Sabtu, 31 Mei 2014

Lost the Wings

      Sean tidak pernah percaya dengan kata-kata itu. Ia seperti seekor burung yang telah kehilangan sayapnya. Itu semua berawal dari tindakannya yang kekanak-kanakan di masa lalu. Ia bahkan jarang menceritakan tentang dirinya kepada siapapun. Baginya, menceritakan tentang dirinya sendiri itu egois, manja, dan konyol. Jadi, ia selalu menyimpan masalahnya sendiri.

      Untuk saat ini, ia tak pernah keluar rumah kecuali ketika bersekolah dan ada keperluan penting yang harus dilakukan. Di dalam rumahnya, ia selalu menjadi orang berbeda dari ketika ia berada di sekolah dan ketika ia menjadi orang lain di dunia maya, sehingga ia lupa bagaimana dirinya yang sebenarnya. Meskipun begitu, ia tidak merasakannya.

      Di rumah, ia selalu memainkan game Angel Knight Kingdom Online di laptopnya. Game tersebut merupakan game online dengan visual yang bagus karya Jim. Untuk memainkannya hanya memerlukan CD berisi kartu ID game tersebut yang didapat secara online. Dalam kasus ini, sang penerima dilarang bertemu dengan sang pemberi kartu, itu sudah dituliskan dalam aturan-aturan yang tertera. Tidak hanya itu, kartu itu pun memiliki poin dan hanya berlaku sekali pakai dan pemilik pun tidak bisa membeli kartu ID yang baru lagi, jadi jika poin kartu tersebut habis, sang pemilik tidak bisa bermain game itu lagi.

      Sean menggunakan karakter dengan tipe snipper dan menggunakan equipment yang tertutup. Ia juga menggunakan nama samaran dengan mengacak namanya sendiri, yaitu Ace. Ia memang selalu menutup dirinya sendiri, sehingga orang hanya akan menilainya dari sisi dirinya yang terlihat.

      Dalam game tersebut, pengguna juga bisa membentuk kelompok bertarung atau guild. Tapi, Sean lebih memilih bertarung sendiri karena ia beranggapan bahwa guild hanya menginginkan anggota yang kuat-kuat saja, sedangkan ia sendiri belum tentu pemain yang kuat. Meskipun begitu, ia tetap mendapatkan beberapa teman yang bersedia berbicara dengannya dan teman yang paling dekat dengannya adalah pemain dengan nama Cana. Dalam game tersebut juga terdapat sistem kotak pesan, jadi game tersebut juga dapat berkomunikasi antar pemain.

      Cana merupakan pemain tipe mage yang masih berada di bawah level Sean. Meski begitu, suatu saat Cana bisa saja melampaui Sean.



***



      Saat ini, Sean benar-benar ingin merubah dirinya sendiri, hanya saja sesuatu dalam dirinya tetap tidak bisa ditutupi. Meskipun ia selalu terlihat bersama-sama dengan temannya, di sisi lainnya ia kadang melakukan sesuatu hal sendirian. Ia juga masih belum bisa ikut dalam pembicaraan teman-teman klubnya, sehingga ia hanya diam dan tidak melakukan apapun, kecuali mendengarkan pembicaraan mereka.

      Sepulang sekolah, Sean berjalan sendirian menuju gerbang sekolah. Tiba-tiba, ia berpapasan dengan Nara dan teman-temannya.

      "Hai, Sean!" sapa Nara.

      "Hai," jawab Sean.

      Dada Sean terasa sakit ketika ia melihat wajah Nara, namun di sisi lain ia hanya menatapnya dengan pandangan kosong dan senyum terpaksa sambil menjawab sapaan Nara dan pergi meninggalkannya.

      Nara adalah teman SMP-nya. Meskipun sekarang ia berada satu sekolah dengan Sean, Sean tak menganggapnya sebagai teman. Sean hanya menganggapnya sebagai kenalan saja.

      Setelah Sean berada di rumah, ia membuka game Angel Knight Kingdom Online yang sudah dua tahun tidak ia mainkan. Kini, ia berada di peringkat dua dari bawah, sedangkan Cana berada diperingkat ketiga dan poinnya termasuk salah satu dari poin yang sulit untuk dilampaui.

      Sean beralih ke kotak pesannya. Ia membuka satu persatu kotak pesan yang sudah lama ia lupakan, sampai ia membuka kumpulan kotak pesan dari Cana. Yang ia ingat terakhir kali dari Cana adalah ia selalu bersaing dengannya.



    03-05-11

      Cana : Hai, Ace!

      Ace   : Hmm. Ada apa?

      Cana : Kunci gerbang menara ketiga dipegang siapa?

      Ace   : Aku nggak tahu. Kenapa kamu tanyanya sama aku? Bukannya temanmu banyak?

      Cana : Terserah aku dong :P

      Ace   : -_-

    05-05-11

      Cana : Hey, Ace! Kamu ini sebenarnya siapa, sih? Sepertinya aku mengenalmu.

      Ace   : Ya nggak tahu, ya :P

      Cana : Ah, gitu :/

      Ace   : Ya udah, deh. Tapi, kamu kasih tahu dulu siapa kamu.

      Cana : Nggak, kamu duluan aja.

      Ace   : Huft, dasar -_- Namaku Sean. Sekarang kamu!

      Cana : Aku Nara.

      Ace   : Pantas saja kau menyebalkan.



      Cana : Terserah lah -_-



      Sean yang baru mengingatnya, terkejut melihat kotak pesan tersebut. Tiba-tiba, ia teringat dirinya yang kasar, ceroboh dan selalu bertengkar dengan Nara sampai teman-teman sekelasnya menganggap mereka berdua seperti pasangan.

    27-06-11

      Ace   : Bisa berhenti menggangguku di sekolah?


      Cana : Kamu duluan yang ganggu, kok. Udah lah, aku males berantem.


      Ace   : Ya udah lah

    03-07-11

      Cana : Ciee, ada yang baru dapet surat cinta, nih :P

      Ace   : Surat gak jelas kayak gitu kamu sebut surat cinta? Yang bener aja -_-

      Cana : Udah lah, terima aja surat dari Rona. Kasihan dia

      Ace   : Kasihan apanya? Gak ada gunanya juga nerima perempuan murahan kayak gitu -_-

      Cana : Ih, jahat banget!

      Ace   : Biarin :P

      Sean teringat kembali ketika ia pertama kalinya mendapatkan surat cinta, tapi ia menolaknya. Ia hanya menganggap Rona sebagai teman dekatnya yang normal, tidak seperti pertemanannya dengan Nara yang selalu diwarnai dengan pertengkaran. Sejak saat itu, Sean tidak menganggap Rona sebagai teman dekatnya lagi melainkan orang yang tidak ia sukai karena ia sangat terganggu dengan ejekan teman sekelasnya yang menjodoh-jodahkan dirinya dengan Rona.

      Saat ini, Rona telah menemukan cintanya yang baru entah itu bertahan lama atau tidak, tapi di sisi lain sahabat Sean yang menyukai Rona, Kaka hanya tersenyum menerimanya. Hal itu membuat Sean semakin tidak menyukai Rona.

      Sena men-scroll kotak pesan tersebut dengan cepat karena pesan tersebut hanya berisi pertengkarannya dengan Cana atau Nara, sampai ia berhenti di saat-saat terakhir pembicaraannya dengan Cana atau Nara telah usai. 

    28-08-12

      Ace   : Udah punya pacar, nih :P

      Cana : Apaan, sih?! Tiba-tiba, kayak gitu -_-

      Ace   : Udahlah ngaku aja :P

      Cana : Ya, aku udah punya pacar :P Puas!

      Ace   : Puas lah :P

      Sean tidak pernah tahu sampai saat ini siapa yang menjadi pacar Nara. Apakah ia berbohong? batinnya. Ia hampir tidak mempercayai apa yang ia ketikkan saat itu. Ia bahkan tidak mempercayai bahwa yang berbicara dengan Nara melalui pesan tersebut adalah dirinya. Di saat yang bersamaan ia merasa sakit hati, tapi ia tidak ingin mengakuinya jauh di dalam hatinya.

    05-10-12

      Ace   : Gak biasanya online, biasanya kamu sibuk sama pacarmu :P

      Cana : Ngapain kamu online? Pergi sana! Gak usah ngobrol sama aku!

      Ace   : Sombong!

      Begitulah akhir dari pembicaraannya dengan Cana atau Nara. Meskipun tidak berakhir dengan baik, Sean tidak menyesalinya. Di sisi lain, ia masih bisa berhubungan dengan Nara di dunia nyata sebagai kenalan meski jauh dari jangkauannya dan Nara terlihat populer dikalangan laki-laki.

     Meskipun sulit bagi Sean untuk menutupi dirinya sendiri bahwa ia menyukai Nara, ia tetap bertahan untuk menutupnya meski ia tahu itu akan berdampak buruk baginya. Ia sadar kalau ia tak pantas untuknya, tapi ia tidak akan menyerah untuk bisa berada setara dengannya atau bisa lebih baik darinya. Ia yang saat ini berada jauh di bawahnya hanya bisa mengejarnya ke atas meskipun tanpa sayap.

