Sabtu, 26 Juli 2014

Sweet and Sour II

       Mimpi buruk yang sama itu kembali berlanjut. Delia di sana, di ruangan gelap setelah kejadian itu berlangsung. Suara kepanikan terdengar kecil, lalu semakin membesar dan membesar. Delia jatuh terduduk dan menunduk dengan kedua tangannya menutup telinganya. Lalu, suara tangis mulai terdengar dan menjadi keheningan lagi. Ia ketakutan.
      Delia melepaskan tangannya dari kedua telinganya. Di sana ada pintu, sumber cahaya datang dari sana. Delia berjalan menuju pintu itu. Dibukanya pintu tersebut. Sesegera mungkin Delia menutup matanya dari silaunya cahaya dari pintu itu.
      “Delia..Delia..” panggil Angelia.
      Delia membuka kedua matanya. Cahaya pagi merambat dari jendelanya yang setengah terbuka. Pipinya basah dan matanya berair, seperti habis menangis.
      “Kau menangis. Ada apa?” tanyanya.
      “Tidak ada apa-apa.
       Kemudian, Delia bersiap berangkat sekolah. Sebelumnya, ia mengambil dua lembar uang yang diberikan Aiko untuk membeli sarapannya, di toko roti yang biasa ia kunjungi itu. Angelia mengikutinya dari belakang.
      “Selamat pagi. Roti selai lemon seperti biasa, Nona?” sapa tukang roti tersebut
      “Ya, satu,” jawab Delia.
      Tukang roti itu perempuan berusia dua puluhan yang ramah. Ia lalu memberikan roti yang disebutkannya kepada Delia dan memberikan uang kembalian Delia.
      Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Delia langsung keluar dari toko roti itu. Angelia masih mengikutinya. Delia memakan roti yang dibelinya itu sembari berjalan menuju sekolahnya.
      SMA Glorious Grace” tepat setelah tulisan nama sekolahnya mulai terlihat, Delia menyelesaikan rotinya itu.
      “Tempat apa ini?” tanya Angelia. 
      “Sekolah, tempat untuk belajar,jawab Delia dingin.
      Tiba-tiba, rasa sakit yang selalu menjalarinya itu kembali menerjangnya dan membuat Delia berhenti melangkah.
      “Kau kenapa?” tanya Angelia.
      “Tidak apa-apa.”
      Sesampainya di depan gerbang sekolah Delia, seluruh siswa di sana menatapnya dengan pandangan tidak suka sembari berbisik-bisik. Berita tentang kejadian kemarin rupanya sudah menyebar.
      Delia hanya terdiam menuju kelasnya yang berada di lantai atas. Sementara Angelia yang mengikutinya dari belakang, hanya ikut diam menanggapi perlakuan siswa-siswa yang menatap dengan tatapan seperti itu dan berbisik-bisik di sepanjang perjalanan menuju kelas Delia.
      Suasana di kelasnya, kelas X-A bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Hampir seluruh siswa di kelasnya meneriakan kata-kata kasar padanya dan beberapa mendorongnya hingga terjatuh mengenai serpihan lantai keramik yang pecah di kelasnya, sehingga membuat luka di lututnya yang belum sembuh total kembali terluka. Delia meringis kesakitan. Darah dari luka lututnya yang mengalir dibiarkan saja hingga istirahat dimulai dan kelasnya kosong.
      “Apa yang membuatmu diperlakukan buruk seperti itu?” tanya Angelia. Delia hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
       Angelia melihat luka di lutut Delia yang memburuk. “Apa kau akan membiarkan lututmu seperti itu?” ketus Angelia. Lagi-lagi Delia terdiam.
      “Dengar! Aku ini tidak bisa menyentuh apapun di duniamu ini. Jadi, tolonglah! Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini. Tolong, bersihkan lukamu itu!” teriak Angelia. Delia mengalihkan pandangannya dari Angelia menuju pemandangan jendela di sebelahnya.
