Mimpi buruk yang sama itu kembali
berlanjut. Delia di sana, di ruangan gelap
setelah kejadian itu berlangsung. Suara kepanikan terdengar kecil, lalu semakin
membesar dan membesar. Delia jatuh terduduk dan menunduk
dengan kedua tangannya menutup telinganya. Lalu, suara tangis mulai terdengar
dan menjadi keheningan lagi. Ia ketakutan.
Delia melepaskan tangannya dari kedua
telinganya. Di sana ada pintu, sumber cahaya datang dari sana. Delia berjalan
menuju pintu itu. Dibukanya pintu tersebut. Sesegera mungkin Delia menutup
matanya dari silaunya cahaya dari pintu itu.
“Delia..Delia..” panggil Angelia.
Delia membuka kedua matanya. Cahaya pagi
merambat dari jendelanya yang setengah terbuka. Pipinya basah dan matanya berair, seperti habis menangis.
“Kau menangis. Ada apa?” tanyanya.
“Tidak ada apa-apa.”
Kemudian, Delia bersiap berangkat
sekolah. Sebelumnya, ia mengambil dua lembar uang yang diberikan Aiko untuk
membeli sarapannya, di toko roti yang biasa ia kunjungi itu. Angelia
mengikutinya dari belakang.
“Selamat pagi. Roti selai lemon seperti
biasa, Nona?” sapa tukang roti tersebut
“Ya, satu,” jawab Delia.
Tukang roti itu perempuan berusia dua
puluhan yang ramah. Ia lalu memberikan roti yang disebutkannya kepada Delia dan
memberikan uang kembalian Delia.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Delia
langsung keluar dari toko roti itu. Angelia masih mengikutinya. Delia memakan
roti yang dibelinya itu sembari berjalan menuju sekolahnya.
“SMA Glorious
Grace” tepat setelah tulisan nama sekolahnya mulai terlihat, Delia
menyelesaikan rotinya itu.
“Tempat apa ini?” tanya Angelia.
“Sekolah, tempat untuk belajar,” jawab Delia dingin.
Tiba-tiba, rasa sakit yang selalu
menjalarinya itu kembali menerjangnya dan membuat Delia berhenti melangkah.
“Kau kenapa?” tanya Angelia.
“Tidak apa-apa.”
Sesampainya di depan gerbang sekolah
Delia, seluruh siswa di sana menatapnya dengan pandangan tidak suka sembari
berbisik-bisik. Berita tentang kejadian kemarin rupanya sudah menyebar.
Delia hanya terdiam menuju kelasnya yang
berada di lantai atas. Sementara Angelia yang mengikutinya dari belakang, hanya
ikut diam menanggapi perlakuan siswa-siswa yang menatap dengan tatapan seperti
itu dan berbisik-bisik di sepanjang perjalanan menuju kelas Delia.
Suasana di kelasnya, kelas X-A
bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Hampir seluruh siswa di kelasnya meneriakan
kata-kata kasar padanya dan beberapa mendorongnya hingga terjatuh mengenai
serpihan lantai keramik yang pecah di kelasnya, sehingga membuat luka di
lututnya yang belum sembuh total kembali terluka. Delia meringis kesakitan.
Darah dari luka lututnya yang mengalir dibiarkan saja hingga istirahat dimulai
dan kelasnya kosong.
“Apa yang membuatmu diperlakukan buruk
seperti itu?” tanya Angelia. Delia hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
Angelia melihat luka di lutut Delia yang
memburuk. “Apa kau akan membiarkan lututmu seperti itu?” ketus Angelia.
Lagi-lagi Delia terdiam.
“Dengar! Aku ini tidak bisa menyentuh apapun
di duniamu ini. Jadi, tolonglah! Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini.
Tolong, bersihkan lukamu itu!” teriak Angelia. Delia mengalihkan pandangannya
dari Angelia menuju pemandangan jendela di sebelahnya.
“Tch,
apa pedulimu?” ucap Delia lirih.
Dengan marah Angelia pergi dari hadapan Delia. Sementara
itu, Delia melirik Angelia yang pergi dari tempatnya. Ia keluar dari kelasnya dan berjalan
tanpa arah.
“Dasar anak sampah!” kata Felly yang muncul
di depan bangkunya.
“Mau apa kau? Belum puas dengan semua
yang terjadi padaku, heh!?” balas Delia.
“Justru ini baru permulaannya saja.
Permainan belum dimulai.”
“Dasar kau perempuan tidak tahu diri!” teriak Delia.
“Oh, kau belum puas dengan perlakuanmu
kemarin padaku?” katanya dengan nada yang teraniaya.
Siswa-siswa yang kebetulan menyaksikan
ketika Delia mengatainya, semakin membencinya. Rupanya Felly sudah merencanakan
ini sebelumnya. Lagi-lagi Delia harus menanggung tatapan jijik murid-murid
sekelasnya.
***
Sementara itu, Angelia berjalan-jalan
berkeliling sekolah Delia dengan rasa kesalnya. Di sana, ia tertembus oleh
salah satu siswa laki-laki yang pergi dengan terburu-buru. Angelia merasa
tertarik untuk mengikuti siswa tersebut.
Siswa tersebut berhenti di loker miliknya
dan memutar sandi lokernya. Kebetulan tempat tersebut sepi dari siswa-siswa
lain. Di dalam loker tersebut, banyak sampah kertas berisi coretan dengan tanda
seru menumpuk. Siswa tersebut membuka plastik yang ada di sakunya dan memasukan
kertas-kertas tersebut ke dalamnya.
Angelia terus memperhatikannya.
Tiba-tiba, sebuah foto yang tersobek terjatuh dan mengarah ke arahnya. Di foto
itu, terdapat seorang anak laki-laki berambut coklat yang bahagia dan seorang
anak perempuan yang memiliki tanda lahir berupa dua titik yang tertera di
lehernya, tanda lahir tersebut sama dengan miliknya.
Siswa tersebut yang baru menyadari bahwa
fotonya terjatuh, mengambil foto tersebut. Dipandanginya foto tersebut terus-menerus,
lalu diletakannya di saku celananya dan berlalu dari hadapan Angelia.
Angelia melanjutkan perjalanannya
mengelilingi sekolah Delia. Banyak siswi-siswi yang bergosip tentang Delia di
sepanjang Angelia menelusuri. Angelia mendengarkan mereka.
“Delia si siswi buangan itu tidak tahu
diri. Berani-beraninya ia menampar diva sekolah kita.” kata salah satu siswi
tersebut.
“Emang dasar! Baguslah kalau dia ditampar
Erio,” sahut yang lainnya.
“Dia memang pantas mendapatkannya.
Sudahlah. Ayo, ke kelas!”
“Ayo!”
Kini, Angelia mulai mengerti alasan
mengapa semuanya membenci Delia.
***
“Apa kau belum puas menamparnya kemarin,
heh!?” bentak Gia, salah satu siswa kelasnya yang menyaksikan separuh adegan
tersebut sembari mendorong Delia. Delia hanya diam menanggapinya.
“Kamu ini bisanya mempermalukan martabat
kelas kita! Dasar tidak berperasaan!” tambah yang lainnya. Delia membuka mulut,
berusaha membalasnya, namun tidak jadi.
Tak ada yang membantunya, bahkan Angelia
sekalipun. Angelia hanya akan menjadi hembusan angin saja. Delia hanya bisa
pasrah menanggapi kekasaran teman sekelasnya.
Angelia di sana. Muncul dari balik pintu
kelas Delia. Ia tahu, ia tidak bisa menyentuh apapun, jadi percuma saja
membantu Delia yang kini tengah dimaki-maki oleh teman-teman sekelasnya
sendiri. Delia benar-benar tidak punya kawan di sekolah ini.
Bel tanda pelajaran kembali dimulai pun
berbunyi. Semua siswa kembali ke bangkunya semula termasuk Delia. Sementara
Angelia berada di luar, menunggu Delia selesai.
“Delia, kau diperintahkan untuk ke ruang
kepala sekolah sekarang!” perintah gurunya yang saat itu sedang mengajarnya.
Delia menuruti perintah gurunya itu dan
menuju ke ruang kepala sekolah. Tiba-tiba, ia terjatuh karena siswa yang duduk
di depan bangkunya mendorongnya dengan keras. Semua siswa tertawa kecil
melihatnya,
sedangkan gurunya hanya menatapnya acuh. Dengan tenang, Delia bangkit sendiri dan berjalan kembali menuju ruang
kepala sekolah.
Sesampainya di sana, Delia dengan tenang
duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan kepala sekolah.
“Kau tahu peraturan utama di sekolah
ini?” uji kepala sekolahnya.
“Ya, saya mengerti. Tidak boleh ada
kekerasan,” jawab Delia tenang.
“Lalu, mengapa kau melanggarnya?” tanya
kepala sekolahnya.
“Pertanyaan itu tidak penting. Jika, Anda ingin
menghukum saya. Silahkan langsung saja,” ucap Delia tenang.
Kepala sekolahnya menghela nafas. “Aku
tahu kau memiliki banyak masalah. Kau itu juga termasuk siswa yang selalu
mendapatkan beasiswa di sekolah ini, tapi tolong jaga sikapmu dan jaga martabat
sekolah ini. Minggu ini kau harus membersihkan seluruh ruangan
kelas sebelas di sekolah ini.”
“Baiklah. Jika itu yang anda inginkan.
Izinkan saya kembali ke kelas saya,” pamit Delia dengan sopan, lalu berjalan menuju kelasnya kembali dan memulai
pelajarannya lagi.
Beberapa jam kemudian, bel tanda pulang
sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar. Ketika Delia keluar kelas
disaat guru yang mengajarnya sudah jauh dari kelasnya, beberapa siswa mendorong
Delia dari belakang dan membuat Delia terjatuh.
Delia
pergi menuju gudang yang terdekat untuk mengambil alat kebersihan. Ia mulai
membersihkan kelasnya, lalu membersihkan kelas 11 yang lain secara runtut
sesuai hukuman yang ditetapkan oleh kepala sekolahnya tadi. Delia menyapu dan
mengepel lantai, merapikan bangku-bangku,
membersihkan sampah kertas dan permen karet yang ada di laci meja siswa, menghapus papan
tulis, dan mengelap jendela yang penuh debu itu. Air keringat Delia bercucuran
tanda usaha keras Delia dalam menjalani hukumannya. Luka di lutut Delia yang
belum dibersihkannya pun menjadi semakin melebar.
Namun, Delia tidak mempedulikannya.
Setelah selesai, Delia mengembalikan alat
kebersihan yang digunakannya, lalu berjalan keluar. Di gerbang sekolahnya,
terlihat Angelia sedang menunggunya.
“Mengapa kau tidak pulang duluan saja?”
tanya Delia lemah.
“Aku tidak mau meninggalkanmu begitu
saja,” jawab Angelia.
“Tidak usah pedulikan aku. Ini sudah
menjadi hal yang biasa bagiku.”
“Tapi―”
Belum sempat Angelia menyelesaikan kata-katanya,
Delia sudah mulai berjalan pulang duluan dan membuat Angelia yang menggerutu
sendiri mengikutinya. Di perjalanan
pulangnya, seperti biasanya, ia mendapatkan olokan dan lemparan kerikil dari
anak-anak yang kebetulan sedang bermain di jalur yang biasa ia lewati. Delia hanya berjalan dengan tenangnya, sementara
Angelia hanya menatapnya dengan pandangan iba.
Setelah sampai di rumah, Angelia
mengatakan apa yang dilihatnya ketika ia mengikuti siswa laki-laki yang
ternyata adalah Erio, siswa yang menampar Delia.
“Apakah mungkin, jika aku adalah gadis
itu?” tanya Angelia.
“Entahlah. Mengapa kau begitu
memikirkannya?”
“Aku ingin tahu masa laluku. Ibuku tidak
pernah bercerita tentang masa laluku. Delia,
lukamu semakin parah!”
“Ini tidak apa-apa. Akan aku bersihkan. Mengapa kau tidak menanyakannya
pada ibumu?”
“Aku sudah menanyakannya, tapi ibuku
selalu terlihat sedih. Aku tidak ingin membuatnya sedih.”
“Memang sebaiknya seperti itu. Kau
beruntung memiliki orang tua yang bisa kau bahagiakan.”
Angelia terlihat seperti menahan tangis.
“Mengapa kau bisa dibenci seperti itu padahal kau sendiri
berbeda dari apa yang mereka pikirkan? Aku tidak tahan melihatmu diperlakukan seperti
itu, dibenci dan dihina.”
“Aku memang menjijikan bagi mereka. Tidak
apa-apa.”
Delia mengambil air dan sapu tangan, lalu
mulai membersihkan luka lututnya yang melebar
itu.
Ia tidak membalutnya dengan perban, ia hanya membiarkannya.
“Kau tidak menjijikan, Delia,” kata Angelia. “Mereka hanya tak pernah mengenalmu
dan membuat kesimpulan begitu saja dengan cepat.”
“Terserah.
Aku tidak peduli dengan semua itu. Bagiku itu tidak penting,” balas Delia dingin.
“Tapi, apakah kau tidak merasakan sakit? Tidakkah kau ingin merasa
bahagia?”
“Aku sudah terbiasa dengan semua ini dan
semuanya
sudah tidak terasa lagi. Kebahagiaan hanya sebuah kebohongan manis bagiku.”
“Aku tidak mengerti tentang dirimu. Jika
kita ini benar-benar
saudara kembar, pasti aku sangat jahat karena tak memahamimu,” ujar Angelia.
“Tidak,
itu bukanlah sesuatu yang jahat. Jika kau benar-benar saudara kembarku, kau
tidak perlu memahamiku. Seharusnya kau membiarkanku sendiri,” ujar Delia
singkat dan membaringkan tubuhnya.
“Tapi―”
sanggah Angelia.
“Sudahlah. Tidak usah terlalu dipikirkan,”
potong Delia. “Pikirkan saja cara agar kamu kembali pulang.”
Angelia yang tidak bisa berkata apa-apa
lagi keluar dari rumah Delia dan menyaksikan matahari terbenam yang indah di
atap rumah Delia. “Sayang sekali, Delia tidak melihat pemandangan indah ini. Dunia ini ternyata sangat rumit, bahkan aku
tidak bisa memahami Delia seutuhnya,” gumamnya.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Delia
memandang langit sore yang mulai sedikit demi sedikit berubah warna menjadi
biru gelap di luar jendela kamarnya. Lalu, sesekali ia memandang kotak yang
ditinggalkan Aiko untuknya. Mulai teringat kata-kata Aiko yang selalu ia
ucapkan sejak paman dan bibinya
meninggal.
“Apapun yang terjadi, aku, ayah, dan ibu, akan
selalu menjagamu. Dan jangan pernah berpikir kalau orang tuamu menelantarkan
kita, jangan pernah! Orang tuamu benar-benar menyayangimu sama seperti rasa
sayang kami padamu.”
Delia hanya mengangguk pelan, tapi di
dalam hatinya ia masih menganggap kalau orang tuanya menelantarkannya dan tidak
menginginkannya lagi. Itu semua karena mereka terlihat menyembunyikan sesuatu
darinya. Sesuatu yang besar antara dirinya dengan orang tuanya.
Bagaimanapun juga, Delia sudah tidak
mempedulikan hal itu, hal itu seperti memikirkan kesehariannya yang sangat
biasa. Delia tersenyum masam dalam pikirannya. “Dihina dan dibenci, heh?”
gumamnya. .jpg)