      Akan tetapi, ia beranggapan bahwa Nara tidak akan pernah mengerti perasaannya yang sesungguhnya padanya. Nara hanya akan terus menganggapnya sebagai teman SMP-nya yang aneh, pendiam, dan misterius. Semua itu akan berlanjut terus seperti itu.

      Tiba-tiba, terbesit dipikirannya untuk meminta maaf pada Nara atas perkataan kasarnya. Ia pun menuliskannya pada kota pesan game AKKO.

      Ace   : Aku minta maaf soal kata-kata kasarku dulu 

      Cana : Ya nggak apa-apa :) Santai aja, Sean

      Sean tersenyum puas membaca balasan Nara. Sampai suatu hari ia mendapat berita tak terduga.

      "Sean, kamu sudah lihat berita dari tim klub kita?" tanya Rama, sobat Sean.
      "Berita apa?"
      "Well, tidak begitu penting. Coba kamu cari tahu sendiri saja!"
      "Ayolah, beri aku petunjuk!"
      "Ada yang baru menjadi kekasih diklub kita, mereka seangkatan sama kita."
      "Wah, siapa?"
      "Si Gery."
      "Dengan siapa?"
      "Yah, coba cari tahu sendirilah!"
      "Jadi, mulai main tebak-tebakan, nih! Hmm, anggota baru atau lama?"
      "Anggota baru."
      "Lia?"
      "Hahaha, nggak mungkin!"
      Sean mulai menelan ludah. "Nara?"
      "Ya, bener."
     "Wah, selamat!" seru Sean, lalu berjalan keluar dari kelasnya.

     Ia berusaha menahan diri untuk tidak menunjukan ekspresinya sampai ia berada di rumah. Setelah sampai di rumahnya, ia tertawa. "Apa ini?! Drama payah! Cuih! Hahaha!" tawanya. Ia memang benci melihat drama romantis, tapi ia tahu rangkaian peristiwa yang biasanya ada dalam drama romantis berkat adiknya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa ia tidak sakit hati.

    Setelah kejadian itu, Sean menjadi sering membolos klub tanpa alasan yang jelas, sampai-sampai ia hampir dicurigai Rama, jarang bermain game, tidak berkomunikasi dengan teman online-nya lagi, dan lebih sering berada di kamarnya. Yang ia lakukan hanya merenung, menggambar, dan belajar. Namun, diantara semua kegiatan itu, yang paling sering ia lakukan ialah merenung. Ia memang sudah tak memikirkan Nara lagi, bahkan jarang bertemu. Ia memikirkan masa depannya karena ia belum memiliki tujuannya, terlalu banyak pertimbangan dalam pikirannya.

     Ada suatu event yang wajib dihadiri, dengan terpaksa Sean hadir dalam acara itu. Memang acara itu menarik, ada model wanita yang mengenakan gaun unik. Ia terus memotret para model wanita tersebut.
      "Hai Sean!" sapa Nara yang berada tepat di sampingnya.
      "Oh, hai Nara!" Sean yang tadinya sibuk membenahi tas pinggangnya, menoleh ke arah Nara.
      "Kameramu baru ya?" tanyanya.
      "Nggak, ini bekas pamanku," jawab Sean seolah-olah berbicara dengan orang asing.
      "Wah, kamu sekarang sudah tidak cuek lagi!" katanya sambil tersenyum.
      "Ah, biasa saja," elak Sean.
      Nara tersenyum. "Aku pergi dulu, ya, Dah!"
      "Dah!" balas Sean sambil melambai kecil.
 
    Nara pun sudah pergi bersama temannya, sementara Sean kembali sibuk memotret pertunjukannya dengan berdesak-desakan dengan masyarakat. Terbesit dalam benaknya bahwa ia bisa berbicara normal dengan Nara, padahal sebelumnya tidak. Ia mengangkat bahu tanda bahwa ia tidak mau mengingatnya.

      Sudah beberapa lama ini, dia tidak melihat Nara bersama dengan Gery. Ia selalu melihat mereka berdua di tempat yang berlawanan. "Apakah mereka tidak ingin bermesraan secara terang-terangan? Ah, sebaiknya aku biarkan saja mereka," pikir Sean.

       Sean tidak mempedulikan kisah asmaranya, meskipun sering muncul dalam benaknya, yang ia pedulikan adalah prestasinya yang paling rendah diantara teman-temannya yang seringkali membuatnya kesal dan pengendalian emosinya yang makin lama makin labil, sehingga membuatnya berhadapan dengan masalah baru.

       Well, begitulah kisah yang tidak jelas ini berakhir jika pembaca menganggap cerita ini adalah kisah romantis karena kisah ini diambil dari kisah nyata yang sudah diganti subyek dan obyeknya.

      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar