Pada siang itu, wanita berpakaian merah cerah itu terus
saja menatap ke arah jendela. Entah apa yang dilihatnya, padahal di luar sana
hanya ada halaman belakang kami dengan hujan deras yang terus turun sejak pagi
tadi.
Aku mulai mendekatinya dengan rasa
penasaran. Dengan susah payah aku berjinjit dan melompat-lompat untuk bisa
melihat apa yang ada di luar sana. Cukup sulit untukku melihat karena jendela
itu lihat sangat tinggi bagiku. Wanita itu tersenyum gemas ke arahku, lalu
mengangkatku untuk bisa melihat apa yang ia lihat.
Wanita yang saat ini tengah menggendongku
adalah ibu. Wanita yang selalu merawatku dengan sabar, memberiku pengetahuan
tentang apa yang ada di dunia ini, dan yang paling utama ialah yang memberiku kasih
sayang tiada duanya. Pandanganku mulai beralih ke luar jendela. Benar dugaanku,
di sana hanya ada halaman belakang kami yang penuh dengan beraneka macam bunga
dengan suasana yang teduh karena hujan.
“Viola...” Ibu dengan lembut memanggilku
sambil mengelus rambut pendekku.
Aku menoleh ke arahnya, tapi aku tidak
menjawabnya, aku hanya menatapnya dengan pandangan ingin tahu. Ibu menunjuk ke
arah bunga kesukaannya. Bunga itu berwarna semerah pakaian yang ia pakai saat
ini.
“Kamu tahu itu namanya bunga apa?” tanya
ibu lembut.
Aku menggeleng. Aku memang tahu kalau itu
bunga kesukaan ibu, tapi aku tidak tahu namanya. “Apa namanya, Bu?”
Ibu mulai beralih menatap bunga tersebut.
“Namanya bunga aster.”
“Ibu, mengapa ibu suka bunga itu?”
tanyaku polos.
Ibu tertawa kecil dan pandangannya seakan
menerawang sebuah kejadian yang tak akan pernah ia lupakan.
“Bunga
itu harta karun kedua ibu setelah kamu,” kata ibuku sembari menurunkanku. Ia
melepaskan kalung kuncinya yang tak pernah ia lepaskan itu dan memakaikannya
padaku.
“Maukah kamu menjaga harta karun ibu?”
tanya ibu lembut padaku.
“Ya!” kataku mantap.
Ibu tersenyum ke arahku, tapi mata ibu
terlihat berkaca-kaca. “Ibu menangis, ibu sedih?” tanyaku.
"Tidak, Viola. Justru ibu merasa senang. Sekarang, Viola mau ibu
ceritakan cerita apa?" Wajahnya mulai terlihat ceria kembali seperti
biasanya.
"Aku
mau cerita tentang si Coklat dan si Putih!" seruku ceria.
"Tapi, harus naik pesawat dulu, ya!" Ibu mengangkatku dan berputar-putar menuju ke kamarku.
"Hahaha!" Aku tertawa kegirangan, begitu juga dengan ibu. Rasanya cukup menyenangkan bersama ibu, meskipun
tanpa ayah.
Aku tidak
pernah tahu keberadaan ayah, bahkan aku tidak pernah tahu seperti apa wajahnya.
Aku juga tidak ingin menanyakannya pada ibu. Bersama ibu saja sudah cukup
bagiku
karena ibu selalu
membuat hari-hariku menjadi lebih baik pada saat banyak hal yang menyakiti hatiku di luar sana,
seperti
ejekan temanku di
sekolah karena aku tidak punya ayah tanpa alasan yang
jelas, bahkan banyak
yang menjauhiku karena hal itu.
Begitulah yang separuh kenangan bersama
ibu yang selalu kuingat. Kini, ibu tak lagi menatap jendela tersebut dan tak
lagi bersamaku di sini. Semua itu berawal saat aku dan ibu mengalami kecelakaan
ketika kami akan pergi berlibur bersama setahun yang lalu. Sejak saat itu pula,
aku selalu berada di dalam rumah dan halaman belakangku bersama sepupuku, Aira,
yang sekaligus merawatku.
Aira sudah terasa seperti kakakku
sendiri dan ia selalu kesal setiap kali aku menolak ajakannya untuk keluar
rumah. Aku tidak ingin keluar rumah karena aku ingin merasa tenang di halaman
belakang rumahku sekaligus mengenang hari-hariku bersama ibu.
Seharusnya aku tinggal bersama paman,
bibi, serta Aira, tapi ada sesuatu yang harus kutepati, sesuatu yang
mengharuskanku tinggal di sini sampai aku menemukan apa itu.
“Viola, sampai kapan kamu tinggal di sini
terus? Apa kamu tidak ingin bersekolah kembali?” tanya Aira yang sedang
mendorong kursi rodaku menuju ke halaman belakang.
“Sampai aku menemukan apa yang harus aku
jaga.” Aku menatap bunga aster merah kesukaan ibu dan mencoba memikirkan apa
yang ibu simpan pada bunga tersebut.
“Aku bingung dengan khayalanmu yang aneh
itu. Tidak bisakah kau merelakan bibi? Kami sangat khawatir padamu, apalagi
kondisimu sudah yang seperti ini.”
“Terima kasih kalian sudah
mengkhawatirkanku, tapi aku harap kalian juga bisa bersabar dan mengerti. Aku
hanya ingin memenuhi keinginan ibu.”
Aku memegangi kalung kunci yang ibu
berikan dulu sewaktu kukecil jauh sebelum kecelakaan itu berlangsung. Ibu tidak
memberitahuku kunci untuk apa ini, maka dari itu aku memutuskan untuk menetap
di sini sampai aku menemukan kunci untuk apa ini.
Aira menghela nafas. “Ya sudah. Terserah
kau saja, tapi mau tak mau dalam tiga hari ini kau harus siap meninggalkan
rumah ini dan tinggal bersama kami. Kamu ini baru tiga belas tahun, jadi aku
harap kamu juga bisa mengerti.”
Aira meninggalkanku sendiri di halaman
belakang. Aku memutar roda pada kursi rodaku untuk mengambil penyiram bunga.
Hari ini cukup cerah, sehingga halaman belakang rumahku tampak berkilauan
setelah aku menyiraminya. Bunga-bunga di halaman belakangku ditata secara
berkelompok, sehingga membuatnya terlihat indah. Bagaimana bisa aku
meninggalkannya begitu saja?
“Meow!” Tiba-tiba terdengar suara kucing
dari atas pagar yang membatasi halaman belakangku dengan rumah tetangga
sebelah.
Ternyata ada dua kucing di atas sana,
yang satu berwarna putih dengan mata biru dan yang satu lagi berwarna coklat
dengan mata hijau. Perhatianku mulai tertuju pada kedua kucing tersebut,
setahuku di daerahku ini jarang ada kucing karena mayoritas tetanggaku memelihara
anjing. Kedua kucing itu juga membuatku teringat pada cerita “Si Coklat dan Si
Putih” cerita kesukaanku yang selalu ibu bacakan untukku.
Setelah kedua kucing tersebut sudah
berjalan jauh dari pandangan mataku, aku kembali menggerakkan kursi rodaku
masuk ke dalam rumah. Sebenarnya aku bisa saja menggunakan tongkat untuk
berjalan meskipun hanya kaki kiriku saja yang teramputasi, hanya saja aku
merasa tidak mampu untuk berdiri. Rasa sakit di hatikulah yang membuatku
seperti ini.
Aku menoleh ke arah jendela yang mengarah
ke halaman belakang tersebut. Terkadang bayangan ibu yang menatap jendela
tersebut masih terlihat dalam padanganku seperti film tiga dimensi. Aku menuju
ke kamarku untuk membenahi beberapa barang-barangku untuk dibawa ke rumah paman
dan bibi.