      “Tch, apa pedulimu?” ucap Delia lirih.
      Dengan marah Angelia pergi dari hadapan Delia. Sementara itu, Delia melirik Angelia yang pergi dari tempatnya. Ia keluar dari kelasnya dan berjalan  tanpa arah.
      “Dasar anak sampah!” kata Felly yang muncul di depan bangkunya.
      “Mau apa kau? Belum puas dengan semua yang terjadi padaku, heh!?” balas Delia.
      “Justru ini baru permulaannya saja. Permainan belum dimulai.”
      “Dasar kau perempuan tidak tahu diri!” teriak Delia.
      “Oh, kau belum puas dengan perlakuanmu kemarin padaku?” katanya dengan nada yang teraniaya.
      Siswa-siswa yang kebetulan menyaksikan ketika Delia mengatainya, semakin membencinya. Rupanya Felly sudah merencanakan ini sebelumnya. Lagi-lagi Delia harus menanggung tatapan jijik murid-murid sekelasnya.

***

      Sementara itu, Angelia berjalan-jalan berkeliling sekolah Delia dengan rasa kesalnya. Di sana, ia tertembus oleh salah satu siswa laki-laki yang pergi dengan terburu-buru. Angelia merasa tertarik untuk mengikuti siswa tersebut.
      Siswa tersebut berhenti di loker miliknya dan memutar sandi lokernya. Kebetulan tempat tersebut sepi dari siswa-siswa lain. Di dalam loker tersebut, banyak sampah kertas berisi coretan dengan tanda seru menumpuk. Siswa tersebut membuka plastik yang ada di sakunya dan memasukan kertas-kertas tersebut ke dalamnya.
      Angelia terus memperhatikannya. Tiba-tiba, sebuah foto yang tersobek terjatuh dan mengarah ke arahnya. Di foto itu, terdapat seorang anak laki-laki berambut coklat yang bahagia dan seorang anak perempuan yang memiliki tanda lahir berupa dua titik yang tertera di lehernya, tanda lahir tersebut sama dengan miliknya.
      Siswa tersebut yang baru menyadari bahwa fotonya terjatuh, mengambil foto tersebut. Dipandanginya foto tersebut terus-menerus, lalu diletakannya di saku celananya dan berlalu dari hadapan Angelia.
      Angelia melanjutkan perjalanannya mengelilingi sekolah Delia. Banyak siswi-siswi yang bergosip tentang Delia di sepanjang Angelia menelusuri. Angelia mendengarkan mereka.
      “Delia si siswi buangan itu tidak tahu diri. Berani-beraninya ia menampar diva sekolah kita.” kata salah satu siswi tersebut.
      “Emang dasar! Baguslah kalau dia ditampar Erio,” sahut yang lainnya.
      “Dia memang pantas mendapatkannya. Sudahlah. Ayo, ke kelas!”
      “Ayo!”
      Kini, Angelia mulai mengerti alasan mengapa semuanya membenci Delia.

***

      “Apa kau belum puas menamparnya kemarin, heh!?” bentak Gia, salah satu siswa kelasnya yang menyaksikan separuh adegan tersebut sembari mendorong Delia. Delia hanya diam menanggapinya.
      “Kamu ini bisanya mempermalukan martabat kelas kita! Dasar tidak berperasaan!” tambah yang lainnya. Delia membuka mulut, berusaha membalasnya, namun tidak jadi.
      Tak ada yang membantunya, bahkan Angelia sekalipun. Angelia hanya akan menjadi hembusan angin saja. Delia hanya bisa pasrah menanggapi kekasaran teman sekelasnya.
      Angelia di sana. Muncul dari balik pintu kelas Delia. Ia tahu, ia tidak bisa menyentuh apapun, jadi percuma saja membantu Delia yang kini tengah dimaki-maki oleh teman-teman sekelasnya sendiri. Delia benar-benar tidak punya kawan di sekolah ini.
      Bel tanda pelajaran kembali dimulai pun berbunyi. Semua siswa kembali ke bangkunya semula termasuk Delia. Sementara Angelia berada di luar, menunggu Delia selesai.
       “Delia, kau diperintahkan untuk ke ruang kepala sekolah sekarang!” perintah gurunya yang saat itu sedang mengajarnya.
      Delia menuruti perintah gurunya itu dan menuju ke ruang kepala sekolah. Tiba-tiba, ia terjatuh karena siswa yang duduk di depan bangkunya mendorongnya dengan keras. Semua siswa tertawa kecil melihatnya, sedangkan gurunya hanya menatapnya acuh. Dengan tenang, Delia bangkit sendiri dan berjalan kembali menuju ruang kepala sekolah.
       Sesampainya di sana, Delia dengan tenang duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan kepala sekolah.
      “Kau tahu peraturan utama di sekolah ini?” uji kepala sekolahnya.
      “Ya, saya mengerti. Tidak boleh ada kekerasan,” jawab Delia tenang.
      “Lalu, mengapa kau melanggarnya?” tanya kepala sekolahnya.
      Pertanyaan itu tidak penting. Jika, Anda ingin menghukum saya. Silahkan langsung saja,” ucap Delia tenang.
       Kepala sekolahnya menghela nafas. “Aku tahu kau memiliki banyak masalah. Kau itu juga termasuk siswa yang selalu mendapatkan beasiswa di sekolah ini, tapi tolong jaga sikapmu dan jaga martabat sekolah ini. Minggu ini kau harus membersihkan seluruh ruangan kelas sebelas di sekolah ini.”
       “Baiklah. Jika itu yang anda inginkan. Izinkan saya kembali ke kelas saya,” pamit Delia dengan sopan, lalu berjalan menuju kelasnya kembali dan memulai pelajarannya lagi.
      Beberapa jam kemudian, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar. Ketika Delia keluar kelas disaat guru yang mengajarnya sudah jauh dari kelasnya, beberapa siswa mendorong Delia dari belakang dan membuat Delia terjatuh.
      Delia pergi menuju gudang yang terdekat untuk mengambil alat kebersihan. Ia mulai membersihkan kelasnya, lalu membersihkan kelas 11 yang lain secara runtut sesuai hukuman yang ditetapkan oleh kepala sekolahnya tadi. Delia menyapu dan mengepel lantai, merapikan bangku-bangku, membersihkan sampah kertas dan permen karet yang ada di laci meja siswa,  menghapus papan tulis, dan mengelap jendela yang penuh debu itu. Air keringat Delia bercucuran tanda usaha keras Delia dalam menjalani hukumannya. Luka di lutut Delia yang belum dibersihkannya pun menjadi semakin melebar. Namun, Delia tidak mempedulikannya.
     Setelah selesai, Delia mengembalikan alat kebersihan yang digunakannya, lalu berjalan keluar. Di gerbang sekolahnya, terlihat Angelia sedang menunggunya.
      “Mengapa kau tidak pulang duluan saja?” tanya Delia lemah.
      “Aku tidak mau meninggalkanmu begitu saja,” jawab Angelia.
      “Tidak usah pedulikan aku. Ini sudah menjadi hal yang biasa bagiku.”
      “Tapi
      Belum sempat Angelia menyelesaikan kata-katanya, Delia sudah mulai berjalan pulang duluan dan membuat Angelia yang menggerutu sendiri mengikutinya. Di perjalanan pulangnya, seperti biasanya, ia mendapatkan olokan dan lemparan kerikil dari anak-anak yang kebetulan sedang bermain di jalur yang biasa ia lewati. Delia hanya berjalan dengan tenangnya, sementara Angelia hanya menatapnya dengan pandangan iba.
      Setelah sampai di rumah, Angelia mengatakan apa yang dilihatnya ketika ia mengikuti siswa laki-laki yang ternyata adalah Erio, siswa yang menampar Delia.
      “Apakah mungkin, jika aku adalah gadis itu?” tanya Angelia.
      “Entahlah. Mengapa kau begitu memikirkannya?”
      “Aku ingin tahu masa laluku. Ibuku tidak pernah bercerita tentang masa laluku. Delia, lukamu semakin parah!
      Ini tidak apa-apa. Akan aku bersihkan. Mengapa kau tidak menanyakannya pada ibumu?
      “Aku sudah menanyakannya, tapi ibuku selalu terlihat sedih. Aku tidak ingin membuatnya sedih.”
      “Memang sebaiknya seperti itu. Kau beruntung memiliki orang tua yang bisa kau bahagiakan.”
      Angelia terlihat seperti menahan tangis. “Mengapa kau bisa dibenci seperti itu padahal kau sendiri berbeda dari apa yang mereka pikirkan? Aku tidak tahan melihatmu diperlakukan seperti itu, dibenci dan dihina.”
      “Aku memang menjijikan bagi mereka. Tidak apa-apa.”
      Delia mengambil air dan sapu tangan, lalu mulai membersihkan luka lututnya yang melebar itu. Ia tidak membalutnya dengan perban, ia hanya membiarkannya.
      “Kau tidak menjijikan, Delia,” kata Angelia. “Mereka hanya tak pernah mengenalmu dan membuat kesimpulan begitu saja dengan cepat.”
      “Terserah. Aku tidak peduli dengan semua itu. Bagiku itu tidak penting,” balas Delia dingin.
      Tapi, apakah kau tidak merasakan sakit? Tidakkah kau ingin merasa bahagia?”
      “Aku sudah terbiasa dengan semua ini dan semuanya sudah tidak terasa lagi. Kebahagiaan hanya sebuah kebohongan manis bagiku.”
      “Aku tidak mengerti tentang dirimu. Jika kita ini benar-benar saudara kembar, pasti aku sangat jahat karena tak memahamimu,” ujar Angelia.
      “Tidak, itu bukanlah sesuatu yang jahat. Jika kau benar-benar saudara kembarku, kau tidak perlu memahamiku. Seharusnya kau membiarkanku sendiri,” ujar Delia singkat dan membaringkan tubuhnya.
      “Tapi” sanggah Angelia.
      “Sudahlah. Tidak usah terlalu dipikirkan,” potong Delia. “Pikirkan saja cara agar kamu kembali pulang.”
      Angelia yang tidak bisa berkata apa-apa lagi keluar dari rumah Delia dan menyaksikan matahari terbenam yang indah di atap rumah Delia. “Sayang sekali, Delia tidak melihat pemandangan indah ini. Dunia ini ternyata sangat rumit, bahkan aku tidak bisa memahami Delia seutuhnya,” gumamnya.
      Sementara itu, di dalam kamarnya, Delia memandang langit sore yang mulai sedikit demi sedikit berubah warna menjadi biru gelap di luar jendela kamarnya. Lalu, sesekali ia memandang kotak yang ditinggalkan Aiko untuknya. Mulai teringat kata-kata Aiko yang selalu ia ucapkan  sejak paman dan bibinya meninggal.
      “Apapun yang terjadi, aku, ayah, dan ibu, akan selalu menjagamu. Dan jangan pernah berpikir kalau orang tuamu menelantarkan kita, jangan pernah! Orang tuamu benar-benar menyayangimu sama seperti rasa sayang kami padamu.”
      Delia hanya mengangguk pelan, tapi di dalam hatinya ia masih menganggap kalau orang tuanya menelantarkannya dan tidak menginginkannya lagi. Itu semua karena mereka terlihat menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu yang besar antara dirinya dengan orang tuanya.
      Bagaimanapun juga, Delia sudah tidak mempedulikan hal itu, hal itu seperti memikirkan kesehariannya yang sangat biasa. Delia tersenyum masam dalam pikirannya. “Dihina dan dibenci, heh?” gumamnya.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar