang tua yang bisa kau bahagiakan.”
      Angelia terlihat seperti menahan tangis. “Mengapa kau bisa dibenci seperti itu padahal kau sendiri berbeda dari apa yang mereka pikirkan? Aku tidak tahan melihatmu diperlakukan seperti itu, dibenci dan dihina.”
      “Aku memang menjijikan bagi mereka. Tidak apa-apa.”
      Delia mengambil air dan sapu tangan, lalu mulai membersihkan luka lututnya yang melebar itu. Ia tidak membalutnya dengan perban, ia hanya membiarkannya.
      “Kau tidak menjijikan, Delia,” kata Angelia. “Mereka hanya tak pernah mengenalmu dan membuat kesimpulan begitu saja dengan cepat.”
      “Terserah. Aku tidak peduli dengan semua itu. Bagiku itu tidak penting,” balas Delia dingin.
      Tapi, apakah kau tidak merasakan sakit? Tidakkah kau ingin merasa bahagia?”
      “Aku sudah terbiasa dengan semua ini dan semuanya sudah tidak terasa lagi. Kebahagiaan hanya sebuah kebohongan manis bagiku.”
      “Aku tidak mengerti tentang dirimu. Jika kita ini benar-benar saudara kembar, pasti aku sangat jahat karena tak memahamimu,” ujar Angelia.
      “Tidak, itu bukanlah sesuatu yang jahat. Jika kau benar-benar saudara kembarku, kau tidak perlu memahamiku. Seharusnya kau membiarkanku sendiri,” ujar Delia singkat dan membaringkan tubuhnya.
      “Tapi” sanggah Angelia.
      “Sudahlah. Tidak usah terlalu dipikirkan,” potong Delia. “Pikirkan saja cara agar kamu kembali pulang.”
      Angelia yang tidak bisa berkata apa-apa lagi keluar dari rumah Delia dan menyaksikan matahari terbenam yang indah di atap rumah Delia. “Sayang sekali, Delia tidak melihat pemandangan indah ini. Dunia ini ternyata sangat rumit, bahkan aku tidak bisa memahami Delia seutuhnya,” gumamnya.
      Sementara itu, di dalam kamarnya, Delia memandang langit sore yang mulai sedikit demi sedikit berubah warna menjadi biru gelap di luar jendela kamarnya. Lalu, sesekali ia memandang kotak yang ditinggalkan Aiko untuknya. Mulai teringat kata-kata Aiko yang selalu ia ucapkan  sejak paman dan bibinya meninggal.
      “Apapun yang terjadi, aku, ayah, dan ibu, akan selalu menjagamu. Dan jangan pernah berpikir kalau orang tuamu menelantarkan kita, jangan pernah! Orang tuamu benar-benar menyayangimu sama seperti rasa sayang kami padamu.”
      Delia hanya mengangguk pelan, tapi di dalam hatinya ia masih menganggap kalau orang tuanya menelantarkannya dan tidak menginginkannya lagi. Itu semua karena mereka terlihat menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu yang besar antara dirinya dengan orang tuanya.
      Bagaimanapun juga, Delia sudah tidak mempedulikan hal itu, hal itu seperti memikirkan kesehariannya yang sangat biasa. Delia tersenyum masam dalam pikirannya. “Dihina dan dibenci, heh?” gumamnya.     

Senin, 21 Juli 2014

Sweet and Sour

      Tanggal 16 Februari. Siang itu, Delia membaca pengumuman yang tertera di papan mading kelasnya. Ia tertunduk dan menghela nafas. Gadis berambut pendek berantakan itu mulai pergi dari sana, menuju bangku coklat yang berada di ujung kelasnya.
      Kini, pikirannya tertuju pada orangtuanya yang meninggalkannya bersama Aiko, sepupunya yang saat ini berusia dua puluh dua tahun sejak ia keluar dari rumah sakit ketika ia berumur tujuh tahun. Meski begitu, Aiko, paman, dan bibinya selalu mengatakan kalau orang tuanya selealu menyayanginya dimanapun mereka berada, akan tetapi kadang terbesit dipikiran Delia bahwa orang tuanya tidak menginginkannya lagi. Ia bahkan tidak mengingat wajah orang tuanya. Saat ini, Aiko-lah yang selama ini merawatnya. Karena itulah, ia selalu diabaikan dan dibenci oleh hampir semua siswa di sekolahnya, bahkan ia sendiri selalu di-bully, sehingga tubuh Delia penuh dengan bekas luka.
      “Heh, Devilishia!” panggil Angie, salah satu teman sekelasnya yang merupakan ketua dari kelompok belajarnya. Delia tidak menoleh. Ia sengaja melakukannya karena siswa-siswa di sekolahnya juga mengganti nama belakangnya dari Angelishia menjadi Devilishia dengan mengganti kata “Angel” menjadi “Devil”.
      “Heh, Devil! Apa kau sudah tuli?!” teriaknya lagi.
      Akhirnya Delia menoleh. “Siapa yang kau maksud? Aku? Maaf, sudah jelas namaku bukan Devilishia,” sarkastik Delia.
      “Kau sangat pantas menyandangnya, Devil. Ngomong-ngomong, kerjakan tugasmu sebagai anggota kelompokku, harus selesai besok dan tidak boleh ada satu pun kesalahan! Awas kalau sampai ada yang salah sedikitpun! Dasar pemalas!” makinya sambil melemparkan tumpukan tugas ke wajah Delia. Delia hanya diam dan tak mengelaknya sama sekali.
      Delia memungut kertas tugasnya itu. Hampir seluruh tugas-tugas kelompoknya yang diberikan padanya dan harus ia kerjakan. Ia hanya menerimanya dengan pasrah. Ia sudah biasa diperlakukan buruk seperti itu.
      Pelajaran dimulai. Delia terlalu marah untuk memperhatikan pelajaran yang diterangkan gurunya itu, pandangannya tertuju pada pemandangan di luar jendela dan jam dinding kelasnya yang berada di sebelah papan tulis.
     Setelah Delia menungggu sekian lama, bel pertanda pulang sekolah akhirnya berbunyi. Sesegera mungkin Delia keluar dari kelasnya. Namun, Virgo, wakil sekretaris OSIS dari kelas 11-B menjulurkan kakinya dengan sengaja di depan pintu kelas Delia, sehingga membuat Delia terjatuh dan membuat lututnya terluka karena goresan lantainya yang terbuat dari batu kasar. Semua siswa di kelasnya mentertawainya dan tak ada yang mau membantunya berdiri.
      “Kerja bagus, Virgo. Si Devil rendahan ini pantas mendapatkannya,” puji Felly, wakil OSIS dari kelas 11-C, sembari ber-tos dengan Virgo dan mengajaknya pergi. Akhirnya, Delia berusaha bangkit sendiri meski lututnya terluka.
      Erio, ketua OSIS dari kelas 11-B, menatapnya tajam. “Tidak sepantasnya kau bersekolah di sini,” ucap Erio dengan sinisnya sambil berlalu di hadapan Delia.
      “Errie, apa yang kau katakan pada orang aneh itu?” tanya Felly seraya menatap Delia dengan tatapan megejek.
      “Itu tidak penting. Lusa akan ada rapat. Tolong, beri tahu yang lainnya.”
      Delia hanya menatap mereka dari kejauhan. Lalu, ia berjalan keluar gerbang hitam sekolahnya dan menuju rumahnya yang berada di kompleks yang sepi dan suram, tetangga-tetangganya sudah lama pindah dari sana.
     Rumahnya berwarna kelabu kusam dengan kebunnya yang kelihatan tidak terurus dan lantai, pintu, dan temboknya yang sudah retak, di dalam rumahnya pun hanya ada dua kursi dan satu meja yang sudah bobrok, serta tempat tidur mereka yang hanya terdiri dari kasur dan selimut yang berlubang. Rumah itu merupakan kenangan dari keluarganya. Paman dan bibi satu-satunya yang juga merupakan orang tua Aiko meninggal tiga tahun yang lalu akibat kecelakaan ketika sedang berlibur. Sementara orang tuanya bercerai, lalu meninggalkannya bersama Aiko ketika ia menginjak usia sebelas tahun. Aiko berusaha memenuhi kebutuhan mereka berdua dengan bekerja sebagai cleaning service di sebuah kantor swasta.
      “Lihat! Ada kakak aneh! Kata ibuku, dia juga pembawa sial!” seru seorang anak pada teman-temannya.
      “Ibuku juga mengatakan seperti itu,” sahut yang lainnya. Anak-anak itu lalu menatapnya dengan pandangan merendahkan.
      “Ka…kak ane…h! Ka…kak ane…h! Ka…kak ane…h! Pembawa sial lagi! Pergi jauh-jauh, sana!” ejek anak-anak tersebut sambil melempari Delia kerikil.
      Delia hanya diam dan tetap berjalan menuju rumahnya, ia sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu. Sesampainya di rumahnya, Delia melempar tasnya ke atas tempat tidurnya dan membersihkan lukanya. Ia lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan mengingat hari-hari buruknya yang terjadi hari ini, serta pengumuman yang ia lihat siang itu.
      Pengumuman itu berisi tentang acara pertunjukan bakat sekolahnya yang diadakan tujuh hari lagi. Delia bingung ingin menunjukan bakat apa. Sejujurnya, Delia ingin sekali menunjukkan sesuatu pada Aiko dalam pertunjukan bakat tersebut. Tapi, orang tuanya pergi entah kemana meninggalkannya bersama Aiko.
      Terdengar pintu rumah berderit, tanda bahwa Aiko sudah pulang. “Delia, aku bawakan makanan kesukaanmu, cupcake lemon!” seru Aiko ceria. Kemudian, Delia menghampirinya dan Aiko mengelus kepalanya.
      Aiko melihat luka di lutut Delia yang terlihat masih basah. “Delia, kakimu kenapa?” tanyanya.
      “Tidak apa-apa,” jawab Delia.
      “Jangan berbohong. Apa kau bermasalah di sekolah?”
      Delia duduk dan menghela nafas. “Aku hanya ceroboh,” katanya.
      “Baiklah. Lain kali, berhati-hatilah,” nasihat Aiko. Delia mengangguk.
      “Aiko, ada yang ingin aku bicarakan,” kata Delia.
      “Apa itu? Bicara sajalah,” balas Aiko sembari merogoh kantung plastiknya.
      “Ada acara pertunjukkan bakat di sekolah. Apakah kau bisa datang?”
      “Tentu. Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan?” tanya Aiko yang mulai berhenti merogoh kantung plastiknya.
      Delia menunduk. “Aku akan menonton saja, lagipula aku mungkin tidak punya bakat apapun.”
      Aiko terdiam, memikirkan sesuatu. “Kau pasti akan menemukannya Delia dan pasti orang tuamu akan kembali dan menghadirinya, aku yakin itu! Sekarang, makanlah cupcake-mu!” kata Aiko sembari tersenyum.
      “Kurasa mereka tidak akan pernah datang. Mereka membenciku,” gumam Delia.
      “Apa yang barusan kau katakan, Delia?”
      “Terima kasih atas cupcake-nya,” bohong Delia.
      Lalu, Delia mengambil cupcake-nya dan melahapnya. Cupcake lemonnya itu dihiasi dengan krim coklat. Ia lebih menyukai sensasi masam pada krimnya dibandingkan dengan manisnya krim coklat di atasnya. Delia benci rasa manis.
      Aiko beranjak dari tempatnya dan pergi keluar. Sementara Delia yang sudah selesai makan cupcake lemonnya, pergi mandi. Setelah Delia selesai mandi, terlihat sebuah kotak besar yang kelihatan tua, beberapa lembar uang dan selembar kertas berisi catatan dari Aiko di atas meja kecil dikamarnya.
           Dear Delia,

                  Aku akan pergi selama lima hari. Jaga diri baik-baik. Ada uang untuk membeli makanan sehari-harimu. Tolong jaga kotak ini baik-baik dan jangan buka sebelum aku kembali!

                  Maafkan aku karena memberitahumu lewat surat.

                                                                                                 

                                                                                                            Sepupumu tersayang,



                                                                                                                         Aiko
     Melihat isi catatan tersebut, Delia segera memastikan apakah Aiko masih berada di tempatnya. Namun, Aiko sudah tidak ada di tempatnya. Delia kembali ke kamarnya dan mengerjakan tugas-tugas yang dilemparkan padanya dengan cepat. Ia tidak ingin terkena masalah lebih lanjut.
      Setelah itu, Delia berbaring dan memejamkan matanya, menyenandungkan lagu yang berusaha memberitahunya sesuatu. Sesuatu yang besar dan tidak ia ketahui. “Like an orange and a lemonade...sweet and sour... na.. na..”
      Tak lama kemudian, Delia terlelap. Dalam mimpinya, terlihat tiga orang anak kecil yang sedang memainkan benda yang tak asing bagi Delia. “Delia awas!” teriak seseorang. Delia menoleh. Tiba-tiba, sebuah truk melintas menuju ke arah Delia. Di hadapannya, ibunya berlari dan meneriakkan sesuatu. “Tin..tin..tin..!”
      Lalu, semua gelap hanya terdengar bunyi ambulance.

***
      Delia terbangun dari tidurnya dan segera mematikan jam alarmnya. Jantungnya berdebar karena ketakutan akan mimpi tersebut. Ia memang selalu bermimpi seperti itu berulang-kali.
      Pagi itu, langit mulai gelap, sesegera mungkin, ia mengganti pakaiannya dengan seragamnya yang kusam dan memiliki sedikit lubang kecil di bagian lengannya, lalu bersiap bersekolah. Diambilnya selembar uang pemberian Aiko di atas meja kecilnya, lalu membeli roti di toko roti yang berada sejalur dengan sekolahnya. Toko roti kecil bercat ungu muda dan biru laut itu menjual berbagai macam roti dengan harga yang murah, sehingga Delia bisa menghemat uang pemberian Aiko.
      Sesampainya ia di sekolah, diletakkannya tas punggungnya di atas bangkunya. Setelah itu, pelajarannya pun dimulai.
      “Angelishia, bisakah kau menjawab soal ini?” ucap gurunya pada Delia.
      Delia dengan santainya berjalan ke depan untuk menuliskan jawabannya, namun ia terjatuh akibat teman sekelasnya yang menjulurkan kakinya dengan sengaja. Semua siswa yang ada di ruangan tersebut pun tertawa. Tapi, Delia tetap bangkit dengan tenang dan melanjutkan perjalanannya ke depan untuk menuliskan jawabannya.
      Dua jam pelajaran pertamanya pun berlalu tergantikan oleh pelajaran berikutnya. Angie menghampiri bangku Delia dengan wajah yang merendahkan Delia.
      “Heh, Devil! Jangan-jangan kau tidak membawa tugas yang kemarin kuberikan padamu,” ucap Angie dengan sengit.
      Tanpa berkata apa-apa, Delia langsung menyodorkan lembaran tugas-tugas yang diberikan Angie kemarin.
      “Baru segini saja sudah sombong! Awas kalau sampai ada satupun kesalahan!” bentak Angie.
      “Terserah apa katamu,” balas Delia dengan nada bosan.
      Dengan marah, Angie meninggalkan bangku Delia diiringi wajah sengit teman-teman sekelasnya yang lain. Sementara Delia sendiri hanya memalingkan wajahnya ke jendela di sebelahnya. Langit saat itu sangat gelap, segelap perasaannya.
      Gurunya pun sudah datang dan secara langsung meminta tugas yang diberikan minggu lalu. Setelah semuanya sudah mengumpulkan, gurunya memeriksa tugas-tugas tersebut, hingga akhirnya diberikan kembali kepada ketua kelompok masing-masing. Angie melihat Delia dengan wajah kesal, Delia sudah tahu apa yang akan terjadi padanya.
      Pelajaran berlangsung dalam tiga jam dengan wajah-wajah marah dari kedua anggota kelompoknya, serta Angie yang selalu menatap dirinya, hingga bel istirahat berbunyi. Delia hanya mengacuhkannya, ia merasa ia tidak bersalah atas apa yang kemungkinan terjadi pada kelompoknya.
      “Heh, Devil! Sudah kubilang jangan ada satupun kesalahan! Mengapa kau masih melakukan banyak kesalahan?! Kau sengaja ingin menjebak kami, heh!” bantak Angie sambil menyodorkan lembaran-lembaran tugas yang sudah dinilai oleh gurunya tersebut.
      Dilihatnya lembaran-lembaran tugas tersebut. Di sana hanya terdapat tiga kesalahan, tapi itu bukan kesalahannya, ia sudah menjawab dengan benar semua tanpa ada kesalahan.
      “Ini bukan kesalahanku,” sanggah Delia dengan nada malas.
      “Kau yang terakhir memegangnya. Mengapa kau tidak membetulkannya? Dasar pemalas!” bentak Megan, anggotanya.
      “Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Itu kesalahan kalian sendiri.”
      “Dasar egois! Kami kesal punya anggota sepertimu! Seharusnya kau dipindahkan ke sekolah yang tidak bermoral sepertimu!” bentak Carmen.
      Delia yang tidak tahan mendengar omelan teman sekelompoknya itu langsung saja pergi keluar dari kelasnya dengan acuh. Felly melewatinya bersama teman-teman populernya. Mereka sengaja berbisik keras-keras tentang Delia.
      “Pasti kita tak akan mau seperti Devilishia itu, bukan?” mulai Felly.
      “Gadis aneh yang tidak jelas itu? Uh, pastinya aku tidak akan pernah ingin seperti itu.” balas Mia, wakil ketua OSIS dari 11-D.
      “Katanya, orang tuanya itu merupakan orang-orang yang tak bermoral. Pastinya sifat itu akan menurun padanya, bukan?” tambah Felly.
     Semua teman populer Felly menatap Delia dengan tatapan jijik. Delia yang melihatnya, lagi-lagi hanya mengepalkan tangannya. Sejam kemudian, pelajaran kembali dimulai hingga bel pulang sekolah berbunyi. Saat Delia keluar dari kelasnya, ia di hadang oleh Angie.
     “Mau apa kau?” tanya Delia suram.
     Dengan marah, Angie mengambil paksa tas Delia dan mengambil buku tugas berisi tugas yang baru ia kerjakan setelah gurunya memberikan tugas tadi, lalu menginjak-nginjaknya hingga buku itu rusak.
      “Kau ini benar-benar tidak menghargai uang,” ucap Delia dingin.
      “Kau yang memulainya,” jawab Angie acuh sembari pergi.
      Dengan perasaan tercabik-cabik yang ia sembunyikan itu, ia memungut buku tugasnya itu. Teringat perjuangan Aiko yang bekerja untuk membelikannya sebuah buku. Delia keluar dari sekolahnya dan duduk di kanan pojok depan gerbang sekolahnya untuk merapikan bukunya yang diinjak-injak oleh Angie, lalu Felly yang sedang menunggu jemputannya menghampirinya.
      “Aku heran, satu buku saja kau tidak sanggup membelinya, bagaimana bisa sepupumu menyekolahkanmu di sekolah ini? Pasti sepupumu berbuat sesuatu yang tidak benar, seperti mencuri atau merampok atau bahkan lebih mengerikan dari itu semua. Dasar keluarga tak bermoral!” katanya.