Di kamarku, aku turun dari kursi rodaku
dan menyeret tubuhku mendekat ke lemari pakaianku, lalu kuambil pakaianku
satu-persatu dan kumasukkan dalam koper yang sudah ada di kamarku. Tiba-tiba,
aku merasakan ada kotak di paling bawah tumpukan pakaianku ketika aku mengambil
pakaianku. Aku mengambilnya dan ternyata itu adalah buku dongeng yang selalu
ibu bacakan setiap sebelum aku tidur atau ketika ibu punya waktu libur di hari
kerjanya.
Cerita kesukaanku adalah “Si Coklat dan
Si Putih” karena si Coklat dan si Putih adalah dua ekor kucing yang tak pernah
akur berpetualang mencari pemiliknya yang diculik. Aku juga suka ketika mereka
berdua akhirnya menjadi akur untuk bekerja sama menyelamatkan pemiliknya
tersebut, sedangkan ibu sangat menyukai cerita “Sang Pencari Imajinasi”.
Ibu selalu membaca cerita tersebut sambil
menatap ke luar jendela dan tersenyum seolah-olah ada seseorang di sana. Ibu
seperti tenggelam dalam dunianya sendiri ketika membaca cerita tersebut dan
wajah ibu terlihat sedih ketika ia sudah selesai membaca.
Cerita “Sang Pencari Imajinasi” berisi
tentang seorang gadis pengkhayal bergaun merah yang bisa melihat dunia khayalannya
dengan jelas seolah-olah itu benar-benar nyata, namun sedihnya gadis tersebut
pada akhirnya harus meningalkan dunia khayalannya tersebut karena ia harus
menghadapi dunia nyata yang harus ia jalani. Aku belum memahami sepenuhnya apa
yang ibu rasakan ketika membaca cerita ini. “Huft, aku harap aku tahu apa yang
ibu simpan,” gumamku.
“Prang!” Tiba-tiba, ada seseorang yang
melempari kaca jendela kamarku dengan batu dari halaman belakangku.
Aku terkejut dan kembali menaiki kursi
rodaku dan mengambil sapu yang ada di depan pintu kamarku, lalu aku
menggerakkan kursi rodaku menuju ke halaman belakang rumahku. Yang mengherankan
bagiku, tidak biasanya Aira berteriak marah, padahal ia paling tidak suka suara
gaduh di dalam rumah.
Sesampainya di depan pintu menuju halaman
belakang rumahku, aku mengintip di celah pintu tidak terlihat ada orang lain,
tapi pintu belakang terbuka. Aku mencoba memberanikan diri untuk keluar.
“Hey!” panggil seseorang yang
kedengarannya seperti anak laki-laki padaku.
Aku mencari keberadaannya, tapi tidak ada
siapapun yang terlihat. “K-kamu yang melempar batu ke jendela?” tanyaku gugup.
“Iya, memang kenapa?”
“Tidak baik melakukan hal seperti itu.”
“Maaf, hehe,” Ia tertawa. “Aku hanya
ingin membawamu ke suatu tempat.”
Aku
melihat kesana-kemari di sekitar halaman rumahku, tapi aku benar-benar tidak
melihatnya. “Sebenarnya kamu ada dimana?”
“Eh! Kamu tidak melihatku? Padahal aku
ada di depanmu,” Ia terdengar terkejut dan terdengar sedang menghela nafas.
“Coba kamu pejamkan matamu tiga kali.”
Aku menuruti perkataannya, kupejamkan
mataku tiga kali. Entah kenapa, aku merasa tak asing dengan perkataannya.
Setelah aku melakukannya, aku melihat
sosok anak laki-laki yang tersenyum jahil ke arahku. Aku mulai merasa lebih
baik dan meletakkan sapuku setelah aku tahu bahwa yang melempari hanya seorang
anak kecil yang jahil.
Tiba-tiba, dia mendorong kursi rodaku dengan
cepat dari belakang. Aku merasa seperti sedang diculik.
“Hey, aku mau dibawa kemana?!” teriakku.
“Rahasia!”
Ia mengarah ke sebuah pintu gerbang yang
berada dua belokkan dari rumahku. Pintu gerbang tersebut terbuka dengan
sendirinya dan di dalamnya terdapat sebuah taman paling indah dan besar yang
pernah kulihat.
Anak laki-laki tersebut kemudian berhenti
mendorong kursi rodaku. “Selamat datang di Imaginar!” serunya.
“Mengapa kamu membawaku ke sini?”
tanyaku.
“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,” jawabnya sambil berlari
menuju ke taman labirin.
“Hey, tunggu!” teriakku sambil memutar
roda pada kursi rodaku dengan cepat untuk mengejarnya, namun aku kehilangannya.
Pada akhirnya, aku berhenti di depan
sebuah pintu. Aku mencoba membuka pintu tersebut, tapi pintu tersebut
sepertinya terkunci. Beberapa saat kemudian, terfikir olehku untuk menggunakan
kunci yang ibu berikan padaku dulu dan berhasil. Begitu aku membukanya, sesuatu
di balik pintu tersebut seakan memberiku penjelasan yang cukup menjawab
pertanyaan-pertanyaanku tentang ibu.
Aku menangis sejadi-jadinya, ternyata
cerita dongeng yang ibu ceritakan padaku adalah khayalannya yang begitu indah baginya
dan kunci yang ia berikan padaku untuk menguatkan hatinya dalam menghadapi
kenyataan, bunga aster merah itu menggambarkan dirinya yang terlihat sendiri,
tapi sebenarnya ia tak sendiri. Ia bersama teman-teman khayalannya, termasuk
anak laki-laki yang membawaku ke sini.
Tergambar juga dalam pintu tersebut
bagaimana ibu dijauhi dan diejek oleh teman-temannya, sama seperti gadis dalam
dongeng tersebut dan bagaimana ayah meninggal sebelum ibu melahirkanku. Semua
yang ada dalam pintu itu seperti kenangan-kenangan ibu yang tersimpan.
“Akhirnya kamu mengerti,” ucap seseorang
di belakangku.
Aku memutar kursi rodaku. Ternyata
seorang gadis kecil dengan gaun merah yang cantik seperti gadis yang
digambarkan di dalam pintu tersebut berdiri di sana dan tersenyum ke arahku,
lalu ia mendekatiku dan memelukku.
“Aku harap kamu mengambil pelajaran dari
apa yang kamu ketahui ini. Sekarang sudah saatnya kamu kembali, pejamkan matamu
tiga kali.”
Aku kembali menangis dan memeluknya erat.
“I-ibu, sebelum itu Viola hanya ingin ibu tahu bahwa Viola sangat menyayangi
ibu.”
“Sekarang pejamkan matamu tiga kali.”
Aku menurutinya kupejamkan mataku tiga
kali, tapi untuk yang terakhir kalinya aku melakukannya dalam waktu yang lama.
Aku tak ingin hal ini berlalu begitu cepat. Setelah aku cukup puas, aku kembali
membuka mataku dan aku menyadari bahwa aku hanya bermimpi, mimpi yang terasa
nyata bagiku. Aku masih di sini, berada di halaman belakang. Air mataku keluar
begitu saja dari pelupuk mataku, aku senang sekaligus sedih karena akhirnya aku
tahu apa yang harus aku jaga dan perasaan ibu ketika menatap keluar jendela.
“Viola, kamu menangis?” tanya Aira dari belakang.
Aku langsung menghapus air mataku. “Aira,
ayo kita ke makam ibu besok!” ajakku.
“Baiklah.” Suara Aira terdengar seperti
tertegun mendengar ajakanku.
***
Keesokan paginya, kami berdua mengunjungi
makam ibu. Kami meletakan bunga pada makamnya dan mendo’akannya. Di hari
berikutnya, aku mengemasi barang-barangku dan bersiap pergi menuju rumah paman
dan bibiku. Dan pada saat ini, aku sudah kembali bersekolah dan sudah menggunakan
tongkat untuk berjalan. Aku juga tetap merawat bunga-bunga di halaman rumahku
yang saat ini berada di halaman depan rumah paman dan bibi, tapi aku tidak sendiri,
ada paman dan bibi, serta Aira yang membantuku merawatnya.

dari segi bahasa udah bagus alias mudah dipahami, tapi emosinya kurang dapet :-#
BalasHapusXD
oh begitu (c)
Hapus