      Delia berdiri dan menarik kerah baju Felly di depan teman-teman populer Felly. “Kau boleh menjelek-jelekan aku dan menyamakanku dengan orang tuaku yang kalian anggap tak bermoral, tapi tidak sepupuku! Pergilah! Aku tidak mau berurusan denganmu, ucap Delia dengan dingin sambil melepaskan kerah baju Felly.
      “Ih, menjijikan! Dari tingkahmu ini saja sudah terlihat bahwa semua keluargamu tak bermoral, termasuk sepupumu yang pastinya menggunakan cara kotor untuk menyekolahkanmu di sekolah ini dan memenuhi kebutuhanmu.”
      “Plak!” Delia menampar Felly. “Tahu apa kau tentang keluargaku?! Orang sepertimu tidak akan pernah mengerti a” bentak Delia.
      “PLAK!!” Erio yang kebetulan melihat hal tersebut, menampar Delia dengan lebih keras, hingga membuat Delia tidak dapat meneruskan ucapannya tadi.
      “A..Apa-apaan kau?! Tidak usah ikut campur!bentak Delia pada Erio.
      “Tidak seharusnya kau menampar seseorang di sini! Lihat siapa dirimu! Dasar tidak tahu diri!” balas Erio penuh emosi.
      Delia memegang bekas tamparan Erio. “Cih, sok pahlawan!” maki Delia sembari menunjukan senyum masamnya itu.
      “Jaga mulutmu yang kotor itu!” bentak Erio.
      “Kau ini siswi bermulut kotor yang tidak tahu diri!” sahut Emma dan Mia, anggota pengurus OSIS di sekolahnya.
      Perempuan sampah!” sahut siswa lainnya.
      Semua siswa yang berada di sana menatap Delia dengan pandangan marah dan jijik. Semua orang di sekelilingnya tak ada yang membantunya ataupun membelanya.
      “Aku tidak punya waktu untuk semua ini. Tidak berguna!” ucap Delia dengan tatapan menantang dan senyum masamnya itu, lalu berjalan dengan tenang menuju rumahnya.
      Air matanya mulai mengalir sedikit dan lama-kelamaan menjadi deras melalui pipinya. Hujan turun dengan derasnya, menutupi air mata Delia. Delia menghapus air matanya. Ia menuju kamarnya dan berbaring tanpa mengganti seragamnya.
     Tiba-tiba, paru-parunya terasa sesak seperti diikat tali dengan kuat. Nafasnya tersengal-sengal. Ia memang selalu mengalami hal ini dua hari sekali, tapi ia sama sekali tidak memberitahukannya pada Aiko. Ia merasa dingin, sakit, dan perih. Matanya terpejam menahannya, lama-kelamaan ia pun tertidur.
      Beberapa lama kemudian, Delia membuka matanya. Langit tampak kelabu terang dari luar jendelanya yang terbuka. Dilihatnya jam digitalnya menunjukkan pukul lima sore tanggal 17  Februari. Ia bangkit, lalu menuju ke kamar mandinya dan  membasuh wajahnya. Ditatapnya wajah pucatnya pada cermin tanpa bingkai di hadapannya, lalu ia menghentakkan tangannya pada cermin tersebut.
      Keanehan terjadi. Cermin dihadapannya itu seperti melontarkannya sehingga membuat Delia jatuh terpental. Seorang gadis maya sebayanya dengan rambut terurai panjang dan gaun putih polos selutut keluar dari cerminnya.
      Delia dan gadis itu membuka kedua matanya masing-masing. “Siapa kau?” tanya mereka bersamaan.
      Gadis itu mengerjap. “Aku Angelia. Dan kau?”
      “Aku Delia, jawab Delia tenang.
      Delia meremas rambut pendeknya yang lebat dan berantakan itu. “Pasti aku benar-benar sakit hari ini,”
      Angelia mencoba menyentuh Delia, tapi tangannya menembus tubuh Delia. “Kau tampak sepertiku. Apakah kita ini satu orang yang berbeda?”
      “Mana aku tahu tentang hal itu. Ngomong-ngomong, mengapa kau ada di sini?” tanya Delia  yang mulai berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
      “Aku tidak tahu. Aku ditarik oleh sesuatu dan aku tidak tahu caraku kembali,” jawab Angelia yang melayang dan menyentuh cermin tempat ia muncul dan menembusnya.
      “Kembali saja lewat cermin itu,” kata Delia dengan acuh sambil pergi berlalu dari Angelia.
      Angelia pun mencoba ide Delia. “Tidak bisa. Aku hanya akan menembus hingga keluar. Kurasa aku terjebak di sini. Jadi, boleh aku tinggal bersamamu?”
      Delia menghela nafas, tidak percaya pada apa yang terjadi padanya hari ini. “Baiklah, terserah kau saja. Tapi, apakah kau akan di dunia yang bukan tempatmu ini selamanya?”
      Angelia tertegun sambil melayang mengikuti Delia.”Tentu tidak. Mungkin sampai sesuatu datang menjemputku atau ketika tiba-tiba sesuatu itu menariku kembali.”
     Sesampainya di kamarnya, Delia duduk di kasur berlubangnya dan menatap aneh Angelia. “Sebenarnya kau ini apa?”
      “Aku sendiri juga tidak tahu,” jawab Angelia yang kini tertuju pada kotak yang berada di meja kecil Delia.
      “Apa isi kotak ini?” tanyanya.
      “Jangan sentuh itu!” larang Delia. Angelia tertawa kecil.
      “Aku mungkin hanya akan menembus apapun yang kusentuh di dunia ini seperti tadi,” katanya sembari mencoba mengangkat kotak tersebut dan menembusnya. “Lihat!”
     Delia tertegun. “Kau sepertinya adalah arwah, berarti kau manusia sepertiku yang sudah meninggal.
      “Entahlah, aku tidak ingat apapun tentang diriku belakangan ini,” jelas Angelia sembari melayang dengan santainya. “Mungkin, kau benar tentang diriku.”
      Delia yang tidak mengerti penjelasan Angelia, duduk di ranjangnya, sedangkan Angelia berkeliling di sekitar rumah Delia.
      “Mengapa aku merasa tidak asing dengan semua ini?” gumamnya. “Oh, siapa yang berada di sampingmu ini?” tanyanya sembari menunjuk bingkai foto yang terpajang di dinding ruang tamunya.
      “Dia sepupuku, Aiko,” jawab Delia sambil menghampiri Angelia.
      “Aiko.. nama yang tidak asing untukku,” gumamnya.
     Hari sudah gelap, Delia mengambil beberapa lembar uang pemberian Aiko untuk membeli makan malam dan mengambil jaket merah lusuhnya di belakang pintu kamarnya.
    “Kau mau kemana?” tanya Angelia.
    “Membeli makan malam untukku. Apa kau mau?” tawar Delia.
    “Tidak. Tapi, aku ikut bersamamu. Aku ingin melihat-lihat lingkungan sekitar.”
    Terserah kau saja.”
     Angelia tersenyum. Delia tercengang melihat Angelia tersenyum seperti itu. Senyuman hangat dan lembut yang ia kenal, tapi ia membencinya.
      “Berhentilah tersenyum seperti itu! Itu menyebalkan,” kata Delia sinis.
      Angelia tersentak. “Kau ini benar-benar anti rasa senang, yah… ” Angelia mengerutkan bibirnya.
      “Terserah apa katamu,” balas Delia acuh.
      Lalu, mereka berdua pun menuju ke rumah makan kecil yang berada jauh dari rumahnya dan melalui jalanan yang sepi dan gelap. Delia tidak ingin berpapasan dengan tetangga-tetangganya yang masih tinggal di kompleksnya.
      “Mengapa hanya untuk membeli makanan kita harus sampai pergi sampai sejauh ini dan di tempat yang gelap ini?” tanya Angelia.
      “Tidak usah protes! Lagipula kau ini bisa melayang,” balas Delia sinis.
      “Mengapa kau tidak memilih jalan lain yang lebih terang dan rumah makan lain yang lebih dekat?”
      Delia tidak menjawab. Ia benci jika harus menjelaskan hal-hal menyakitkan yang menimpa padanya sewaktu ia baru keluar dari rumah sakit. Saat itu, ia dan Aiko berjalan di daerah tersebut untuk membeli makan malam, namun orang-orang yang ada di sana menatapnya penuh kebencian dan selalu menganggapnya sebagai monster yang harus dihindari.
      Setelah beberapa lama, Angelia pun terdiam dan melayang mengikuti Delia menuju jalanan yang sudah mulai bercahaya di depannya.
      Sesampainya mereka di rumah makan, Delia membeli sebungkus makanan yang hanya terdiri dari sedikit makanan di dalamnya, lalu kembali pulang. Dalam perjalanan mereka kembali menuju ke jalanan sepi dan gelap itu, seorang lelaki pucat bersama dengan laki-laki berpakaian serba hitam tertutup memperhatikannya. Tetapi, tatapannya tidak mengarah Delia, tapi ke arah Angelia. Mereka pun akhirnya kembali pulang dengan melalui jalanan yang sepi dan gelap itu.
      Setelah mereka sampai di rumah, Delia menyantap makanannya di teras rumahnya yang sepi. “Delia, kau lihat laki-laki pucat dan lelaki yang seperti pengemis yang melihat ke arah kita tadi?” tanya Angelia.
      Hmm,balas Delia.
      “Kurasa dia bisa melihatku. Terlihat dari arah pandangannya.”
      Delia tidak mempedulikan Angelia yang terus berbicara.
      “Kurasa mereka berdua memiliki indra keenam untuk melihatku,ocehnya. Lagi-lagi Delia tidak meresponnya. “Hey, kau tidak mendengarkanku?!” gerutu Angelia.
      “Mengapa kau begitu heboh dengan semua itu jika kau tahu apa sebab semua itu?” sarkastik Delia.
       “Mengapa kau begitu dingin padaku? Apa kehadiranku mengganggumu?” tanya Angelia dengan mata berkaca-kaca menatapnya.
       Delia menghela nafas. Ada sesuatu dari Angelia yang sedikit ia benci. “Kau pikirkan saja sendiri!” sinis Delia sambil melanjutkan makan malamnya, sedangkan Angelia hanya tertunduk.
      Setelah Delia selesai makan, Delia menatap bintang-bintang. Hatinya mulai terasa tentram. Maaf, ucapnya singkat.
      Angelia yang tadinya ikut melihat ke arah bintang-bintang setelah melihat Delia menatap bintang-bintang, terkejut mendengar perkataan Delia. “Eh, mengapa ka―”
      “Sudahlah, aku lelah,” sela Delia.
      Delia masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya, membiarkan Angelia yang masih takjub melihat bintang-bintang. Toh, ia bisa menembus benda apapun.
      Di dalam kamarnya, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang bobrok itu. Ia meraba bekas tamparan Erio tadi. Teringat masa-masa ketika ia sudah keluar dari rumah sakit dan bertemu Erio. Saat itu umurnya baru menginjak tujuh tahun. Erio saat itu hanya menatapnya penuh kebencian dan ia selalu menindas Delia bersama teman-temannya, serta membuat Delia tidak memiliki teman di sekolah karena Erio selalu berada satu sekolah dengannya. Sampai akhirnya, Erio dan keluarganya pindah tempat tinggal. Hal itu cukup untuk membuatnya lega.
      Bagaimanapun juga ia merasa jika semua hal yang terjadi padanya sejak ia keluar dari rumah sakit merupakan sesuatu hal yang biasa baginya, ia sudah menganggap bahwa tidak ada kebahagiaan besar di dalam hidupnya. Satu-satunya kebahagiaan yang ia punya adalah masa-masa bersama Aiko yang selalu menyayanginya layaknya seorang kakak.